Showing posts with label Abnormal State Skill. Show all posts
Showing posts with label Abnormal State Skill. Show all posts

Novel Abnormal State Skill Ilustrasi Volume 12

Volume 12 (Catatan Ilustrasi) ⚠️ Seperti biasa, ada spoiler di bawah ini.






Kiri: Wormungandr

Tengah: Ars

Kanan: Yomibito




Yasu Tomohiro.

Ya, sepertinya memang dia. Awalnya kupikir Mad Emperor karena pakaiannya, tapi setelah kulihat perban itu…… iya, pasti Yasu.



Lieselotte Ornick, si laba-laba tsundere.

Sama sekali nggak kubuka ulang novelnya demi ingat namanya…… sumpah 😅



Chibi Loqierra.

Ya ampun, kelihatannya benar-benar seperti kepala yang baru saja tumbuh badan.



Sogou Ayaka.



Fugi dan Munin.




Serius nih, dua gambar cowok ini?

Kenapa harus dua kali?



Ayaka VS Wormungandr.

Ngomong-ngomong, pertarungan mereka itu memang selesai? Atau otakku yang nge-blank dan lupa detailnya?



Takao Itsuki dengan fanservice khas Takao Bersaudari yang memang selalu saja ada.



Mungkin bukan kemenangan sempurna, tapi tetap saja——— itu kemenangan.


Novel Abnormal State Skill Chapter 423

423 - Menuju Tahap Akhir / Pertempuran Pertahanan Sacred Eye

Novel Abnormal State Skill Chapter 422

422 - Musuh Terakhir



<Goddess Vysis POV>

Aku membenci manusia.

Aku benar-benar tak bisa menahan rasa benci itu.

Dulu maupun sekarang.

Terutama pada manusia.

Setiap kali mereka terlihat bahagia, selalu ada rasa tidak pantas yang menusuk.

Menjijikkan.

Perasaan itu tak pernah berubah.

Kebahagiaan makhluk bernama manusia seharusnya tidak dibiarkan berlangsung lama.

Menderita—itulah esensi manusia, itulah yang seharusnya memberi mereka makna.

Kebahagiaan, paling jauh, hanyalah bumbu kecil yang ditabur di antara penderitaan.

Bukan hakikat mereka.

Hanya dengan menderita hingga akhir, barulah mereka bisa disebut manusia.

Bergulat, meronta—dan pada akhirnya, semua usaha itu sia-sia, tak berarti apa-apa.

Itulah artinya menjadi manusia.

———Sebenarnya, apa-apaan sih mereka itu?

Serangga kecil ini selalu berlari-lari mendekat, melaporkan setiap hal baik yang menimpa mereka.

“Goddess-sama, tempo hari aku———–”

“Goddess-sama, tolong dengarkan! Sebenarnya————”

“Goddess-sama, aku———–”

Mengoceh soal sampah tak penting yang tidak pernah kuminta.

Dan aku pun menjawab,

“Oh, sungguh luar biasa.”

Sambil tersenyum.

Karena itu lebih mudah.

Kalau aku memperlihatkan kekesalan, itu malah menimbulkan masalah lain.

Mereka langsung panik, bertanya-tanya apa kesalahan mereka.

Dan sikap itu———menjengkelkan lagi.

Aku ingin berkata, “Segala hal tentangmu itu menjengkelkan.”

Tapi kalau benar-benar kukatakan, situasi hanya jadi makin menyebalkan.

Jadi aku “membiarkannya lewat” dengan senyuman.

Namun, jujur saja, jauh di dalam———

“Aku peduli apa? Enyah saja, mampuslah.”

Begitulah perasaanku.

———Ugh. Menjijikkan.

Apa untungnya bagiku mendengar tentang kebahagiaan kalian?

Dulu pernah ada seorang manusia yang berani berkata padaku:

“Vysis-sama, Anda agak salah paham. Saat mereka berbagi kabar baik, itu bentuk rasa terima kasih pada Anda. Berkat Anda, sesuatu yang indah terjadi dalam hidup mereka. Tentu, bukan hanya pada Anda saja, mereka juga ingin berbagi rasa syukur itu pada orang lain, walau untuk hal kecil sekalipun.”

Lalu kenapa?

Apa yang kudapat dari ucapan terima kasih makhluk rendahan, bodoh, dan berumur pendek itu?

Orang yang berani bicara omong kosong itu, segera kucari alasan untuk menjebloskannya ke penjara.

Setelah disiksa sekian lama, dia akhirnya dieksekusi di depan umum.

Lalu aku terus menghantui keluarganya, mencari-cari alasan untuk menyiksa mereka sampai hancur tak bersisa.

………………………………

Pada akhirnya, makhluk ini……

Mereka hanya menggunakan keberadaan seorang Dewi untuk memuaskan keinginan sendiri.

Dengan kata lain, itu hanyalah eksploitasi pribadi terhadap seorang Deity.

Nafsu busuk dan menjijikkan manusia.

Dan yang terburuk———sebagian besar dari mereka menyembunyikannya dengan topeng kesopanan.

Kupretel sedikit saja, dan yang tersisa hanyalah kotoran dan kebejatan.

Ya———akulah yang digunakan.

Aku yang sebenarnya korban sesungguhnya.

Itu berarti aku punya hak untuk melukai manusia.

Sudah sewajarnya.

Tak terelakkan.

Karena sebagai korban, apa pun yang kulakukan pada para pelaku selalu benar.

———Oh, kalau kupikir-pikir……

“Tergantung situasi, korban dan pelaku bisa jadi dua sisi koin yang sama. Kadang, ada pembalikan peran yang mengerikan.”

Itu omongan si tak berguna Wormungandr……

Apa maksudnya aku mungkin juga punya sisi sebagai pelaku?

———Jangan konyol.

Tak ada korban yang lebih murni dan mutlak daripada aku di dunia ini.

Sebagai korban, tak ada kekejaman yang kulakukan pada para pelaku bisa disebut salah.

Aku telah menahan segalanya begitu lama.

Jadi “balas dendam”-ku tak lain hanyalah tindakan yang sah.

Itu berarti, aku terlalu benar.

Karena———

Dari awal sampai akhir, akulah korban.

Benar.

Jika aku ingin membungkam mereka, aku tak punya pilihan selain membuat hidup mereka sengsara.

Aku harus mengembalikan mereka ke jati diri mereka———kembali menjadi manusia sejati.

Bahkan jika itu tugasku sebagai seorang Deity.

Bagaimanapun, siang dan malam———mereka membuatku jijik.

Selalu begitulah aku diperlakukan.

Oleh makhluk bernama manusia ini.

…………………..

Tidak…… kalau kupikir lebih jauh, mungkin targetku bukan terbatas pada manusia saja.

“Orang lain bahagia, sementara aku tidak.”

Mungkin keadaan itu sendiri yang membuatku muak.

Aku ingin semua makhluk selain diriku menderita lama, sangat lama.

Yang boleh mereka miliki hanyalah———ya, momen kecil kebahagiaan.

Tak mungkin makhluk rendahan pantas menikmati kebahagiaan yang berkepanjangan.

Tepat sekali.

Aku tak bisa membiarkannya.

———Seperti yang kuduga, akulah korban sejati.

Ahhh……

Betapa menyedihkannya aku.

Dan karena itu———aku akan membunuh mereka.

Sampai tuntas.

Terutama yang kubenci, akan kusiksa sampai mereka menangis.

Jangan berani-berani menjadi sesuatu lebih dari sekadar mainanku.

Aku melangkah di dalam labirin putih nan sunyi.

[……………………..]

Rasanya sudah lama sekali aku menghadapi diriku sedalam ini.

Langkah kakiku menggema pelan saat menuruni tangga kastil.

Namun gema itu cepat ditelan dinding, menyisakan keheningan.

Bagian dalam kastil tetap membisu.

Hampir seolah-olah aku adalah orang terakhir yang tersisa di dunia.

Tanpa kusadari, aku menggigit ibu jariku sendiri.

Untuk dipusingkan oleh makhluk rendah———sekadar mainan ini……

Benar-benar keterlaluan.

Aku merenungi situasi sekarang.

Bagaimanapun juga———aku harus menyiasati mereka.

Mengacaukan mereka.

Prediksi mereka.

Strategi mereka.

Tetap waspada pada Touka Mimori itu sudah jelas……

Tapi yang paling harus kuwaspadai———adalah pengguna Forbidden Curse.

Yang pertama-tama harus dieliminasi adalah si Forbidden Curse-user itu.

Munin, ya?

Namun, pasti mereka akan melakukan apa saja untuk melindunginya.

———Sebaliknya, itu berarti dia adalah titik lemah musuh, kan?

Jika prioritas utama mereka adalah melindungi Forbidden Curse-user……

Maka kemungkinan besar formasi sisanya akan punya celah.

Kalau aku menyerang, sebaiknya mulai dari sana, bukan?

Dan kemudian……

Dalam hal kekuatan tempur murni, yang paling merepotkan adalah Seras Ashrain.

Untuk berjaga-jaga……

Aku juga harus menaruh Ayaka Sogou di benak.

Aku meremehkan seberapa keras kepala sampah-sampah ini.

Dan itulah kelalaianku yang berujung pada situasi sekarang.

[———Fufu————-]

Kesulitan?

Untuk Goddess Vysis ini?

———Tidak. Ini hanya sementara.

Sekarang aku memang harus hati-hati.

Aku menekan kebencian dan kegelisahan yang mendidih di dalam diriku.

Jujur saja, aku ingin segera keluar dan menghancurkan mereka tanpa pikir panjang.

