Novel Red Shinigami Chapter 211
Bab 211 – Rasa Teh Hitam
Jumlah orang yang bekerja di Kediaman Utama Snakes sangat banyak.
Mulai dari pemeliharaan bangunan, penjagaan tembok—yang Patrick bersikeras menyebutnya pagar—hingga penjaga gerbang, pengawas jembatan angkat, dan pasukan keamanan di dalam area.
Bukan hanya prajurit.
Jumlah pegawai sipil juga besar.
Segala urusan yang tidak memerlukan keputusan langsung Patrick ditangani oleh mereka.
Baru setelah itu, laporan yang sudah diringkas akan naik ke mejanya.
Dengan dipandu Patrick, Sona berkeliling kediaman.
Para pelayan menatapnya dengan penuh perhatian, seolah berusaha mengukir wajahnya dalam ingatan.
Bukan karena kagum semata.
Semua orang di sini paham betul—
melakukan kesalahan fatal terhadap nyonya rumah sama artinya dengan memadamkan api hidup mereka sendiri.
Salah orang, salah sikap, habis sudah.
Setelah satu putaran penuh, Patrick menyerahkan Sona kepada Milko dan Amelia, lalu menuju ruang kerjanya.
Ia duduk di kursi, lalu menoleh ke Santino.
“Bawa berkas yang perlu persetujuanku. Ada laporan lain?”
Kalimat itu selalu ia ucapkan setiap kali kembali ke wilayahnya.
“Baik, Tuan Besar,” jawab Santino.
“Berkas ada di sini. Selain itu, dari Angkatan Barat—mereka menanyakan kapan Tuan Besar akan melakukan inspeksi berikutnya.”
“Laporan progres pembangunan?” tanya Patrick.
“Atau ada masalah?”
“Sepertinya tidak ada masalah khusus,” jawab Santino.
“Namun mereka sudah cukup lama menanyakan hal yang sama. Kapan Tuan Besar datang.”
Patrick mengernyit.
“Kenapa sampai segitunya…?”
Lalu matanya melebar.
“Ah—tunggu. Waktu inspeksi terakhir… ada sesuatu, ya?”
“Apakah ada hubungannya dengan kunci yang Tuan Besar titipkan sepulang inspeksi?” tanya Santino hati-hati.
“Ah! Benar!”
Patrick menepuk meja.
“Pantas mereka gelisah. Oke, bilang besok aku ke sana.”
“Baik. Saya akan mengirim pemberitahuan lebih dulu.”
“Sekalian,” tambah Patrick,
“siapkan pakan buat peliharaanku.”
“Yang ular besar dan dua wyvern itu, ya?”
“Saya terkejut saat melihat isi kereta.”
“Biasanya tidak kubawa ke sini,” jawab Patrick.
“Berapa kira-kira daging yang dibutuhkan?”
“Mereka sudah makan banyak di perjalanan. Satu ekor ayam per ekor cukup.”
“Dipahami.”
Saat percakapan itu berlangsung, kepala pelayan wanita, Lina, masuk membawa set teh.
“Tuan Besar, apakah akan minum bersama Nyonya?” tanyanya.
Patrick berpikir sejenak.
“Sekarang dia di mana?”
“Bersama Milko dan dayang, sedang melihat-lihat di atas tembok.”
“Hm… kalau begitu nanti saja,” kata Patrick.
“Untuk sekarang aku minum sendiri.”
“Baik. Saya siapkan.”
Lina menuang air panas ke dalam teko.
Aroma daun teh langsung menyebar lembut.
Patrick mengangkat cangkir dengan tangan kanan, menghirup aromanya, lalu menyeruput perlahan.
“…Ya. Tetap saja,” katanya pelan.
“Teh buatanmu yang paling cocok di lidahku. Dari dulu sampai sekarang.”
Lina tersenyum kecil.
“Terima kasih. Itu karena resepnya dari Ibu Anda.”
Patrick terdiam sesaat.
“Begitu ya…”
Lalu ia bergumam,
“Nanti waktu kembali ke ibu kota, mungkin aku ajak Sona mampir ke makam.”
Mata Lina sedikit berkaca.
“Ibu Anda pasti senang,” katanya lirih.
“Akhirnya bisa melihat menantu.”
Patrick mengangguk pelan.
Rasa teh hitam itu—
tetap sama seperti dulu.
Post a Comment for "Novel Red Shinigami Chapter 211"
Post a Comment