Novel Red Shinigami Chapter 218
Bab 218 – Suasana Memanas
“Letnan Jenderal Snakes, ada satu permintaan—atau lebih tepatnya, usulan.”
Mayor Jenderal Pauter menyapa Patrick dengan nada hati-hati.
“Apa?” jawab Patrick singkat.
“Soal wyvern yang menjadi makhluk kontrak Anda,” lanjut Pauter.
“Untuk berjaga-jaga, kami ingin ada semacam penanda agar bisa dibedakan dari wyvern liar.
Memang ini wilayah paling barat, kecil kemungkinan wyvern dari Hutan Timur sampai sejauh ini, tapi tetap saja—kalau ada tanda jelas, warga akan jauh lebih tenang.”
Patrick mengangguk.
“Masuk akal. Ada benarnya.”
“Aku pikirkan nanti.”
“Terima kasih,” kata Pauter lega.
“Lalu, mengenai renovasi benteng—sejauh ini berjalan lancar. Apakah ada hal yang mengganggu perhatian Anda?”
Pertanyaan itu sebenarnya wajar… dan tidak wajar sekaligus.
Kenapa seorang mayor jenderal bertanya soal fasilitas benteng nasional kepada seseorang yang bukan komandan wilayah barat?
Jawabannya sederhana:
karena Patrick adalah Margrave Perbatasan.
Gelar itu bukan sekadar nama.
Wilayah seorang Margrave Perbatasan diperlakukan hampir seperti negara otonom.
Pajak wilayahnya boleh langsung digunakan untuk biaya pertahanan perbatasan—tanpa harus disetor ke pusat.
Bahkan, demi menjaga garis perbatasan, seorang Margrave berhak memulai perang atas penilaiannya sendiri.
Secara formal, posisinya berada di bawah Adipati dan setara dengan Markis.
Namun secara praktik, kekuasaannya mendekati penguasa negara bawahan.
Benteng Barat pun berdiri di dalam wilayah kekuasaannya.
Raja dan Kanselir sama-sama memandang konflik dengan Kekaisaran tinggal menunggu waktu.
Penunjukan Patrick sebagai Margrave Perbatasan—dan pelibatan dirinya dalam Angkatan Barat—jelas bukan kebetulan.
“Sejauh ini tidak ada,” jawab Patrick akhirnya.
“Pembangunannya rapi. Aku rasa berjalan dengan baik.”
“Syukurlah,” kata Pauter.
“Aku akan keliling sebentar lagi,” lanjut Patrick.
“Besok pagi kita kembali. Ngomong-ngomong… istriku dan para ksatriaku di mana?”
“Para ksatria tampaknya sangat kelelahan,” jawab Pauter hati-hati.
“Mereka sedang beristirahat di kamar.”
“Capek segitu saja?” gumam Patrick.
“Latihannya kurang, ya.”
“Sepertinya… kelelahan mental,” kata Pauter mencoba menengahi.
Patrick mengerutkan kening.
“Padahal aku sudah memberi mereka perjalanan udara yang nyaman.”
“…Itu di udara, Tuanku.”
“Pemandangannya luar biasa,” balas Patrick santai.
“Mau aku tunjukkan juga, Mayor Jenderal?”
Pauter langsung menjawab tanpa ragu,
“Terima kasih, tapi saya menolak.”
Jawabannya terlalu cepat.
♦︎♢♦︎♢
Patrick berdiri bersama Sonaris, memandangi Puu dan Pee yang sedang beristirahat.
“Jadi masalahnya, pelana saja tidak cukup jelas, ya?” kata Sonaris.
“Mungkin dari jauh sulit dibedakan,” jawab Patrick.
“Kalau cuma lihat siluet, orang pasti langsung panik.”
“Kalau begitu… harus sesuatu yang kelihatan dari jauh,” gumam Sonaris.
“Warna, mungkin?”
“Mewarnai sisik itu kejam,” jawab Patrick cepat.
“Iya juga,” Sonaris mengangguk.
“Ah! Kalau begitu sekalian saja—bagaimana kalau Puu dan Pee kita buatkan zirah?”
“Zirah?”
“Ya. Bukan cuma pelana. Kulit, seperti armor ringan.
Kalau dibuat agak mencolok dan berwarna, orang langsung tahu itu bukan wyvern liar.”
Patrick terdiam sesaat.
Lalu tersenyum tipis.
“Itu ide bagus.”
“Kalau pakai zirah, sekaligus jadi identitas resmi.”
“Mhm. Sekalian estetika,” tambah Sonaris santai.
Patrick mengangguk mantap.
“Baik. Nanti di kereta kita bahas desainnya.”
Dua orang itu saling menatap—
dan mulai bersemangat membicarakan perlengkapan tempur untuk wyvern
seolah itu topik paling wajar di dunia.
Post a Comment for "Novel Red Shinigami Chapter 218"
Post a Comment