Tapi aku tak bisa. Aku harus tenang.

Kalau aku kehilangan kendali sekarang———si serangga sialan itu akan mendapatkan yang diinginkannya.

Tetap saja, menjengkelkan.

Kenapa aku, dari semua makhluk, harus menahan amarah demi menghadapi kehidupan rendahan ini?

[………………..Bajingan-bajingan……]

Mataku menghitam, seolah tinta menelan bagian putihnya.

Kegelapan membanjir, seperti kehampaan tak berdasar.

[………………..]

Ada sesuatu lagi…… yang menggangguku.

Situasi di Sacred Eye Jonato———di Azziz.

Pasukan Sacrament yang kukirim seharusnya sudah tiba di sana.

Jumlahnya banyak, bahkan lebih kuat daripada yang kulempar ke labirin.

Namun…… berdasarkan status Sacred Treasure, Sacred Eye masih aktif, tak berubah.

[Kalau begitu———— Apa ini ulah Kirihara yang hilang?]

Dari semua kekuatan besar yang belum terhitung, selain yang berkumpul di Ibukota———

Hanya Kirihara yang mungkin mampu menandingi pasukan Sacrament itu.

Kecuali…… kalau Civit Gartland entah bagaimana masih hidup dan membantu mereka.

Tapi…… itu pun tidak masuk akal.

Bagaimanapun aku mencoba, tak terbayang Kirihara mau memihak siapa pun.

Apalagi melakukan sesuatu yang menguntungkan Touka Mimori.

Dari awal———bisakah orang sepertinya benar-benar berubah?

[…………………..]

Itu jelas mustahil.

Terutama bagi seseorang dengan pola pikir seperti dia.

Bahkan dibanding Yomibito atau Ars, Pahlawan dari Dunia Lain itu punya kegilaan tersendiri.

Fanatisme egois.

Rasa superioritas yang tak tergoyahkan.

Keyakinan mutlak pada dirinya sendiri.

Ego menjijikkan yang membengkak tanpa batas.

Dari situlah lahir logika delusinya yang tertutup rapat.

Segalanya demi dirinya———dan karena dia ada, maka segalanya ada.

Orang seperti itu…… bisakah pernah menunduk pada Fly King?

Jika itu Takuto Kirihara……

Dia tak akan pernah mentolerir bayangan saja bahwa dia melayani orang lain, meski secara tidak langsung.

Tidak———mustahil.

Terlalu mengada-ada.

———Lalu kalau begitu…… siapa?

Aku meragukan Jonato punya kartu truf lebih kuat dari Sacred Knights.

Kalau mereka punya, pasti sudah digunakan saat invasi besar sebelumnya.

“Berarti…… bisa jadi mereka punya Anarveil atau seseorang yang terkait dengannya……”

Apa Anarveil memberi mereka alat sihir khusus yang kuat?

Itu satu-satunya kemungkinan yang bisa kupikirkan.

Kalau kucari jawaban lain…… aku hanya kembali ke titik semula.

Tanpa sadar, langkahku semakin cepat.

Apa ini?

Apa yang ada di Azziz?

Apa yang sebenarnya menghalangiku?

Serius———apa?

[………………….]

Kuhantamkan Sacred Treasure untuk memverifikasi Sacred Eye ke lantai.

[Astaga…… bajingan terkutuk, semuanya!]

Aku berhenti dan menempelkan tangan ke dadaku.

Tenang.

Aku tak boleh membiarkan emosi mengacaukan pikiranku.

Sekarang, aku harus fokus pada rencana apa yang mungkin sedang disusun Touka Mimori.

Yang terpenting, aku harus memusatkan segalanya demi meraih kemenangan di labirin ini.

Aku harus menyingkirkan mereka.

Makhluk-makhluk jahat itu.

Musuh keji yang berani menghalangi jalan Tuhan.

Ini pertempuran untuk menyelamatkan duniaku.

Pertempuran yang layak———sebuah ujian.

Ya, ujian ilahi.

Aku meneguhkan tekadku.

Aku tak boleh membiarkan kebencian menggoyahkan emosi.

Sekarang waktunya menghadapi ini dengan serius.

Rasa takut ini.

Akui saja.

Akui bahwa aku takut.

Akui bahwa aku dalam kesulitan.

———Betapapun menjengkelkannya.

Namun aku akan mengatasinya.

Rasa takut ini, bahaya ini……

Pertama, aku harus menerima segalanya. Menyeimbangkan emosiku. Menjernihkan pikiranku.

Akui.

Touka Mimori adalah…… lawan yang tangguh.

———Dan itu membuatku murka sampai ke sumsum.

Aku tak boleh meremehkannya.

Aku harus membalas dengan presisi dingin.

Saat itu, aku merasa sesuatu yang luhur terbangun dalam diriku.

Aku akan menang.

Aku akan bertahan dari penderitaan ini dan menoreh masa depan yang gemilang.

———Dan segala hal tentang ini membuatku muak.

Aku tak boleh kalah dari kejahatan.

Pertempuran ini adalah taruhan eksistensiku.

Mungkin, musuh sejati bahkan bukan Fly King dan yang lainnya.

Mungkin…… musuh sebenarnya adalah diriku sendiri.

Ya, pertempuran melawan sifatku sendiri.

————————————Dan semakin kupikirkan, semakin marah aku dibuatnya.

Bajingan kecil……

Aku mendongak, menatap langit-langit, lalu————

Aku berteriak.

Jika ada yang mendengarnya, telinga mereka pasti terkoyak oleh jeritan itu.

Jeritan yang begitu mengerikan, menembus, hingga dinding pun seakan tak mampu meredamnya.

Aku tak peduli jika musuh mendengarnya.

Kalau mereka datang, biarlah datang.

Itu jeritan panjang———sangat panjang.

Setelahnya, aku menutup mata pelan.

Menghela napas dalam-dalam.

[……Fuuuu……]

Setelah melampiaskan jeritan penuh itu, aku berhasil sedikit lebih tenang.

Ya, aku harus tetap tenang……

Dengan pikiran itu, aku kembali berjalan, perlahan dan mantap.

Warna kembali ke mataku.

Senyuman percaya diri kembali menghiasi wajahku.

Namun, sekejap kemudian———ekspresiku berubah buas, dan aku langsung melesat maju dengan kecepatan mengerikan.

[AKAN KUPUKULI KALIAN SAMPAI MATI, SATU PER SATU!!!]


<Catatan Penulis>

Terima kasih banyak atas kesabaran kalian.

Mulai dari bab ini, bagian terakhir dari arc final “I Became the Strongest With The Failure Frame【Abnormal State Skill】As I Devastated Everything” resmi dimulai.

Awalnya aku sempat ragu, apakah benar karakter ini yang paling tepat untuk membuka bagian terakhir ini. Tapi di sisi lain, justru mungkin dialah tokoh yang paling cocok untuk memulai penutup kisah ini.

Aku sungguh minta maaf atas lamanya jeda update kali ini. Niatnya hanya mengambil waktu istirahat dan menyegarkan diri, tapi ternyata tekanan menjelang arc terakhir jauh lebih berat daripada yang kuduga. Selain itu, aku juga baru sadar banyak hal sehari-hari yang terabaikan selama setahun terakhir, jadi aku butuh waktu untuk membereskan itu semua.

Targetku tetap menuntaskan seri ini dalam tahun ini. Namun, aku tidak ingin terlalu terjebak pada tenggat. Prioritas utamaku adalah membawa cerita ini ke sebuah akhir yang benar-benar bisa membuatku puas. Yang jelas, selama aku tidak jatuh sakit parah atau meninggal, seri ini pasti akan selesai paling lambat tahun depan. (Aku tidak berpikir akan berlarut-larut sampai bertahun-tahun).

Oh ya, setelah update terakhir, aku menerima sebuah review. Terima kasih banyak atas itu.

Dengan ini, semoga kalian bisa menikmati bagian terakhir dari arc final.

Novel Abnormal State Skill Chapter 421

421 - Dia yang Menjadi yang Terkuat dan Menghancurkan Segalanya



POV Dewi Vysis

Istana Kerajaan Enoh —— Ruang Tahta.

Duduk di atas takhta, aku menatap kepala Loqierra yang remuk.

Gelisah, kakiku menghentak lantai. Sambil menggigiti kukuku———

Bam!

Aku menghantam meja di sampingku dengan sekuat tenaga, menghancurkannya berkeping-keping.

[……Sampah sialan.]

Tak pernah terpikir olehku kalau Loqierra bisa menciptakan klon juga.

Gumpalan daging putih yang tergeletak di karpet itu…… kepala itu bukan yang asli.

Kecurigaan berkelebat dalam benakku.

(Kepala yang ditinggalkan Loqierra di sini……)

Seberapa banyak yang sudah dilihatnya?

Apakah informasi mengalir langsung kembali pada Loqierra lewat benda itu?

Seberapa banyak informasi yang bocor?

(Tidak……)

Mengingat kembali di mana kepala itu diletakkan, seharusnya ia tidak mendapat informasi penting.

[……………………]

Lupakan itu. Saatnya ganti arah pikir.

Pengkhianatan Asagi Ikusaba.

Aku sudah memperkirakan adanya pengkhianatan.

Namun cara itu terjadi——— tindakannya terlalu sempurna.

……Apa itu hanya sandiwara?

Saat dia mengaktifkan Unique Skill-nya, Asagi sendiri tampak benar-benar terkejut.

Seolah…… dia pun tak merencanakan apa yang terjadi.

Aku salah menilainya.

