Novel Red Shinigami Chapter 213

Bab 213 – Seorang Pria

Benteng Barat tengah berada dalam masa renovasi besar-besaran.

Kerusakan yang muncul selama pemberontakan sebelumnya akhirnya memperlihatkan berbagai kelemahan fatal benteng itu.

Yang paling utama adalah kesiapan menghadapi kebakaran.

Telah terbukti bahwa air sumur sama sekali tidak cukup untuk memadamkan api—terutama ketika seseorang dengan sengaja menyalakan api di banyak titik.
Sebagai solusi, air dialirkan langsung dari sungai terdekat, lalu ditampung di dalam benteng sebagai kolam penyimpanan.

Proyek itu sangat besar.

Agar jalur air tidak dimanfaatkan sebagai jalan masuk musuh, bagian bawah dinding benteng dilengkapi parit, lalu dipasangi jeruji besi tebal sehingga manusia tidak mungkin menyusup dari sana.

Efek sampingnya cukup menarik.

Sistem toilet benteng ikut diperbarui—dari sistem angkut manual menjadi sistem aliran air.
Kotoran dialirkan ke kolam, lalu keluar melalui saluran pembuangan menuju sungai.
Di kolam itu pula mulai dilakukan budidaya ikan.
Ikan memakan kotoran manusia, dan ikan itu sendiri bisa menjadi cadangan pangan saat pengepungan.

Secara teknis, efisien.
Secara perasaan—tidak terlalu menyenangkan.

Selain itu, area benteng yang pernah dibakar kini banyak dibangun ulang menggunakan batu, menggantikan struktur kayu.
Gudang makanan menjadi lebih aman, dan serangan tikus berkurang drastis.

“Laporan!”

Seorang prajurit berlari masuk.

“Dari Wilayah Snakes! Pemberitahuan awal! Besok, Letnan Jenderal Snakes akan datang melakukan inspeksi!”

“Kerja bagus. Mundur,” jawab pria bertubuh agak gemuk yang duduk di sofa.

Dialah Mayor Jenderal Pauter, komandan baru Angkatan Barat.

Ia menghela napas pendek, lalu menoleh ke wakilnya dengan mata biru yang tajam.

“Snakes datang,” katanya pelan.
“Sampaikan ke seluruh prajurit. Jangan ada yang aneh-aneh.
Kalau sampai ada masalah, kepalaku yang jadi taruhannya.”

“Siap,” jawab sang wakil.
“Lagipula… itu Dewa Kematian. Waktu inspeksi terakhir, ada prajurit yang mengira beliau cuma bangsawan muda biasa dan mencoba cari gara-gara.”

Ia melirik ke arah menara pengawas.

“Keadaannya jadi seperti itu.”

Pauter menggaruk rambut pirangnya.

“Kasihan memang… tapi setidaknya tanggung jawab tidak jatuh ke kita.”

“Benar,” jawab wakilnya lirih.
“Tapi jujur saja… sudah cukup lama. Rasanya kejam.”

Pauter terdiam sejenak.

“…Ya.”

Di puncak menara pengawas itu, ada seorang pria.

Lebih tepatnya—
dipaksa berada di sana.

Kaki pria itu terpasang pada cincin besi berpengunci yang menancap di lantai menara. Ia tidak bisa turun.
Makan dan minum diantarkan oleh prajurit lain.
Kebutuhan lainnya pun harus dibawa turun oleh orang lain.

Tidur?
Di kursi.

Sudah dua bulan ia menjalani hidup seperti itu.

Ia teringat senyum tipis pria muda itu.

“Sampai aku datang lagi, kamu jaga di sini.”

Kalimat itu terus terngiang.

Bagaimana mungkin ia tahu?

Bagaimana mungkin bangsawan muda itu ternyata seorang Letnan Jenderal—
dan lebih parah lagi, Snakes si Dewa Kematian?

Ia dulunya adalah raja jalanan di wilayah kumuh ibu kota.
Saat slum dibersihkan, ia terpaksa meninggalkan wilayah itu dan mencari pekerjaan ke barat.

Tubuhnya kuat.
Ia lulus seleksi tentara dengan mudah.
Latihan pun dilewatinya tanpa masalah.

Ia mulai percaya diri.

Selama tidak mengusik perwira tinggi, aku bisa berbuat apa saja di sini.

Kesalahan itu mahal.

Saat inspeksi, ia mencoba mengejek bangsawan muda yang terlihat rapuh.
Berniat menjatuhkannya di depan prajurit lain.

Hasilnya—

ia dihajar habis-habisan.
Dengan tangan kosong.

Ketika perwira datang berlari dan berlutut sambil berteriak,

“Snakes-sama! Mohon ampun!”

barulah ia sadar—

ia baru saja menantang monster yang namanya sudah menghantui ibu kota.

“Benar-benar sial…” gumamnya.

Lalu sebuah suara menjawab.

“Hei. Katanya besok dia datang lagi.”

Ia menoleh.

Seorang prajurit yang mengantar makan tersenyum kecut.

“Serius?” suaranya bergetar.

“Iya. Barusan ada utusan. Mayor Jenderal sudah mengumumkan ke semua orang.
Katanya, jangan bikin masalah. Soal kamu… semua sudah tahu. Jadi tenang saja.”

Pria itu menelan ludah.

“Akhirnya… aku bisa turun…”

Air mata menetes dari matanya.

Ia menangis—
bukan karena penyesalan,
melainkan karena akhirnya bisa kembali menginjak tanah.

Post a Comment for "Novel Red Shinigami Chapter 213"