The Principle of a Philosopher Chapter 420

The Principle of a Philosopher
Eternal Fool “Asley” – Chapter 420
Duodecad, yang Baru dan yang Lama



“Ugh, hebat! Aku sudah menyuruh Lylia untuk MENCEGAH kamu melakukan hal yang barusan kamu lakukan, tahu! Benar-benar buang-buang usaha!”


Kenapa aku doang yang kena ceramah Irene?

Lylia baru saja keluar dengan canggung dari ruang kepala profesor, dan tidak ada satu pun yang menghentikannya.

Dan Tūs, yah, dia bahkan tidak muncul untuk diceramahi sejak awal.

Mungkin tidak masalah kalau aku ikut keluar sekarang? Tidak, itu jelas tidak benar. Kenapa aku sempat mikir begitu?


“…Hei, kamu dengar nggak sih!?”

“Hah? Ah, iya, tentu saja dengar.”

“Dari bagian mana sampai bagian mana?”

“Dari bagian waktu kamu nanya aku dengar atau nggak.”

“Apa!? Itu sama aja kayak kamu nggak dengar sama sekali!”

“…Kurang lebih.”

“Ugh… sudahlah. Pokoknya ingat buat datang tepat waktu ke pertemuan berikutnya, ya?”

“……Hah?”

“…Pertemuan Duodecad, kalau kamu sudah lupa.”


Saat Irene menyipitkan matanya ke arahku, aku menepukkan kedua tangan, akhirnya ingat apa yang dia maksud.

Melihat reaksiku, Irene kembali menghela napas panjang.

Memang, hari ini aku seharusnya bertemu Duodecad. Hampir saja aku benar-benar lupa.


◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆


Tempat kelas sihir ternyata digunakan untuk banyak hal lain juga — bukan cuma belajar seperti biasa, tapi juga pertemuan dan rapat penting.


“Asley, duduk di sini.”


Aku menuruti instruksi Irene dan duduk di atas bantal tepat berhadapan dengan pintu masuk ruangan.

Kalau ini meja rapat, posisi ini praktis adalah posisi ketua — meskipun mejanya berbentuk lingkaran. Apa benar aku pantas duduk di tempat sepenting ini?


“Jangan khawatir. Secara teknis, kamu yang paling tua di sini.”

“Kamu barusan baca pikiranku?”

“Keliatan jelas di wajahmu.”


Aku sebenarnya ingin bertanya maksud “secara teknis” itu apa, tapi suasana tegang dari Irene membuatku menahan diri.

Irene tidak duduk di bantal di sebelahku, melainkan tetap berdiri dengan tangan terlipat sambil menunggu yang lain datang.

Yang lain? Ya tentu saja, Duodecad.


“Oh? Apa aku yang pertama datang?”


Sebenarnya kamu yang ketiga, bocah.


“Hmm, datang cepat seperti biasa,” kata Irene.


Kalau tidak menghitung kami, mungkin dia memang yang pertama — Barun, si Scale Tipper.

Sepertinya anggota Duodecad lama juga diundang — setidaknya yang masih bisa hadir.


“Aku harus duduk di mana, Nona Irene?”

“Hmm… di situ.”


Bantal-bantalnya disusun melingkar. Kursi Irene ada di kananku, dan Barun duduk di kiriku.


“Halo.”

“Aku tidak menyangka kamu juga ada di sini.”


Barun adalah mantan anggota Six Braves. Jujur saja, aku memang tidak menduga dia akan dipanggil.


“Yah, aku juga tidak menyangka KAMU akan ada di sini, mengingat kamu dulu tidak pernah masuk Duodecad… Heh, bercanda. Kita juga bukan orang asing sepenuhnya, kan? Harusnya tidak masalah.”


Sambil berkata begitu, Barun terkekeh.

Dia termasuk yang paling sering datang ke kelas sihir, jadi kami sudah cukup sering bicara.

Hal yang sama tidak berlaku untuk kebanyakan anggota Duodecad lainnya.

Kalau dipikir-pikir, satu-satunya orang lain yang cukup nyaman untuk kuajak bicara mungkin… Dragan?

Kalau menghitung mantan anggota juga, ada Jennifer. Bukan Charlie — tanpa bermaksud jahat, dia terlalu berisik.


“Oh, aku terlambat?”

“Warren? Kamu ngapain di sini?”

“Aku di sini sekadar jadi perantara. Kita bakal kedatangan orang-orang aneh hari ini, soalnya. Ah, ngomong-ngomong, Sir Barun…”

“Ya? Kenapa?”

“Menurutku akan lebih bijak kalau kamu pindah dari kursi itu.”

“Hah? Kenapa? Aku duduk di sini karena Nona Irene yang nyuruh.”


Warren lalu menoleh ke Irene, yang berpura-pura tidak menyadari tatapan itu. Atau mungkin itu cuma perasaanku saja.

Pada akhirnya, Barun menuruti saran Warren dan pindah ke kursi di sebelah kirinya, menyisakan satu tempat kosong di antara kami.