(Tidak, sejak awal———-)

Adalah kesalahan besar mempercayakan sesuatu pada kekuatan sampah dari dunia lain itu.

Belum lagi, para Pelayan Ilahi ternyata jauh lebih tidak berguna daripada bayanganku.

Mereka bahkan nyaris tak bisa membunuh seorang pun Pahlawan.

Paling banter, mereka hanya berhasil menjatuhkan Asagi Ikusaba.

Benar-benar tak berguna——— dari lubuk hatiku yang terdalam, mereka menjijikkan.

Kumpulan orang bodoh.

Menyedihkan.

Dan lebih buruk lagi, si brengsek Hijiri itu masih hidup.

Lebih parah, dia bahkan berhasil mengalahkan seorang Pelayan Ilahi——— Yomibito.

Serius? Keraguan lain menggigiti benakku.

Apakah Kirihara, Oyamada…… bahkan Yasu juga masih hidup?

Apakah mereka sekarang berpihak pada musuh?

———-Konyol.

Kalau memang mereka sekuat itu, mustahil mereka menyembunyikannya selama ini.

Mereka sudah mati…… atau setidaknya tak berdaya.

Ketiganya.

(……Tapi di atas segalanya,)

Fly King——— Touka Mimori.

Baik Ars maupun Wormungandr bertemu dengannya…… dan mati.

[Hambatan terbesar di sini jelas si lalat busuk itu…… Touka Mimori.]

Dan lebih parah lagi.

Yang membuat lalat busuk itu makin merepotkan adalah Seras Ashrain.

Kalau kupikir-pikir…… sejak awal, semua ini dimulai dari pelarian Elf terkutuk itu.

Kalau saja dia tak melarikan diri, Lima Ksatria Naga——— Civit tak perlu mengejarnya.

Dan karena itu, Civit mati, lalu Seras berakhir menjadi pion si lalat.

Apa-apaan itu?

Dia bisa menahan semua serangan Wormungandr, bahkan ketika dia bertarung habis-habisan?

Aku tak pernah dengar dia sekuat itu.

Saat ini…… dia hampir setara dengan Civit.

……Sialan.

Sialan, sialan…… sialansialansialan sialaaaaaaan————!

[Sialan semuanya.]

Aku menutupi wajah dengan kedua tangan.

Rasanya ingin muntah.

Tak ada——— benar-benar tak ada satu pun yang berjalan dengan benar.

Tidak sama sekali.

Sacred Eye masih belum dihancurkan.

Apa sebenarnya yang dilakukan orang-orang yang kukirim ke Azziz?

Kenapa butuh waktu selama itu?

Mereka tak lebih dari sampah tak berguna.

[……Semuanya.]

Pria itu.

Ini semua gara-gara dia.

Segala sesuatu yang kulakukan——— dia selalu menghalangiku.

Satu demi satu.

Semua yang kubangun…… diinjak-injak ke tanah.

Kenapa…… Kenapa semua yang kulakukan———

Kenapa semuanya harus dihancurkan?

Oleh sampah busuk itu———

[Andai saja dia tak pernah ada……! Pada akhirnya, semua ini———–]

Semua salah dia.

Semuanya salah dia, salah dia, salah dia, salah dia……

[ KAU PASTI SEDANG MENGEJEK-KU! ]

Bam!

Aku menghentak lantai, mata melotot penuh amarah.

Lalu tiba-tiba, kata-kata yang pernah kudengar lewat klonku——— perkataan Asagi, muncul kembali di benakku.

“Daripada membuangnya, seharusnya kau tetap menjaga dia dekat dan pastikan untuk menyingkirkannya sejak awal.”

Menyebalkan, tapi…… soal itu dia benar.

Seharusnya aku tidak repot-repot “membuang” dia.

Aku harus langsung membunuhnya.

Pastikan dia benar-benar mati.

Sekalipun itu menimbulkan distorsi pada dimensi.

[……………….]

Unique Skill Touka Mimori.

Pada akhirnya, itu ternyata faktor terburuk dari semuanya.

Kalau bukan karena Skill itu———— dia tak akan pernah jadi ancaman.

Dia tak lebih dari sampah E-Rank.

Ya…… Abnormal State Skill itu————–

……Skill itulah yang mendorong Touka Mimori menjadi ancaman terbesar——— yang terkuat di antara mereka semua.

[……Ini tidak lucu. Sama sekali tidak lucu. Benar-benar——— teramat menjengkelkan…… amat sangat menjengkelkan.]

Bahwa aku dipermainkan oleh sampah tak berguna.

Tak tertahankan, dari lubuk hatiku.

Mendidihkan darahku.

Kapan terakhir kali aku merasa semarah ini?

Meski begitu……

Pada akhirnya, dia hanya seekor serangga.

Apa yang perlu ditakuti?

[……………….]

Dan lalu——— kesadaran itu menamparku.

Kenapa?

Kenapa aku menyerahkan semuanya pada klon, bukannya turun tangan sendiri?

Kalau tubuh asliku mendukung Pelayan Ilahi itu, bukankah hasilnya akan berbeda?

Aku melirik sekeliling ruang tahta.

“Menunggu di sini, tempat Formula Sihir Penguatan telah dipahat.”

Menunggu Sacred Eye dimatikan……

Itu seharusnya jalan paling aman menuju kemenangan.

Di domain ini, mustahil ada kekalahan.

Bahkan melawan Seras.

Bahkan melawan Ayaka.

Jika aku bertarung di sini——— tak ada kemungkinan kalah.

Itulah kenapa aku tidak salah.

Tidak dalam hal apa pun.

(Ya……)

Menggunakan Pelayan Ilahi dan klon-ku untuk mengumpulkan informasi tentang sampah pemberontak itu.

Untuk mengetahui sejauh mana kekuatan tersembunyi mereka.

Gaya bertarung mereka.

Kelemahan mereka.

Dengan semua itu, ketika tiba saat “pertarungan terakhir” di sini, aku bisa bertarung jauh lebih aman.

Dan bila sampah itu kelelahan sepanjang jalan, terluka parah, berkurang jumlahnya———

Itu akan makin mudah.

Kemenangan pasti ada di tanganku.

[………………….]

……Benarkah itu pilihan yang tepat?

[————————-Apa mungkin?]

Ini…… mungkin sudah berulang kali disiratkan padaku, tapi……

(Aku——–)

……takut?

……takut pada si lalat busuk——— Touka Mimori……?

(……takut pada bocah busuk itu……? Aku……?)

Dari kelihatannya, Hijiri dan Itsuki sudah tidak bisa bertarung lagi.

Tidak…… mungkin Hijiri masih bisa memaksakan diri untuk kembali ke pertarungan.

Seingatku, Hijiri belum sampai kehabisan MP.

Tetap saja, kalau dia kesulitan menghadapi lawan sekelas Yomibito…… dia tak lebih dari remah kecil.

Lagipula……

Dia hanyalah sampah yang bisa mengalahkanku ketika aku sedang dilemahkan oleh Miasma Sang Tirani.

Ayaka Sogou juga bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Jelas-jelas dia lebih lemah dari Wormungandr.

Wormungandr memang tak berguna karena keyakinannya yang konyol, tapi……

Yah, sejak Sakramen buatan dari Agito itu muncul, Ayaka praktis tersingkir dari permainan.

[Fufufu, bocah polos itu mungkin hanya akan menangis tersedu-sedu dan tergeletak tanpa bisa melakukan apa-apa♪ Sayang sekali aku tak bisa melihat wajah Ayaka saat dia menyadari apa yang terjadi pada Agito……]

Artinya———– yang benar-benar menyebalkan hanyalah lalat sialan itu.

Loqierra memang merepotkan juga, tapi dia tidak punya kemampuan tempur nyata.

Selain itu, aku sudah dipertegas khusus untuk menghadapi para Deity.

Ras Terlarang yang gagal kuhapuskan bukanlah ancaman secara individu.

Itulah sebabnya——— analisis Asagi benar sekali.

Kekuatan terbesar mereka terletak pada Touka Mimori———

[Dan di saat yang sama, kelemahan terbesar mereka juga Touka Mimori.]

Dengan kata lain, rintangan terbesar…… adalah raja dari lalat-lalat itu.

Dia———- dialah penyebabnya.

Dari segalanya.

Segalanya…… Segalanya, segalanya——— Segalanya!

[Fuuu……]

Tenanglah.

Pikirkan.

Kenapa aku bahkan mengasumsikan kekalahan?

Aku bisa menang dengan mudah.

Selama aku tetap berada di dalam ruang ini, yang diukir dengan Formula Sihir Penguatan———–

[—————–]

Dan saat itu, aku menyadarinya.

(Tunggu……)

Apa lalat itu…… sudah memperhitungkan hal ini……?

Kalau Loqierra ada di sekitar sini, dia pasti tahu soal Formula Sihir Penguatan.

Atau mungkin ada sesuatu yang bocor lewat Nyantan.

Apakah lalat itu…… benar-benar akan menerobos langsung masuk ke ruang tahta……?

Benarkah dia tidak punya langkah antisipasi?

……Tidak.

Mereka berasumsi aku takkan tinggal diam———– bahwa aku pasti akan mencoba sesuatu.

Tidak mungkin lalat itu begitu saja menari mengikuti iramaku.

Pertempuran kami sebelumnya sudah membuktikannya.

Kalau begitu, tetap di sini———– bisa jadi langkah yang buruk.

……atau justru memang itu tujuannya?

Mungkin…… itulah yang mereka incar……

Membuatku berpikir demikian dan meninggalkan posisiku.

