Bab 164 – Kendaraan?
Keesokan harinya, pasukan Baron Stein berkumpul di depan kediaman keluarga Snakes.
Begitu gerbang dibuka oleh penjaga, mereka berbondong-bondong masuk ke dalam.
(Kasihan.)
Penjaga gerbang hanya bisa berpikir begitu.
Dari jendela lantai dua, Patrick mengamati pemandangan itu dari atas.
Pintu utama kediaman terbuka. Patrick keluar bersama lima orang ksatria.
“Selamat datang di kediaman keluarga Snakes. Untuk Baron Stein, kami sudah menyiapkan hadiah terbaik. Silakan diterima. Ain, bawa itu ke sini.”
Ain meninggalkan tempat itu sejenak, lalu segera kembali membawa sesuatu.
—
“Apa itu!?”
“Apaan lagi itu!?”
Para prajurit Baron Stein spontan berseru.
Di depan mereka ada manusia gemuk yang merangkak dengan empat kaki. Kepalanya ditutup karung kasar. Ain menunggangi punggungnya sambil mencambuk agar ia bergerak maju. Dari dalam karung terdengar erangan teredam.
“Ini kendaraan langka yang kami temukan di suatu tempat. Kupikir cocok sebagai hadiah untuk istri Baron Stein. Katanya beliau menyukai hal semacam ini.”
Wajah Baron Stein langsung pucat.
(Kenapa… kenapa dia tahu soal selera istriku!? Dari mana bocornya!? Dan di depan pasukan pula!)
“A-aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan! Istriku tidak menginginkan benda menjijikkan seperti itu! Ini hanya selera buruk!”
Ia memaksakan kata-kata keluar dari mulutnya.
“Oh? Selera buruk? Kukira Baron sendiri juga menyukainya. Ain, lepaskan karungnya.”
Masih menunggangi punggung itu, Ain menarik karung dari kepala korban.
“—Geh! K-k-kamu!!”
Wajah yang muncul adalah wajah istri Baron Stein.
“Lihat? Favorit, bukan?”
“Apa yang kalian lakukan pada istriku!! Aku tidak akan memaafkan ini! Prajurit! Cabut pedang! Bunuh mereka!”
“Oh? Kamu yakin mau bicara begitu tanpa memastikan keberadaan putramu? Hehehe.”
Senyum Patrick membuat darah Baron Stein mendidih.
“Bajingan! Ke mana kamu membawa anakku!? Kamu menyusup ke wilayahku, bukan!?”
“Siapa tahu.”
“Cukup! Serang! Bunuh dia! Soal anakku, nanti para pelayan bisa dipaksa bicara!”
Sekitar empat puluh prajurit sekaligus menyerbu Patrick—
“Tidak semudah itu.”
Wiley maju lebih dulu.
“Benar,” sambung Van Pelt.
“Kalian kira bisa melewati kami?” kata Elvis.
Ain menyeringai.
“Baron, kuda ini mau diapakan? Dibunuh saja?”
Ucapan itu memicu Baron Stein. Dengan teriakan marah, ia berlari lurus ke arah Ain.
Seperti babi hutan yang mengamuk.
Namun di tengah lari, tubuhnya terjatuh keras.
“Uwaaagh!!”
Ia menjerit sambil berguling-guling.
Kaki kiri Baron Stein—dari lutut ke bawah—sudah tidak ada.
Darah muncrat ke mana-mana, makin parah karena ia terus berguling di tanah.
“Ini apa, ya?”
Patrick mengangkat sebuah kaki manusia dengan tangan kirinya.
“K-kembalikan!!”
“Untuk apa? Mau ditempel juga tidak bisa. Jadi—lempar.”
Patrick melemparkannya begitu saja.
Sekitar mereka, suasana sudah sunyi.
Pasukan Baron Stein telah dilumpuhkan oleh tiga orang dan tergeletak di berbagai sudut.
“Mau potion?”
Patrick mengocok botol kecil berisi cairan sambil menunjukkannya ke Baron Stein.
“Keparat… bunuh saja aku! Mau hidup atau mati, aku tetap akan dibunuh kerajaan!”
“Aku tidak butuh ku-koro dari om-om!”
“Tuanku? Ku-koro itu apa?”
Milko bertanya polos.
“Tidak penting. Abaikan.”
“Baiklah… lalu Baron Stein mau diapakan?”
“Siram lukanya pakai potion, lalu ikat.”
“Dimengerti.”
Milko melangkah mendekat ke arah Baron Stein, membawa botol potion yang baru saja ia terima dari Patrick.
No comments:
Post a Comment