Lalu peserta berikutnya datang — saudari Warren, Jennifer si Black Fist, mantan anggota Six Braves lainnya.


“……”


Dia masuk dengan wajah cemberut, tanpa berkata apa pun, lalu langsung melenggang lurus dan duduk di kursi sebelahku.


“Ah, begitu…”


Barun hanya berkata itu saja, membuatku sama sekali tidak paham apa yang sebenarnya dia tangkap dari pemandangan Jennifer duduk di sampingku.


“Lama tidak bertemu.”

“I-iya. Lama…”


Dan Jennifer jelas tidak sedang dalam suasana hati yang baik hari ini. Aliran energi arkananya normal sih — jadi ini bukan soal kondisi fisik. Ada sesuatu yang terjadi, ya?


“GAHAHAHAHAHAHA!”


Datanglah tawa yang pantas keluar dari mulut monster.

Irene tersenyum kering, Warren tetap tak tertarik seperti biasa, dan Barun… ikut tersenyum kering.

Tidak perlu menebak siapa — cuma ada satu orang yang kutahu bisa tertawa seperti itu.

Dan aku juga merasakan satu orang lain bersamanya — dari auranya saja sudah jelas mereka teman dekat.


“HAHAHA! Apa kami bikin kamu menunggu, Nona Irene!?”

“Tidak perlu khawatir, Sir Charlie. Waktu rapatnya belum tiba.”

“Ayolah, Dragan, aku cuma mau ngobrol santai! Sumpah, inilah bedanya pria sejati dengan yang bukan! GAHAHAHA!”

“Konsep yang… luar biasa. Tapi untuk sekarang, mari kita duduk dulu.”


Dragan, yang sudah terbiasa menghadapi Charlie, langsung menghindari obrolan dan menyeretnya duduk.

Charlie — dikenal sebagai Thousand Morphing Blades, mantan pemimpin Duodecad. Dan Dragan si Dainty Tiger, juga mantan anggota Six Braves. Akhir-akhir ini, Dragan terlihat makin agresif dalam mengekang kelakuan Charlie yang kelewat heboh.

Charlie duduk di sebelah Irene, dan Dragan di sebelah Charlie. Warren berdiri di belakang Jennifer. Aneh rasanya melihat dia dan Irene tetap berdiri sementara yang lain duduk. Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa dengan budaya T’oued.

……Oh, masih ada yang datang. Dua orang — dan kebetulan, dua yang paling bikin aku tidak nyaman.


“…Wow, kelihatannya ada orang yang benar-benar benci sama aku di sini.”


Yang bilang itu begitu melihat wajahku adalah Catherine, si Benevolent Petal. Dia juga mantan anggota Six Braves, dan sekarang bekerja sebagai staf khusus di Guild Petualang.


“Tidak seburuk tatapanmu ke arahnya, Nona Catherine.”

“Oh, diamlah, Jacob!”


Yang satunya lagi adalah Jacob si Demon Blader — juga mantan Six Braves, dan staf khusus Guild seperti Catherine.

Mereka direkrut langsung oleh Guild Master Scott, jadi sebenarnya bisa dipercaya. Tapi kalau dibiarkan bebas? Siapa tahu mereka bakal berpihak ke mana. Eh, tunggu dulu…

Kalau mereka bukan lagi bagian dari Six Braves, berarti Duodecad yang sekarang seharusnya sudah tidak berfungsi, dong?

Seolah menjawab pikiranku, Irene angkat bicara,


“Baru sadar, ya? Duodecad di sana memang sudah tidak ada lagi. Jadi selain kamu dan Warren, semua orang di sini adalah mantan anggota Duodecad.”


…Oh.

Catherine duduk di sebelah Dragan, dan Jacob di sebelah Catherine.


“Apa, kamu juga di sini, bocah?”


Catherine berkata sambil menatap Barun. Dari sorot matanya, jelas mereka tidak akur sama sekali.


“Mohon maaf, Nona, tapi izinkan aku bertanya… apakah aku mengenal kamu?”


Barun memasang wajah polosnya, seperti anak kecil — yah, sebenarnya wajahnya memang selalu seperti itu.

Catherine jelas tidak terhibur. Dia malah makin cemberut, kerutan di wajahnya makin dalam.


“Kurang ajar, ingin kutendang pantatmu—”


Irene — yang mengatur pertemuan hari ini — langsung berdiri di antara Catherine dan Barun, mencegah situasi memburuk.

Dan barusan… Catherine hampir bilang “nendang pantatmu”, ya? Tidak menyangka itu keluar dari mulut seseorang yang dijuluki Benevolent Petal.


“Cukup.”

“Iya, iya!”


Yah, Irene memang bisa mengendalikan Catherine dengan mudah. Tidak banyak orang yang cukup kuat untuk melawannya.

Lagipula, Barun sendiri lebih kuat dari Catherine — sial, dia bahkan mungkin bisa jadi lawan sepadan untuk Irene.