Tapi apa yang bisa mereka lakukan?

Apa yang bisa dia lakukan?

[……………….]

Kalau kuingat semua yang terjadi sejauh ini……

Mereka akan melakukan apa pun.

Lalat itu akan memeras sesuatu entah dari mana.

Dengan tekad semata.

Dengan keteguhan murni.

[Sial…… sialan……! Bocah brengsek itu……!]

Labirin Genesis.

“Siapa pun yang tersesat di dalamnya, bisa jadi bukan tersesat di lorongnya…… melainkan di dalam labirin pikirannya sendiri.”

Aku ingat pernah mendengar itu sekali.

……Sungguh konyol.

Bahwa yang menciptakan labirin ini……

————-justru dirinya sendiri yang tersesat di dalam labirin pikirannya.

[Kuh……]

Apa yang harus kulakukan?

Apa langkah yang benar?

Menunggu?

Seharusnya aku menunggu, kan?

Ya…… mungkin bergerak gegabah justru yang diinginkannya.

Mungkin dia ingin memancingku keluar dari sini.

Benar——— aku akan menunggu.

Aku harus menunggu.

Menunggu adalah jawaban yang benar.

[……………………………………]

Namun———— aku bangkit dari tahta.

Itu takkan berhasil.

Lalat itu mungkin sudah memperhitungkan aku yang tetap tinggal di sini.

Karena jelas-jelas, bertahan di ruang tahta memberiku peluang menang yang lebih tinggi.

Kalau dipikir secara rasional……

Siapa pun akan memilih opsi dengan peluang menang lebih besar.

Terlebih lagi untuk pertarungan krusial.

Aku juga begitu.

Kalau aku berdiam menunggu di sini, hampir tak ada celah untuk dieksploitasi.

Dan justru di situlah mereka akan menyerang.

Ya.

Aku harus menjadi “yang tak terduga”.

Aku harus bergerak di luar perhitungannya——— menyalip langkahnya.

Aku harus mengacaukan mereka.

Mengguncang strategi hati-hati yang sudah mereka bangun.

Aku menerobos keluar dari ruang tahta———– dan melompat ke koridor.

Misalnya, ketika kau tersesat di hutan di malam hari———–

Sering dikatakan bahwa diam di tempat justru pilihan yang lebih baik.

Kalau kau bergerak tanpa arah, kau berisiko makin tersesat, melangkah lebih jauh ke wilayah tak dikenal.

Bahkan terkadang, kau bisa saja berakhir di tempat yang tak pernah diduga tim penyelamat.

Kau akan membuang tenaga, dan bahaya justru makin besar.

Namun tetap saja……

Banyak orang tak bisa menahan dorongan untuk bergerak.

Bahkan para Deity, dengan naluri mirip manusia———–

Setidaknya Vysis merasakan dorongan itu.

Dia tak bisa menahannya.

Kebanyakan makhluk memang tak mampu menanggungnya.

Hanya berdiam diri.

Tetap tak bergerak hanya akan memelihara kecemasan, membuatnya membesar semakin besar.

Terutama ketika kau terkurung dalam kegelapan.

Kalau kebetulan kau membawa senter, itu malah lebih buruk.

Cahaya itu akan menggoda——— membuatmu ingin bergerak.

Membuatmu percaya kau akan menemukan keselamatan lebih cepat bila bergerak.

Kau mulai meyakinkan dirimu bahwa bergerak adalah keputusan yang benar.

Tentu saja……

Ada saat di mana itu memang pilihan tepat.

Tapi pada akhirnya, semua hanya bisa dihakimi setelahnya.

Namun, pada saat ini, bagi Vysis———–

Dia sama sekali tak mampu menahan pikiran untuk tetap diam menunggu.

Saat aku berjalan menelusuri kastil yang telah berubah menjadi labirin, aku sudah membuat keputusan.

Dark Purple Gems.

Membuat satu saja memakan waktu sangat lama.

Masalahnya, aku hanya bisa membuatnya satu per satu.

Jadi aku terus melakukannya, sedikit demi sedikit……

Aku terus menciptakannya.

Dan akhirnya, aku berhasil mengumpulkan sebanyak ini——— sumber kekuatanku.

Semua demi mempersiapkan pertarungan di langit.

Untuk melawan Chief Deity Origin dan Thesis sang urutan kedua.

Namun———– untuk saat ini, semua itu kutangguhkan.

Sekarang, yang kuinginkan hanyalah menyingkirkan lalat itu.

Melenyapkannya.

Aku melemparkan kelima Dark Purple Gems yang kugenggam ke mulut sekaligus……

———-Krek, krek———-

Kugiling dengan gigi, lalu kutelan semuanya.

Bukan hanya untuk memperkuat diriku.

Kalau aku ingin menciptakan klon yang lebih berguna, aku tak punya pilihan selain menyerap lebih banyak bola ungu-hitam ini.

[Akan kubunuh mereka———— satu per satu.]

Aku takkan bisa tenang.

Selama raja lalat itu masih hidup.

Mungkin…… bahkan kalau Sacred Eye dihancurkan dan aku melarikan diri ke langit,

Selama pria terbuang itu masih bernapas, aku takkan pernah bisa menemukan ketenangan sejati.

Oleh karena itu……

Yang paling utama harus kuhapuskan adalah pria itu———–

[Touka…… Mimori……]

Akan kubunuh dia.

Aku akan membunuhnya.

Aku tak peduli pada yang lain.

Langit, keadaan di sekitarnya, semua itu tak penting bagiku sekarang.

Yang kupedulikan hanyalah dia. Aku ingin membunuhnya.

Aku ingin kedamaian.

Alasan aku tidak menelan Dark Purple Gems sejak awal adalah karena masalah penurunan kapasitas.

Begitu kutelan, efek penguatannya perlahan akan meredup.

Dan saat efek itu habis, ruang——— kapasitas yang diambil kekuatan melemah itu tak akan bebas kembali dalam waktu dekat.

Dengan kata lain, selama sekitar dua bulan, aku akan terjebak dengan kapasitas maksimum yang menurun.

Katakanlah batasku 100.

Jika Dark Purple Gem menambah 5, lalu tambahan itu habis jadi 0……

Pada titik itu, batas maksimalku jadi 95.

Artinya selama dua bulan, aku terkurung di kap 95.

Dan yang paling fatal——— efek penguatannya akan benar-benar lenyap hanya dalam dua bulan.

Kalau begitu, Dark Purple Gems yang berharga itu hanya akan terbuang sia-sia.

Itulah kenapa opsi menelannya lebih awal tidak pernah ada di mejaku.

Selain itu……

Apa yang akan terjadi kalau aku menelan lebih banyak Dark Purple Gems ketika kapasitasku tak mencukupi?

Tekanan pada tubuhku akan melonjak.

Singkatnya, itu bisa jadi berbahaya.

Aku belum pernah mengujinya sampai batas, jadi aku tak tahu persis apa yang terjadi kalau aku melewati garis itu.

Tapi kalau kekuatan yang meluap sampai memecahkan wadah tubuhku……

Kalau aku melampaui batas————– aku akan masuk ke ranah berbahaya.

Seakan aku peduli sekarang.

Aku membencinya——— sampai sebegitunya.

Itulah sebabnya……

Kalau memang harus, aku akan menghabiskan bahkan permata berharga ini.

Paling buruk, sekalipun aku harus menyeretnya jatuh bersamaku———–

Aku akan membunuhnya.

Lalat busuk itu, yang terbang berisik menggangguku.

Bagaimanapun juga……

[Akan kupastikan segalanya berakhir dengannya…… di Labirin Genesis ini.]

Aku akan menuntaskan ini…… Di sini dan sekarang.

Aku akan mengakhiri segalanya.

Sekarang…… mari kita turunkan tirai.

[Touka Mimori.]


<Catatan Penulis>

Dan dengan itu, berakhir sudah bagian ketiga dari Final Arc. Terima kasih banyak sudah menemaniku sejauh ini.

Kita akhirnya sampai di titik ini———– rasanya benar-benar sudah dekat, bukan? Semoga kalian menikmati bagian ketiga ini.

Dalam volume ini, segalanya mulai bergerak menuju akhir yang tak terelakkan, dan banyak karakter mengalami pencerahan maupun perkembangan. Sejujurnya, saat aku sampai di tahap ini, ada begitu banyak yang harus kutulis, dan aku ingat betapa sulitnya menentukan prioritas serta menyusun strukturnya, bahkan sejak tahap perencanaan.

Seperti biasa, aku ingin mengucapkan rasa terima kasih sedalam-dalamnya: untuk dorongan hangat, impresi yang kalian bagikan, ulasan, likes——— semuanya. Hingga kini, meski seri ini sudah berjalan begitu lama, masih ada orang yang memberi bookmark dan rating, dan aku benar-benar bersyukur. Nilai keseluruhan yang tampil di layar hanyalah “angka”, ya, tapi bagiku, itu terasa seperti bagian dari karya yang kita bangun bersama——— atau mungkin, yang masih terus kita bangun bersama. Terima kasih, sungguh.

Sejujurnya, (meskipun aku sudah memetakan garis besar plotnya) ada kalanya aku khawatir apakah aku bisa benar-benar mengikat semuanya dengan baik. Saat melangkah maju, aku berharap bisa terus menulis dengan cara yang, semoga saja, membawa baik aku (dan mungkin kalian para pembaca juga) menuju akhir yang memuaskan.

……Itu saja, kali ini aku benar-benar kelelahan, jadi kurasa aku butuh sedikit jeda…… Setelah sedikit pulih, aku akan mulai menulis bagian berikutnya, yang sekaligus akan menjadi bagian terakhir dari cerita ini.

