Grimoire Dorothy Chapter 165

Bab 165: Kunjungan Rumah

Di kota atas Igwynt, berdiri Menara Cemara Cypress.

Siang itu, jauh di bawah tanah menara, Biro Ketenangan Igwynt sibuk seperti biasa. Lalu lintas petugas yang hilir-mudik membuat lorong-lorongnya penuh riuh langkah. Di tengah keramaian itu, Gregor berjalan dengan langkah mantap.

Meski lingkar hitam di bawah matanya masih terlihat dan wajahnya menyiratkan sedikit lelah, senyum tipis yang tak tertahan di bibirnya memperlihatkan suasana hati yang sedang terangkat.

Dengan langkah ringan, ia melewati kantor direktur lama yang kini dipalang papan. Dari jendela, Gregor melirik ke dalam: tanaman merambat dan sulur-sulur hijau tampak hidup, bergerak sendiri. Ia mengangkat tangan, seolah menyapa, lalu terus maju sampai ke depan pintu kantor direktur baru. Ia mengetuk sopan.

“Masuk.”

Mendengar suara yang sudah dikenalnya, Gregor mendorong pintu. Ruangan itu sempit, namun rapi. Di balik meja, James duduk tenang dengan senyum hangat.

“Tuan James, Anda ingin bertemu saya?”

“Duduklah dulu.”

Gregor mengangguk dan duduk di kursi depan meja. James tidak langsung bicara. Ia menyalakan cerutu, mengisapnya beberapa kali, lalu menyodorkan satu batang pada Gregor. Gregor menerimanya penuh terima kasih.

“Seorang Magang, hanya bermodalkan pipa baja dan batu bata, berhasil memojokkan seorang prajurit Black Earth di gang, memukulnya hingga pingsan, lalu menyeretnya kembali hidup-hidup. Selama bertahun-tahun aku berkecimpung di dunia tersembunyi, baru kali ini melihat hal semacam itu. Gregor, kau benar-benar membuka mataku.”

James terkekeh sambil mengembuskan asap cerutu. Gregor merendah, “Itu hanya keberuntungan. Entah bagaimana, Beyonder peringkat Hitam itu kehilangan bilah tulangnya, jadi sebagian besar kemampuannya lenyap. Karena itu aku bisa menaklukkannya. Kalau dia berada dalam kondisi yang sama seperti saat insiden Knight Street, aku pasti sudah kalah. Omong-omong, Tuan James, bagaimana keadaannya sekarang? Sudah siuman?”

“Dia sudah bangun, tapi otaknya terguncang parah, berkali-kali. Masih linglung. Mungkin butuh waktu sebelum kita bisa mengorek informasi berguna.”

James mengetuk abu cerutunya ke asbak. Sebenarnya ia sudah tahu lebih dari cukup. Belum lama, seorang utusan dari White Craftsmen’s Guild datang menjelaskan soal insiden Knight Street. James tahu bahwa semua itu bermula dari konflik pribadi, dan seorang anggota guild tanpa sengaja menyeret para Pemburu lokal. Guild bahkan menyatakan penyesalan dan menawarkan kompensasi.

“Gregor, alasan utama aku memanggilmu hari ini adalah membicarakan posisimu.”

James menuding Gregor dengan cerutunya. “Kau.”

“Saya?”

“Ya. Terlepas dari segala kebetulan, faktanya tetap: kau, seorang Magang, berhasil menangkap hidup-hidup seorang Black-rank. Seorang Bonesmith yang telah membunuh rekan-rekan kita dan mencelakai banyak warga sipil. Ini pencapaian besar. Sejak Biro Ketenangan Igwynt berdiri, belum pernah ada prestasi individu sebesar ini. Kau membawa kehormatan bagi biro. Merekrutmu jelas keputusan tepat.”

Gregor buru-buru merendah. “Saya hanya beruntung. Semua ini berkat bimbingan Anda, Tuan James.”

“Tidak perlu menyanjung. Aku bicara terus terang: pencapaianmu sudah kuajukan ke Biro Pusat. Mereka melihatmu sebagai talenta menjanjikan, dan mereka ingin kau ditempatkan di Tivian.”

James bersandar di kursinya, melambaikan tangan. “Sebagai hadiah, Biro Pusat menyediakan slot promosi untukmu. Begitu kau mengumpulkan cukup spiritualitas dan menunjukkan hasil baik selama masa observasi di Tivian, mereka akan mengatur ritual kenaikan peringkat Black Earth bagimu. Jadi mulai sekarang, fokuskan usahamu pada pengumpulan spiritualitas.”

Gregor terdiam beberapa saat, lalu bergumam lirih, “Biro Pusat… di Tivian? Promosi?!”

Malamnya, mentari yang meredup menebarkan cahaya jingga di sepanjang Jalan Bunga Matahari Selatan. Di bawah naungan pepohonan tinggi, Gregor—untuk pertama kalinya pulang kerja lebih awal—berjalan pelan menyusuri trotoar.

Namun wajahnya tetap muram. Pikirannya masih melayang pada percakapan sore tadi.

“Aku tak pernah menyangka… baru tiga tahun di Igwynt, aku sudah mendapat kesempatan ke Tivian. Dan… baru satu setengah tahun jadi Beyonder, sudah ada peluang naik peringkat…”

“Apakah benar aku yang dipilih? Apakah ini keberuntungan… atau takdir?”

Gregor berusaha meredam gejolak di dadanya. Jujur saja, ia selalu bermimpi naik peringkat. Jadi kabar dari James membuat hatinya bersemangat. Kesempatan ditempatkan di Tivian dan naik menjadi Black Earth—itu langkah besar dalam hidupnya.

Tapi kegembiraan itu terhimpit satu kekhawatiran: Dorothy.

“Dorothy baru sebentar sekolah di Igwynt. Kalau aku pergi, siapa yang menjaganya? Kudengar sekolah di Tivian kebanyakan hanya menerima bangsawan. Kalau kami benar-benar pindah, apa Dorothy bisa masuk sekolah yang layak? Apa memaksanya pindah tidak akan merusak studinya? Atau lebih baik dia tetap di sini, sementara Bibi Hannah dan keluarganya datang ke kota untuk merawatnya…?”

Dengan pikiran bercampur aduk, Gregor tiba di gedung apartemen. Ia menaiki tangga yang familiar, merogoh kunci, lalu membuka pintu.

Di ruang tamu, dua sosok sudah duduk.

Yang satu adalah Dorothy, adiknya, santai di sofa. Di seberangnya, seorang pria tua dengan setelan rapi dan topi duduk tegak. Rambutnya memutih, mata setengah terpejam, memancarkan keramahan.

“Ah, Gregor, kau pulang? Lebih awal hari ini,” sapa Dorothy.

Gregor yang terkejut menjawab cepat, “Ya, akhirnya aku tidak lembur. Dorothy, siapa…?” Tatapannya beralih pada pria tua itu, bingung.

Dorothy tersenyum. “Ini Pak Dean, salah satu guruku di sekolah. Beliau datang berkunjung untuk membicarakan beberapa hal.”

Pria tua itu berdiri perlahan, masih dengan ekspresi ramah. Ia menjabat tangan Gregor. “Senang berkenalan, Pak Mayschoss. Saya guru di Sekolah Saint Armanda. Saya datang untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan Nona Mayschoss. Semoga kedatangan saya tidak merepotkan.”

Gregor tertegun sesaat. Hatinya diserbu rasa cemas.

“Kunjungan rumah guru? Jangan-jangan… Dorothy membuat masalah di sekolah?!”

No comments:

Post a Comment