Dia bekerja sekeras itu meski masih sangat muda. Dan fakta bahwa dia bisa menyembunyikan kekuatannya sedemikian rapi benar-benar menunjukkan betapa berbahayanya dia sebenarnya.

Satu orang lagi yang bisa melawan Irene adalah… Charlie, kurasa. Warren pasti setuju denganku, walaupun dia tidak akan mengatakannya karena Irene itu atasannya.

Dan aku juga tidak mengatakannya — karena aku ini seorang Filsuf yang bijak.

…Oke, sebenarnya karena dia bakal MARAH BESAR kalau aku bilang begitu.

Nah, sekarang… siapa lagi yang datang hari ini?


“Whew… energi arkana di sini padat sekali.”


Seorang pria berpakaian serba hitam masuk sambil terus mengetukkan tongkatnya ke lantai. Rambutnya pirang dengan guratan abu-abu, dan ada bekas luka panjang yang melintang lurus melewati kedua matanya. Itu Russel si Glorious Dark, salah satu dari Six Archmage.

Karena tidak bisa mengandalkan penglihatan, dia memiliki kendali luar biasa atas keempat inderanya yang lain — itulah sebabnya dia menjadi Archmage pertama yang berhasil menguasai Ultimate Limit.

Warren berdiri dan menuntunnya dengan memegang lengannya menuju tempat duduk.


“Oh, tanda energi ini… Sir Barun, ya?”

“Halo, Sir Russel.”


Catherine kembali memasang wajah masam, jelas masih kesal karena Barun pura-pura tidak mengenalnya tadi.

Dan karena Barun berinteraksi dengan Russel tanpa masalah, berarti mereka memang akrab. Heh, indikator yang cukup praktis.

Begitu Russel duduk, seseorang lain masuk — dengan tergesa-gesa.


“A-apa aku datang tepat waktu!?”


Seorang penyihir dengan rambut dan mata perak yang serasi — Amil si Super Silver Spirit, terkenal karena berhasil menjadi salah satu Six Archmage di usia yang sangat muda. Pengetahuan teknisnya soal pengucapan sihir itu GILA tingginya. Jujur saja, kalau dia mau mencoba, mungkin dia sudah bisa pakai Deca Spell.


“Ya, tepat waktu. Duduk saja di mana pun kamu mau, Amil.”


Mendengar itu dari Irene, Amil mengangguk ceria dan duduk di sebelah Russel.

Wow, semua orang benar-benar menghindari Jacob dan Catherine. Lumayan lucu dilihat.


“Boleh aku duduk di sini?”


Suara tak terduga terdengar dari sisi Amil — itu Natasha, salah satu Six Braves yang dikenal dengan julukan menyeramkan Unholy War Princess. Dia masuk tanpa seorang pun menyadarinya. Rambutnya perak, kulitnya pucat mencolok. Penampilannya cukup mirip dengan Irene, tapi auranya… jauh lebih lembut.

Anehya, Irene selalu menolak memberitahuku asal-usul julukannya.

Mungkin dia ingin aku bertanya langsung ke Natasha… tapi sejujurnya, aku tidak cukup berani untuk itu. Lagipula, karena julukan itu sudah terkenal, mungkin orang lain akan menjelaskannya suatu hari nanti.

Baiklah, sepertinya hampir semua sudah hadir.

Dan sekarang datang satu orang lagi — seseorang yang sebenarnya tidak kuduga akan muncul hari ini.


“..Hmph.”


Tangalán si Meteor Battlemage… orang yang menggantikan Irene sebagai salah satu Six Archmage setelah dia mengundurkan diri.

Dia juga Kepala Akademi Sihir. Kami sempat beberapa kali bertemu saat aku masih mahasiswa di sana.

…Oh, dia duduk di sebelah Jacob. Wah, dinamika hubungan di ruangan ini makin menarik saja.

Billy jelas tidak hadir hari ini, tapi bagaimana dengan Stoffel yang asli? Hmm, sepertinya tidak perlu berharap. Dia sudah lama menghilang tanpa jejak. Rumornya, Lucifer memakannya. Secara harfiah.

Soalnya, waktu aku bersama Kaoru, aku melihat sendiri “Stoffel” berubah menjadi Lucifer tepat di depan mataku. Tim penyelamat di Regalia juga tidak bisa melacaknya. Jadi kemungkinan besar, dia memang sudah tamat.

Jadi… siapa lagi yang ditunggu? Apa aku lupa seseorang? Maaf kalau iya, tapi aku benar-benar tidak bisa mengingat siapa pun…

…Dan tepat saat aku berpikir begitu, terdengar langkah kaki keras mendekat ke ruangan.

Lalu terdengarlah suara yang familiar—


“NONA LINA!?”


Benar. Egd.

Bagaimana mungkin aku melupakannya?

…Kadang-kadang, aku berharap aku benar-benar bisa melupakannya.

Post a Comment for "The Principle of a Philosopher Chapter 420"