Kalau begitu, sampai jumpa lagi di bagian selanjutnya———– dan terakhir dari Final Arc ini.

Novel Abnormal State Skill Chapter 420

420 - Pertempuran Terakhir



[Sudah hampir sampai di gerbang kastil.]

Ruangan tempat kami bertarung melawan Wormungandr.

Tempat di mana Ikusaba Asagi gugur.

Dari sana, kami terus melangkah menuju tujuan—kastil itu.

Kini, gerbangnya sudah dekat.

Dalam perjalanan, beberapa orang lain bergabung bersama kami.

Sebagian besar dari mereka adalah rombongan gelombang akhir.

Sepertinya mereka berhasil sampai sejauh ini sambil membawa perbekalan untuk operasi.

Mungkin berkat tim pendahulu yang sudah “membersihkan” lorong-lorong labirin————

Mereka bilang hampir tak bertemu Sacrament sama sekali.

……Atau mungkin juga hanya mereka yang beruntung tidak bertemu siapa pun yang bisa sampai sejauh ini.

Selain para pendatang terlambat itu, Nyantan Kikipat juga termasuk di antaranya.

“Dalam perjalanan ke sini, aku hanya bertemu Sacrament. Mungkin hanya keberuntungan semata aku tak bertemu Pelayan Ilahi, tapi aku juga tak bertemu sekutu sama sekali.”

Padahal kemungkinan besar mereka yang masuk di waktu hampir bersamaan akan dipindahkan di lokasi yang berdekatan————

Tapi mengingat betapa luasnya ibu kota kerajaan, serta rumitnya labirin itu, mungkin justru jarang bisa bertemu siapa pun.

Jika demikian, berarti kami ini beruntung.

Selain itu, gerbang utama bukanlah satu-satunya jalan masuk kastil.

Gerbang ini ada di sisi selatan.

Bisa jadi kelompok lain juga berkumpul di gerbang sisi lainnya.

[………………….]

Informasi yang kami dapat dari percakapan dengan Vysis palsu.

Kashima dan Zine yang menyampaikannya padaku.

Ngomong-ngomong, Zine sudah dirawat dari pendarahannya dan sekarang sedang digendong Chester.

Sepertinya Chester sendiri yang meminta untuk menggendongnya.

Saat Zine diangkat……

“Untuk sekali ini, tubuhku yang kecil jadi keuntungan. Kalau yang harus dibawa itu Wright atau Kaiser, pasti akan jadi beban besar.”

Ia bercanda begitu.

Namun Chester tampak agak canggung dan berkata:

“Y- Yang Mulia…… dengan segala hormat, melihat kondisi Anda saat ini, saya tak bisa ikut tertawa……”

Setelah itu, aku menyampaikan terima kasih pada Zine.

“Sayang sekali soal Asagi, tapi…… terima kasih, Zine, karena sudah berusaha melindungi mereka berdua.”

“……Maafkan aku. Aku gagal melindungi Asagi.”

“Jangan dipikirkan. Itu bukan sesuatu yang perlu kau sesali.”

Lalu ada soal obat lumpuh yang konon Asagi dapatkan di Monroi.

Sepertinya memang benar dia membuat Zine dan lainnya meminumnya.

Untungnya, vial penawar di saku Asagi masih selamat.

Mereka bertiga pun meminum antidote itu, menetralkan efek obatnya.

Dalam perjalanan, aku juga berbicara dengan Kashima.

“Kau baik-baik saja, Kashima?”

“……Unn, aku baik-baik saja. Meski aku tak yakin bisa berguna dalam pertarungan nanti.”

“Meski nantinya kau tak bisa berbuat apa-apa di pertempuran…… Kashima, kau sudah banyak berkontribusi.”

“……Asagi-san…… Dia benar-benar ingin bertarung denganmu, Mimori-kun……”

“Itu pasti menakutkan.”

“Eh?”

“Memikirkan apa yang bisa terjadi kalau saja dia bergabung dengan pihak Vysis…… jujur saja, itu membuatku takut.”

Mendengar perkataanku, Kashima———–

Entah kenapa ia tampak sedikit senang.

“Kalau Asagi-san mendengar itu…… dia pasti akan senang juga.”

“……Andai saja kami bisa bersaing dengan cara lain, tanpa harus mempertaruhkan nyawa.”

“Yeah. Aku juga berharap kau dan Asagi-san bisa punya hubungan semacam itu…… pasti indah rasanya.”

“Kashima.”

“Unn?”

“Jangan mati. Kau harus menepati janji yang kau buat dengan Asagi.”

“……Unn.”

Tapi kemudian, Kashima menambahkan:

“Pertama-tama, kita harus mengalahkan Vysis.”

[……………………]

Vysis, ya.

Mendengar Kashima menyebut dewi brengsek itu tanpa embel-embel kehormatan———

Aku menyadari betapa kuatnya ia sekarang.

Itu perasaan sederhana, tapi jujur.

……Baiklah.

Sogou dan Takao Bersaudari tidak ada di sini.

Ars sudah dinegasikan dengan <Freeze>.

Wormungandr juga sudah dikalahkan.

Aku penasaran apa yang terjadi pada Pelayan Ilahi terakhir, Yomibito, tapi———

[Sepertinya ada yang sudah mengurus Yomibito. Jadi, sekarang tak ada lagi Pelayan Ilahi.]

Aku menyampaikan itu pada semua orang.

Meski datang dari Vysis palsu, mendapatkan informasi itu dari mulutnya tetaplah pencapaian besar.

Apakah Sogou yang mengalahkannya?

Atau mungkin Takao Bersaudari?

Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk Wormungandr.

Loqierra bilang kekuatan makhluk itu terasa lebih lemah dari sebelumnya.

Artinya, ada yang sudah melawannya.

Dan dalam pertarungan itu, Wormungandr sempat terluka parah.

……Kalau ada yang mampu bertarung langsung dengannya, kemungkinan besar itu Sogou.

Tapi Wormungandr muncul di tempat itu setelah bertarung dengan seseorang.

Yang berarti———–

“Orang yang melawannya mungkin sudah bertarung sengit, tapi pada akhirnya kalah.”

Kalau dipikir secara logis, itu kesimpulan yang paling masuk akal.

Sogou Ayaka atau Takao Bersaudari.

Ada kemungkinan nyata mereka sudah tak bisa ikut bertarung melawan Vysis.

Sesuatu yang harus kuperhitungkan.

……Kalau bisa, aku tak ingin percaya mereka sudah mati.

Tapi melihat situasinya, aku tak bisa menutup kemungkinan itu.

Hal yang sama berlaku untuk Armia, yang perlengkapannya saja yang ditemukan Ars, sementara nasibnya masih tak diketahui.

Tidak, sebenarnya……

Hal yang sama juga berlaku bagi anggota serangan lain serta tim pendukung yang belum terlihat di sini.

Berapa banyak yang sudah gugur?

Tentu saja, yang terbaik adalah tanpa korban jiwa.

Tapi dalam pertempuran seperti ini, berharap tanpa kehilangan——— jujur saja, itu hanya angan-angan.

Aku meminta semua orang berhenti sejenak.

[Gerbang kastil ada di depan. Berdasarkan semua yang sudah terjadi, aku akan jelaskan rencana kita berikutnya.]

Ada beberapa kemungkinan skenario.

Pertama, kami harus berasumsi pada yang paling mungkin.

Dari situ, kami akan menyesuaikan semua persiapan yang sudah dibuat.

Lalu, dalam situasi seperti ini———— bagaimana Vysis akan bergerak?

Kalau ia bisa berbagi penglihatan dengan Vysis palsu, informasi apa saja yang sudah ia dapatkan?

Sejak aku dibuang, aku belum pernah bertatap muka lagi dengan Vysis.

Kami tak pernah berbicara.

Bahkan dengan yang palsu sekalipun.

……Tapi, entah kenapa———–

Aku merasa bisa menebak gerakan Vysis.

Mungkin bukan sekadar imajinasi.

Mungkin Vysis——— sedang berusaha menunjukkan sesuatu padaku.

Meski kami tak bertemu langsung.

Kalau kupikir kembali semua yang dilakukan Vysis sejak ia memanggil kami ke dunia ini———–

Bagaimana ia bergerak, apa yang ia lakukan———– petunjuk tentang cara berpikirnya tersebar di mana-mana.

Entah bagaimana…… rasanya memang begitu.

[……Hmph.]

Sebenarnya.

Dibandingkan dirinya——— Ikusaba Asagi jauh lebih sulit ditebak isi kepalanya.

Seperti yang kukatakan padanya, aku tak pernah benar-benar yakin ia tidak akan mengkhianati kami.

Lebih ke firasat daripada kepastian.

Ternyata alasan terbesar Asagi tidak berbalik melawan kami adalah karena Kashima.

Dalam hal itu, kurasa———–

Kashima Kobato telah meraih pencapaian terbesar dalam pertempuran ini.

[Touka-dono, sepertinya persiapan sudah selesai.]

Kelompok pendukung sudah selesai mengenakan topeng Fly King.

Tentu saja, itu bukan topeng yang pernah kupakai dulu.

Mereka adalah replika yang dipersiapkan Zine.

Fly King Suit terakhir adalah satu-satunya yang unik, tak tergantikan.

[Sekarang tinggal…… seberapa jauh kita bisa memaksanya.]

Kami menunggu sebentar hingga beberapa orang lain tiba————

Dan kemudian, keputusan dibuat: menyerbu kastil.

