Novel Red Shinigami Chapter 210
Bab 210 – Kediaman Utama Snakes
Setelah semua persiapan selesai, rombongan Patrick melanjutkan perjalanan menyusuri jalan raya menuju Wilayah Snakes.
Perjalanan berlangsung terlalu lancar.
Jalan raya bersih sempurna.
Tidak ada perampok.
Tidak ada monster.
Bahkan satu goblin pun tidak terlihat.
Semakin mendekati wilayah inti Snakes, jumlah prajurit yang berjaga semakin bertambah.
Jumlahnya memang tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menunjukkan satu fakta sederhana—
masih ada orang yang mengincar nyawa Patrick.
Para bangsawan yang dijatuhkan ke status rakyat biasa menyimpan dendam dalam.
Bukan hal aneh bila ada yang berpikir, kalau tak bisa mengalahkannya di ibu kota, maka bunuh saja di wilayahnya sendiri.
Ain, bersama Pasukan Ular Hitam, terus mengumpulkan informasi dan menindak setiap ancaman yang terdeteksi.
Namun Patrick tahu betul—tidak ada yang namanya keamanan mutlak.
Ada orang-orang yang mampu menahan emosi, menunggu, dan mengincar satu celah kecil.
Tak lama kemudian, jumlah prajurit Snakes yang mengawal rombongan telah melampaui seratus orang.
Dan akhirnya, terlihatlah Kediaman Utama Snakes.
Hamparan tanah luas dengan bangunan yang, jujur saja, lebih pantas disebut benteng daripada rumah bangsawan.
Bekas Kediaman Rigsby lama kini difungsikan sebagai kantor pusat Serikat Penyulingan Snakes.
Pedagang dari seluruh Kerajaan Mentaru datang ke sana untuk membeli minuman keras, menjadikannya pusat distribusi alkohol terbesar di kerajaan.
Kediaman baru ini dibangun di sisi barat bekas Wilayah Rigsby, hampir berbatasan dengan bekas Wilayah Westin.
Daerah itu dulunya adalah lahan tandus yang tidak cocok untuk pertanian.
Sekarang—tidak lagi.
Jika dilihat dari udara, parit yang mengelilingi kediaman membentuk pola seperti dua segitiga yang saling bertumpuk, menyerupai bintang bersudut enam.
Air dialirkan langsung dari sungai terdekat.
Di dalam parit itu berdiri benteng dengan bentuk serupa.
Dan di pusatnya—bangunan utama dengan desain yang sama seperti kediaman Snakes di ibu kota.
Hanya saja, ukurannya hampir dua kali lipat.
Pembangunan parit dan benteng ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Orang-orang yang sebelumnya menganggur kini memiliki pekerjaan tetap.
Akibatnya, di Wilayah Snakes, hampir tidak ada lagi yang bisa disebut sebagai kaum miskin.
Di wilayah ini, justru kekurangan tenaga kerja.
Dengan dialirkannya air, lahan tandus berubah menjadi tanah subur, dijadikan pertanian langsung di bawah kendali keluarga Snakes.
Berbagai tanaman ditanam tanpa henti.
Bekas Wilayah Westin dan Rigsby memang sejak lama dikenal sebagai penghasil gandum.
Dengan pembelian besar-besaran oleh keluarga Snakes, ladang gandum terus meluas dan hasil panen meningkat tajam.
Produksi wiski pun ikut melonjak.
Para penyuling alkohol bukan sekadar “berteriak senang”, tapi benar-benar menjerit kekurangan orang.
Namun banyak pelamar lebih memilih pekerjaan konstruksi—lebih mudah dipelajari dan bayarannya stabil.
Dan pekerjaan konstruksi itu sendiri… belum pernah berhenti.
Renovasi benteng barat.
Relokasi benteng utara.
Proyek demi proyek berjalan bersamaan.
Bukan tanpa alasan muncul rumor:
“Pergilah ke Wilayah Snakes kalau ingin bekerja.”
Bahkan, slum ibu kota mulai berkurang penduduknya secara nyata.
Sebagai penampung, Patrick membangun kompleks perumahan milik keluarga Snakes—rumah susun dengan sewa murah.
Orang-orang tinggal di sana, bekerja, menabung, dan bercita-cita memiliki rumah sendiri.
Saat ini, Wilayah Snakes adalah wilayah paling hidup di seluruh kerajaan.
Saat rombongan mencapai parit terluar, sebuah jembatan angkat besar diturunkan.
Patrick melambaikan tangan.
“Kerja bagus.”
Para prajurit berdiri tegak dan memberi hormat.
Setelah melewati dua jembatan, rombongan sampai di dinding batu besar—
yang Patrick bersikeras menyebutnya sebagai “pagar”.
Para penjaga membuka gerbang, para prajurit di atas tembok ikut memberi hormat.
Begitu melewati gerbang itu—
barulah kediaman utama terlihat jelas.
Seorang pria tua berdiri menunggu di depan bangunan utama.
Ia membungkuk dengan gerakan yang sempurna.
“Selamat datang kembali, Tuan Besar,” ucapnya.
“Dan salam perkenalan, Nyonya Sonaris.
Saya Santino, kepala pelayan Kediaman Utama Snakes.
Mohon kerja samanya ke depan.”
Dengan itu—
Patrick Snakes akhirnya benar-benar pulang ke wilayahnya sendiri.
Post a Comment for "Novel Red Shinigami Chapter 210"
Post a Comment