Waktunya telah tiba.

Setelah itu, hanya segelintir dari kelompok cadangan yang berhasil menyusul.

Pada akhirnya, Ayaka Sogou dan Takao Bersaudari tak pernah muncul.

Aku berharap bisa kembali bertemu mereka, tapi……

Untuk saat ini, sepertinya Seras yang akan memimpin pertempuran jarak dekat.

[Seras, kau masih bisa menggunakan Origin Regalia, kan?]

[Ya.]

[Baiklah…… Kalau begitu———–]

Aku melangkah maju menuju gerbang.

[……Ayo.]

Rekan-rekanku pun mengikutiku dari belakang.

[Kalau Vysis tak punya lagi kartu truf tersembunyi…… maka satu-satunya musuh yang berdiri menghadang kita sekarang hanyalah dewi brengsek itu. Kalau memang begitu…… maka tanpa ragu————]

Ini akan menjadi……

[Pertempuran terakhir.]

Catatan Penulis

Hari ini, Jumat, 25 April, Volume 13 I Became the Strongest With The Failure Frame【Abnormal State Skill】As I Devastated Everything telah dirilis.

Seperti biasa, Volume 13 juga mengalami revisi keseluruhan teks, dengan perbaikan detail (serta beberapa revisi baru).

Selain itu, volume ini juga menyertakan bonus konten yang ditulis khusus.

Tambahan utamanya adalah:

(Hal. 321) Adegan dari sudut pandang Seras saat pertarungan melawan Wormungandr, memperlihatkan apa yang ia rasakan ketika Touka merasakan fluktuasi emosinya.

(Hal. 336) Tambahan kecil di mana Asagi, dalam detik-detik terakhirnya, sempat berbicara sebentar dengan Seras.

(Hal. 378) Adegan singkat saat menunggu sebelum menyerbu kastil, Seras (di depan yang lain) meminta Touka untuk memeluknya.

(Hal. 384) Adegan pendek yang menampilkan pertahanan Sacred Eye di Azziz dari sudut pandang Yasu.

Seperti biasa, KWKM-sama kembali menghadirkan ilustrasi dengan kualitas luar biasa. Ada dua ilustrasi berwarna Seras (salah satunya bersama Chibierra), serta satu ilustrasi Ikusaba Asagi. Seras bersama Chibierra terlihat menggemaskan, sementara ilustrasi dua halaman penuh Seras dalam Origin Regalia benar-benar indah sekaligus gagah. Untuk ilustrasi Asagi, aku rasa kesannya akan berbeda setelah kamu membaca keseluruhan volume ini.

Selain itu, ilustrasi hitam-putih pun penuh sorotan: Yasu dengan atmosfer yang berubah, Lili yang semakin dekat dengan Yasushi, Gio dan Eve yang tampil keren dalam pertempuran, Touka dengan Fly King Gear terakhirnya, Ayaka, Asagi, Kobato & Asagi (ilustrasi yang menurutku punya keindahan tersendiri), Seras (untuk adegan tambahan), dan tentu saja Vysis———– semuanya menjadi koleksi ilustrasi yang kaya.

Volume ini kembali menampilkan Seras di sampul depan. Aku benar-benar berterima kasih pada KWKM-sama karena telah menggambarkan sisi berbeda Seras di tiap volume (dan secara pribadi, aku juga merasa lukisan latar belakangnya sangat menakjubkan).

Jika informasi di atas bisa membantumu untuk mempertimbangkan membeli volumenya, aku akan sangat senang.

Seperti yang kutulis di epilog juga, berkat semua orang yang terus mendukung dan membeli seri ini, aku bisa sampai sejauh ini (terima kasih juga untuk banyak pesan yang memberitahu bahwa kalian sudah mendapatkan bukunya). Aku tahu ini agak berulang dengan apa yang kutulis di epilog, tapi sekali lagi…… semuanya, terima kasih banyak.

Bab berikutnya dijadwalkan update hari ini sekitar pukul 23:00.

Novel Abnormal State Skill Chapter 419

419 - Ikusaba Asagi



<POV Ikusaba Asagi>

[Aku akan bilang pada semua orang kalau kau ■■■■■ aku.]

Aku selalu membenci nama belakang “Ikusaba”.

Aku tahu, itu nama yang terdengar penuh darah dan perang—benar-benar tak cocok untuk seorang gadis seusiaku yang imut.

Banyak orang mengira itulah alasan aku tak suka dipanggil dengan nama keluarga itu.

Tapi alasan sebenarnya adalah karena itu nama ayahku yang sudah mati.

Ayahku adalah apa yang disebut suami abusif.

Suami yang menyiksa mental——— pria yang memaksakan aturan-aturan busuknya pada istrinya.

Dia merendahkan Mama, memaksa aturan-aturannya pada Mama.

Dia suka sekali memberi “ceramah”.

Aku masih ingat, suatu kali waktu aku masih kecil…… Mama melakukan kesalahan kecil di rumah, lalu dia———

“Justice chokehold.”

Begitu dia menyebutnya. Dia mencekik Mama dari belakang sampai pingsan.

Dan setelah itu, dia berkata:

[Terpaksa…… Maafkan aku. Tapi aku benar-benar mencintaimu sepenuh hati.]

Menjijikkan.

Aku harus menahan diri supaya tidak muntah.

Dia benar-benar sampah pengendali yang busuk.

Di luar rumah, dengan senyum palsu, dia bertingkah sebagai suami sempurna.

Tapi kalau ada hal yang tak sesuai keinginannya, dia merajuk seperti anak kecil.

Dia terus mengulang kalau Mama tak berguna karena orang tuanya juga begitu.

Bahkan saat kami mengunjungi orang tuanya sendiri, dia tetap mengejek Mama.

Dia adalah definisi dari “tak tertahankan”.

Tapi Mama juga punya kelemahan.

Dia memang buruk dalam banyak hal.

Tak bisa membaca situasi. Tak bisa multitasking.

Kalau mencoba melakukan dua hal sekaligus, dia panik.

Kadang terlalu fokus sampai tak mendengar orang bicara.

Dan saat itu terjadi, ayah marah besar.

Dia menyebut itu “hukuman”, lalu memukul perut Mama.

Sesudahnya, dia selalu berkata:

[Ini bukan sesuatu yang bisa diceritakan orang. Itu akan mempermalukan keluarga kita.]

Seolah-olah dia lelaki terhormat.

Pengecut.

Tapi aku sendiri——— berperan jadi anak baik.

Aku melakukan semua hal dengan benar.

Hanya saja, melihat Mama terus-terusan diinjak membuatku muak.

Dia tak pernah melawan. Selalu minta maaf sambil menangis.

Selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Ya, ayah memang sampah.

Tapi kelemahan Mama juga membuatku frustrasi.

Aku menemukan pelarian dalam buku.

Buku-buku paperback.

Bahkan sejak kelas dua SD.

Ada alasannya.

Ayah melarang game atau manga.

Katanya, “Kau baru boleh punya smartphone setelah dapat pekerjaan.”

Ucapan itu membuatku merinding.

Idiot macam apa ini?

Jadi aku tak punya pilihan selain menghabiskan waktu dengan membaca buku.

Aku sering pergi ke perpustakaan prefektur.

Letaknya pas di antara rumah dan sekolah.

Aku membaca segala macam buku.

Dan di saat itu pula, muncul sebuah pertanyaan.

“Kenapa orang lain tak membaca buku berguna ini?”

Beberapa orang hanya tidur di sofa perpustakaan.

Musim panas, jelas-jelas mereka cuma numpang AC.

[Mereka bisa dapat pengetahuan gratis, tapi malah begitu?]

Itu yang sungguh kupikirkan saat itu.

Dari sanalah tumbuh dahaga akan pengetahuan.

Kelas tiga, aku mulai diam-diam meminjam smartphone Mama.

Selalu kuhapus riwayat pencarian.

Mungkin karena kupikir ayah akan mengecek.

Aku bahkan mencari cara menghapus jejak di internet.

Internet luar biasa.

Penuh dengan informasi lain, berbeda dari yang kudapat di buku perpustakaan.

Yang menarik perhatianku adalah game…… dan mind control.

Mind control——— alias cuci otak.

Menariknya, itu tak hanya terjadi di sekte-sekte.

Tapi juga di kehidupan sehari-hari orang biasa.

Bahkan dalam kasus kriminal.

Sayangnya, itu selalu dianggap kejahatan.

Itu mengecewakan.

Bahkan kalau seseorang mencuci otak orang lain sampai melakukan pembunuhan,

yang melakukan brainwashing juga ditangkap.

Hmmm…… mengecewakan.

Tapi lalu muncul ide.

Sekarang, aku hanya anak SD.

Siapa yang akan mencurigai anak kecil bisa melakukan cuci otak?

Justru karena aku anak-anak, aku mungkin bisa berhasil.

Jadi pertama, aku membuat teman baru di sekolah.

Sebagai uji coba brainwashing.

Sebagian juga supaya aku bisa main game di rumah mereka.

Kepada ayah, kukatakan kami belajar bersama.

Aku menargetkan anak kaya dan terhormat.

Supaya si brengsek itu mengizinkan.

Dan soal brainwashing…… kurasa berhasil.

Juga, gamenya menyenangkan.

Aku suka matematika.

Tak ada ruang bagi emosi ikut campur.

Itu terasa nyaman.

Tapi lama-lama, aku juga tertarik pada bahasa.

Mengendalikan emosi manusia——— ternyata tak jauh beda dengan matematika.

Awalnya……

“Jelaskan bagaimana perasaan penulis di momen ini.”

Aku tak bisa menjawab.

Kenapa? Karena aku benar-benar memikirkannya.

Tapi kemudian kusadari ada pola untuk mendapatkan nilai.

Nilai bahasaku naik.

Bahasa Jepang jadi menyenangkan.

Segalanya jadi menyenangkan.

Mind control juga…… memang, itu sungguh memikat.

Lalu, sekitar saat aku masuk kelas empat SD……

Aku sudah muak dengan Ayah.

Dia semakin menjengkelkan.

Sikap kasarnya, pelecehan emosionalnya, nyaris menyerupai KDRT terhadap Mama, makin menjadi-jadi.

Hmm…… meski Mama juga punya masalahnya sendiri.

Tetap saja, aku lebih membenci Ayah.

Rasa jijik yang berbeda.

……Mungkin sebaiknya aku bunuh saja dia.

Suatu hari, aku melawannya.

Selama ini aku selalu jadi anak yang penurut, jadi dia benar-benar kaget.

Setelah terlepas dari keterkejutannya, dia mencoba memukulku.

Saat itu, aku mengucapkan kalimat itu:

“Aku akan bilang pada semua orang kalau kau ■■■■■ aku.”

Ayah tak bisa memukulku.

Aku tahu itu.

Dia bisa menguasai Mama——— tapi tidak aku.

Aku paham betul.

Pria menyedihkan itu……

Dia lebih peduli pada citra publiknya daripada apa pun juga.

Itulah sebabnya dia hanya memberikan “hukuman” yang nyaris tak meninggalkan bukti.

Seperti kata orang di manga lama, “Bidik tubuhnya, tubuhnya.”

Penyiksaan psikologis bahkan lebih sulit dideteksi.

Tak ada bukti.

Dan itulah mengapa——— senjataku bekerja.

Bagaimana jika putrinya sendiri mulai menyebarkan rumor kalau dia ■■■■■ anaknya?

Tentu, hal itu tak pernah terjadi.

Tapi memalsukan “fakta” itu mungkin saja.

“Tangisan memilukan seorang gadis kecil tak berdosa.”

“Seorang dewasa yang panik, menyangkal dengan kalut.”

Nah, dalam masyarakat ini, orang akan percaya siapa?

Jawabannya jelas.

Mereka akan memihakku.

Dan jika itu terjadi, dia tamat.

Dia pasti takut mati secara sosial.

Jika itu terjadi, hidupnya takkan punya arti lagi.

Rencana hidup sempurnanya runtuh.

Orang sepertinya tak bisa menghadapi jalur hidup yang melenceng dari rel yang sudah mereka buat sendiri.

Sejak hari itu, dia mulai menghindariku.

Dia mulai menatapku dengan ketakutan di matanya.

Suatu malam, itu terjadi.

Dia masuk ke kamarku.

Dia menindihku di ranjang, mencekik leherku.

Melihat usahanya itu——— aku tertawa.

Aku menertawakannya.

Begitu menyedihkan.

Lalu aku berkata:

[Silakan, lakukan saja.]

Dan kemudian——— dia mengeluarkan teriakan singkat seperti binatang.

Panik, dia buru-buru kabur.

Tentu saja.

Dia mungkin mencoba mengendalikan dengan “kekuatan” orang dewasa.

Tapi……

Tak mungkin dia sanggup menanggung julukan sebagai ayah yang membunuh putrinya sendiri.

Itu hanyalah ancaman kosong.

Menyenangkan sekali melihatnya hancur.

“Hukuman” yang dia timpakan pada Mama juga berkurang.

Sebagian karena dia kehilangan kendali——— tapi aku juga memastikan dia tak bisa melakukannya lagi.

Dengan mind control.

Karena aku menjadi sosok yang dia takuti, aku bisa memanipulasinya juga dalam hal itu.

Boneka kecilku.

Tapi membiarkannya hidup mungkin jadi risiko.

Untungnya, keluarga Mama cukup berada.

Bahkan jika dia mati, standar hidup kami takkan berubah.

Aku membawa kendali pikirannya ke fase akhir.

Baginya, ini sudah game over.

Dan akhirnya——— dia gantung diri.

Karena aku tak mau dia mati di rumah, aku pastikan dia melakukannya di pabrik tua dekat rumah.

Kepada pemilik pabrik itu, maaf.

Yah, mungkin dia sendiri ingin kabur dari rumah ini, rumah tempat tinggal bersama “anak iblis” sepertiku.

Saat dia mati, Mama sedih.

Aku tak percaya.

Dia sedih untuk itu? Serius?

Bahkan sempat bercanda ingin tetap memakai nama keluarganya.

Di Jepang modern, seorang istri boleh tetap memakai nama suami meski suaminya meninggal.

Tapi dia seharusnya bisa kembali ke nama gadisnya.

……Apa dia gila?

Apa mungkin dia benar-benar mencintai pria itu?

Ini pasti lelucon, kan?

Mempertahankan nama keluarga——— Ikusaba?

Tolonglah…… biar lelucon itu hanya sebatas soal kecerobohannya.

Tapi anehnya, meski aku bisa mengubah pikiran Mama dengan mind control, agar dia kembali ke nama aslinya……

Entah kenapa, aku tak bisa melakukannya.

[………………]

Hahh…… Jadi kita tetap memakai nama Ikusaba, huh……

……Hmm?

Ngomong-ngomong…… siapa nama asli pria itu, ya?

Akhirnya aku masuk SMP.

Aku punya smartphone sendiri, PC sendiri.

Aku bisa mengumpulkan informasi sebanyak yang kuinginkan di internet.

Membaca manga sesuka hati.

Dan tentu saja, aku merias diri sedikit, seperti siswi SMP pada umumnya.

Harus mengikuti tren fashion juga.

Ada hierarki tertentu di kelas dan sekolah soal itu.

Yah, kupikir (mungkin terdengar narsis), aku cukup imut.

Itu senjata.

Yang terpenting, waktu yang kupakai untuk mempercantik wajah, melakukan rutinitas kecil kecantikan…… jujur saja, itu menyenangkan.

Mama bekerja paruh waktu sekarang.

Mungkin karena pria itu mati, ada uang masuk setelahnya.

Asuransi, mungkin?

Atau dukungan dari keluarga Mama?

Bagaimanapun, seperti prediksiku, hidup kami tak terganggu sama sekali.

Lalu, kenapa Mama masih repot-repot bekerja paruh waktu?

Ketika kutanya, Mama menjawab:

[Aku juga ingin menghasilkan uang dengan tanganku sendiri, demi Asagi-chan.]

Kalau begitu, lakukan pekerjaan rumah dengan benar dulu.

……Ya, seharusnya itu yang kukatakan.

Tapi kenapa aku tidak mengatakannya?

Hal-hal yang bisa dengan mudah kukatakan pada Ayah…… kenapa sulit kuucapkan pada Mama?

[Aku mengerti. Terima kasih, Mama~~]

Dan begitu saja, aku kembali memainkan peran anak baik.

Sekarang setelah dia tiada, ketidakmampuan Mama semakin membuatku muak.

Kenapa dia begitu tak berguna?

Apa dia tidak malu masih hidup?

Mungkin dia akan merasa lebih baik kalau mati saja.

……Namun, berbeda dengan dia, aku tak pernah benar-benar terpikir untuk membunuh Mama.

Kenapa bisa begitu?

Aku sepenuhnya membenamkan diri dalam dunia gim.

Kebanyakan gim sosial.

Yang menghubungkanmu dengan para pemain di seluruh Jepang——— kadang bahkan seluruh dunia.

Tergantung gimnya, ada banyak cara untuk bermain bersama.

Beberapa punya yang namanya sistem “Guild”.

Sederhananya, seperti tim atau klub dalam gim.

Pemimpin guild biasanya dipanggil guild master, atau singkatnya “GM”.

Entah kenapa, aku sering berakhir mengambil peran GM itu sendiri.

Seru rasanya, memanipulasi anggota guild agar bisa menang.

Tak kusangka, statusku sebagai JC (siswi SMP) cukup berguna.

Karena masih JC, aku tak bisa menghamburkan uang terlalu banyak untuk microtransaction (yah, sedikit sih bisa).

Tapi ada banyak “tuan-tuan” baik hati dengan uang berlebih yang senang memanjakanku.

Sebagian bahkan rela menghabiskan uang gila-gilaan, ikut bersaing mati-matian demi diriku.

Siapa pun yang bicara soal ingin bertemu di dunia nyata, langsung kuputus kontak.

Ayolah.

Mau menampung kriminal yang mengincar JC? Itu terlalu berisiko.

Apalagi di negara ini, di mana “usia muda” dianggap begitu berharga.

Ageism. Itulah sebutannya.

Negara yang dipenuhi orang tua renta dan nenek-nenek hanya membuatnya semakin parah.

Lalu soal penampilan.

Kalau kau muda dan menarik, kau dapat masa singkat di mana kau nyaris tak tersentuh.

Ini juga negara dengan lookism yang kuat.

Menjijikkan.

Di internet, ada segudang cara untuk menguras uang lelaki kesepian paruh baya.

Host, sugar baby, streamer, model bisnis idol…… semua itu memikatku.

Bukankah itu hanya selangkah dari cuci otak?

Beberapa bahkan legal, yang justru membuatnya makin menarik.

Banyak yang bisa kupelajari.

Tanpa kusadari, “manipulasi” sudah jadi bagian dari keseharianku.

Di sisi lain, aku makin stres dengan ketidakpekaan Mama.

[Kau tahu, semua orang di tempat kerja paruh waktuku itu baaaik sekali~~]

Mama berkata begitu, dengan senyum riang kecilnya.

[Mereka selalu bilang “Ikusaba-san memang orangnya begitu, jadi jangan terlalu memaksa diri”, lalu membiarkanku banyak istirahat. Senang sih, tapi aku juga merasa bersalah jadi satu-satunya yang diberi keringanan…… Fufu.]

Tidak, Mama…… mereka sedang mengejekmu.

Bahkan perkataan manajer toko waktu itu——— juga sindiran.

Katanya kau diterima kerja karena kekurangan pegawai? Itu sarkasme……

Dengan kata lain, pasif-agresif.

Mereka merendahkanmu, Mama.

Kenapa kau selalu menelan mentah-mentah ucapan orang?

Negara ini penuh dengan kata-kata yang tak sejalan dengan maksud sebenarnya.

Kenapa kau hanya menelan bulat-bulat apa pun yang diucapkan para pecundang itu?

Kau hanya akan hancur.

……Namun, aku tetap tak bisa mengatakannya.

Sebaliknya……

[Hehh, begitu? Kedengarannya tempat kerja yang menyenangkan.]

[Kan? Betul sekali~~]

Suatu hari, aku memutuskan mengintip pekerjaan paruh waktu Mama secara diam-diam.

……Ugh. Seperti kuduga.

Mereka semua lebih muda darinya.

Dan melihat bagaimana mereka memandang rendah Mama……

Aku menunggu sampai jam istirahat, lalu menghampiri manajer toko.

[Permisi…… Aku anak dari Ikusaba ■■■■■■———]

Beberapa waktu setelah itu, Mama pulang dengan wajah berseri.

[Kau tahu? Semua orang di tempat kerja akhir-akhir ini jauh lebih baik padaku! Fufu, apa karena mereka akhirnya mengakui kerja keras Mama, ya?]

Bahkan ia mengepalkan tangan kecilnya, seperti memberi semangat pada diri sendiri.

[Untukmu juga, Asagi-chan! Mama harus jadi lebih bisa diandalkan!]

……Tidak, Mama.

Bukan karena kerja kerasmu.

Itu karena aku.

Betapa bodohnya dirimu……

Berhentilah.

Kau takkan pernah bisa jadi orang yang bisa diandalkan.

[Ah, kalau ada waktu lebih, mungkin Mama bisa bantu Asagi belajar? Belakangan Mama memang belum sempat, ya?]

Saat itulah aku tersadar.

Dia masih berpikir dirinya lebih pintar dariku.

Dia benar-benar…… tak ada harapan.

Kau tahu, Mama……

Melihatmu itu menyakitkan.

Tolong, hentikanlah.

Serius——— kau menyebalkan.

Kalau begini terus, Mama akan hancur.

Cepat atau lambat, dia pasti akan membuat masalah.

Aku harus mencarikan pria yang bisa memahaminya, atau dia akan tamat.

Dan akhirnya, aku memutuskan untuk mencarikannya pasangan.

Seseorang yang tidak terlalu tampan.

Pria yang tampak tak percaya diri——— yang rendah diri.

Seseorang yang cukup mampu dan normal, tapi tak beruntung dengan wanita.

Pria yang berpikir, “Kalau kulepaskan wanita ini, aku takkan dapat kesempatan lain.”

Itulah orang yang ia butuhkan.

Pria yang baik hati.

Tapi bukan tipe yang suka menyombongkan kebaikannya.

Lebih baik yang bahkan tak sadar dirinya baik.

Jadi aku mencari pria yang mungkin bisa melindungi Mama.

Mencucinya otak, menjodohkan mereka.

Tentu saja, kuatur seakan-akan mereka bertemu secara kebetulan.

Mama tampak menyukainya (wajar, aku memang memilih yang sesuai seleranya).

…………Sungguh.

Dia benar-benar merepotkan.

Jujur——— dia membuatku muak.

Sebaiknya dia mati saja.

Aku masuk SMA, mendaftar di Akademi Ogito.

Alasannya sederhana: dekat rumah.

Saat itu, aku sudah bosan dengan banyak hal.

Begitu masuk SMA, bermain “membunuh lewat cuci otak” jadi terlalu berisiko.

Aku tak mau ditangkap.

Lagipula, aku juga sudah mulai jenuh dengan permainan cuci otak itu sendiri.

Sama juga dengan gim——— semua seakan berujung pada akhir yang sama.

Belakangan, aku mulai tak tertarik lagi.

Aku sempat mencoba berbagai genre, tapi banyak yang ternyata hanya “gim mustahil”.

Begitu terasa mustahil, aku berhenti.

Waktu terbatas.

Tapi setelah meninggalkan begitu banyak hal, bahkan gim pun terasa hambar.

Yah, masih ada manga luar biasa yang kutunggu kelanjutannya.

……Meski yang paling kusuka entah kenapa selalu masuk hiatus tak terbatas.

Masih banyak hal yang belum kuketahui atau alami.

Bukan berarti aku tak punya alasan untuk hidup.

Jadi aku hanya…… menjalani hidup dengan tempo lebih lambat.

SMP, SMA——— apa bedanya?

Orang-orang sama, rutinitas sama.

Begitulah di tahun pertamaku.

Membosankan, hanya berusaha berbaur, memainkan peran normie.

Tapi kemudian, kejutan datang.

Kelas tempatku ditempatkan di tahun berikutnya——— adalah kelas takdir, 2-C.

Sogou Ayaka.

Kirihara Takuto.

Takao Hijiri.

Tiga orang——— benar-benar berbeda dari siapa pun yang pernah kutemui.

Mencuci otak mereka…… tidak, aku takkan melakukannya.

Daripada memaksakan mereka sesuai keinginanku, aku ingin mengamati mereka.

Aku akan santai saja untuk saat ini.

(Lagi pula, orang seperti Hijiri jelas akan merepotkan kalau sampai kusentuh.)

Huh.

SMA…… mungkin bisa jadi menyenangkan juga.

……Atau begitulah kupikir, tapi ternyata ada joker kelas superdreadnought yang bersembunyi di depan mataku.

Serius, kamuflasemu terlalu sempurna, Mimori Touka-kun……

Ahh…… tapi tetap saja, aku benar-benar ingin bertarung melawanmu……

………………….

Mungkin saat itu…… ya, ketika kami berada di ruang makan kastil Mira, dengan Fly King duduk di seberang meja.

Aku keceplosan, bercerita tentang bagaimana aku membuat ayahku bunuh diri.

Itu bukan diriku yang biasa.

Bukan sesuatu yang biasanya kukatakan.

Jadi kemungkinan besar——— saat itu juga……

Aku sudah mengakuinya.

Sebagai seseorang sepertiku——— sebagai rekan.

Sebagai calon rival.

……Kata orang, musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri.

Tak kusangka aku benar-benar akan bertemu seseorang yang begitu mirip denganku semasa hidup.

Inilah alasanku tak bisa meninggalkan dunia ini.

Yah, meski sudah tak ada gunanya. Aku sudah mati.

Yang tersisa hanyalah——— Kobato.

Awalnya, aku hanya berniat memainkan gim “memanipulasi orang-orang isekai”.

Kobato hanya pion bagiku.

Kalau dia mati, ya sudahlah——— tak masalah, kupikir begitu.

Tapi kalau kupikir kembali, cara pikir itu benar-benar sampah.

Dia tipe pion yang seharusnya masuk ke kelompok Ayaka.

Tak ada alasan bagiku untuk mendekatinya.

Sederhananya…… saat itu aku sudah melihat kucing itu.

Kucing——— ilusi Mama.

Saat pertama kali tiba di dunia ini, aku begitu lega karena “gangguan” itu hilang.

Kupikir, akhirnya aku bebas.

Kupikir aku bisa terbang tanpa ada kucing sial itu.

Tapi…… ternyata tetap ada.

Seorang teman sekelas yang mirip Mama.

Kalau kupikir kembali, tanpa kusadari caraku memperlakukannya mulai berubah.

Tanpa sadar.

Tidak…… aku sebenarnya tak mau menyadarinya.

Aku tak mau mengakui kalau kucing itu masih ada.

Aku muak.

Di lubuk hati, aku mati-matian ingin percaya “yang ini berbeda”.

Ahhhh……

Karena Kobato——— karena Mama, mahakaryaku yang menjanjikan justru berubah menjadi game busuk.

Yah, begitulah hidup.

Ada orang-orang yang memang suka game busuk, bukan?

Pada akhirnya……

Entah bagaimana, jauh di dalam hati, aku pasti mencintainya——— Mama.

Kalau tidak, semuanya takkan jadi seperti ini.

Hmm…… tetap saja, manga-manga itu…… dan bagaimana akhirnya……

Tak bisa membacanya, mungkin itu satu-satunya penyesalanku.

Pokoknya, Mama…… nikmatilah hidupmu bersama pria itu.

Putrimu yang tersayang sudah bersusah payah mencarikannya, tahu?

———Sampai jumpa, Mama.

Kalau surga dan neraka memang ada, aku pasti masuk neraka.

Artinya……

Pria itu mungkin ada di sana juga.

Haaah…… mungkin aku akan bertemu dengannya lagi……?

Yah, tak bisa dihindari.

Rasanya Mama takkan masuk neraka, tapi kalau kebetulan pria itu ada di sana———

Kurasa aku akan mencucinya otak lagi, lalu menyingkirkannya.

Dan dengan itu…… benar-benar, sungguh-sungguh——— Game Over.

……Dengan begitu, selamat tinggal.