Udara berubah seketika.
Baru beberapa saat lalu, Thesis masih tampak mengkerut, terintimidasi setelah diluapi amarah Loqierra.
Namun sekarang, berbeda.
Jelas——— tak terbantahkan.
Berbeda.
Rasanya seolah aku berdiri di bawah gravitasi yang menekan tubuhku ke tanah.
Tekanan padat dan mencekik———— begitu berat hingga jantungku seakan merasakan bobotnya.
Tenang dan hening, namun suara itu membawa intensitas mengerikan, seolah menggenggam hidup dan matiku.
Tatapan Thesis tidak tertuju langsung pada Vysis.
Ia memandang ke tanah, sedikit menunduk di depan kakinya.
Dan justru karena itu———— suasana menjadi semakin menyeramkan.
……Jadi begitulah.
Aku menelan ludah.
Ini……
Yang disebut…… peringkat kedua di hierarki Surga.
Tampaknya Vysis akhirnya menyadari posisinya, karena……
[Uuuu——— t-tidak, um…… a-apa maksud Anda……? Aku sama sekali tidak mengerti…… aku juga tidak pernah merendahkanmu……]
Mata Vysis bergerak gelisah ke sana-kemari.
Dengan pupil berkilau cahaya emas, Thesis melirik Seras sekilas.
[Di dalam High Elf itu bersemayam Roh Angin yang mampu membedakan kebenaran dari kebohongan.]
[Ah———]
Seolah baru tersadar……
Seakan melupakan sesuatu———
Itulah reaksi Vysis.
Thesis berbicara.
[Vysis.]
[E-eh…… y-ya……?]
[Aku ingin mengetahui motifmu. Aku tidak tertarik mendengar alasan kosong yang ditempeli kebohongan sia-sia.]
[ ! ]
……Jadi, rupanya dia sudah melihat semuanya.
Melirik ke samping, bahkan Loqierra mengembuskan napas lega, tangan menekan dadanya.
[Yah…… aku benar-benar tak menyangka Thesis-sama akan menelan mentah-mentah alasan rapuh Vysis itu…………………… tapi, sesaat saja…… benar-benar hanya sesaat, aku sempat khawatir.]
[……Kau.]
Jangan bilang——— dia belum sepenuhnya mempercayai Thesis?
Namun ia sama sekali tak tampak terguncang oleh perubahan Thesis.
Artinya, ia memang sudah tahu tentang “mode” ini.
[Thesis-sama itu punya dua sisi…… yang lembut dan agak linglung, dan yang barusan—serius. Unn…… aku sih senang kalau dia bisa selalu serius, tapi…… katanya itu cukup melelahkan baginya……]
Sebelum membuka matanya, Thesis rupanya berada dalam semacam mode hemat energi.
Lalu Loqierra melanjutkan.
[Ada satu kemampuan di mana Thesis-sama bahkan melampaui Dewa Kepala Origin-sama———— kekuatannya untuk mengintervensi Roh. Vysis seharusnya tahu itu, tapi panik dan lupa. Dengan kata lain…… Thesis-sama sudah tahu kekuatan Roh yang bersemayam dalam diri Seras.]
Jadi itu sebabnya dia bisa menilai ucapan Seras sebagai kebenaran.
Tanpa menatap Vysis, Thesis berkata,
[Vysis——— terlepas dari verifikasi kebenaran, tidakkah kau menyadari bahwa logikamu sendiri sudah runtuh? Sudah lama kita tak bertemu…… tapi kau menjadi tumpul. Mengira kau bisa menundukkan Thesis ini dengan omong kosong setipis itu.]
[T-Tidak…… t-tapi itu karena——— karena pencucian otak yang dilakukan Loqierra dan manusia itu padaku…… makanya aku membuat kesalahan bodoh seperti ini…… mereka merusak domain logika berpikirku……]
Vysis tidak menyadarinya.
Tidak——— lebih tepatnya, ia telah dibuat tak mampu menyadarinya.
Di antara mereka yang berada di posisi tinggi……
Atau mereka yang disebut veteran atau tokoh besar, ini cerita yang terlalu sering terdengar.
Bahkan ketika arah atau ucapan mereka keliru——— mereka tak menyadarinya.
Mengapa?
Karena tak ada seorang pun di sekitar yang menunjukkannya.
Tak ada yang mengoreksi.
Bukan karena tuntutan mereka masuk akal.
Melainkan karena status dan posisi.
Karena kekuasaan di luar nalar.
Karena mereka dikelilingi penjilat.
Karena mereka menyingkirkan orang-orang “tidak menyenangkan” yang berani mengkritik.
Status dan otoritas——— intimidasi dan kekerasan dominatif.
Dengan itu, bahkan tanpa nalar, keegoisan bisa menang.
Dan sering kali——— orang itu sendiri tidak menyadarinya.
Ada kasus di mana mereka benar-benar tak bisa melihatnya.
Mereka mulai percaya bahwa “logika” mereka benar, itulah sebabnya tuntutan mereka diterima.
Mereka mengira keadaan berjalan karena kebijakan mereka yang benar.
Padahal kenyataannya berbeda.
Orang-orang di sekitar hanya tak mampu menolak karena posisi dan keadaan.
Bahkan jika di dalam hati mereka berpikir “itu salah”……
Mereka terlalu takut pada “kekerasan” yang mungkin menimpa mereka.
Dalam kasus terburuk,
Sang Kaisar Telanjang pun mulai percaya dirinya istimewa.
Jika ada beberapa orang cakap di sekeliling——— anehnya, segalanya tetap berjalan.
Mereka menuruti Kaisar Telanjang, memanjakannya, dan masih menghasilkan hasil yang layak.
Dan tanpa sadar, ia mulai percaya logikanya benar———— bahwa semuanya “berjalan” karena itu.
Vysis kemungkinan hidup dalam lingkungan seperti itu.
Sangat lama.
Di dunia ini.
Ia menyingkirkan atau menjauhkan siapa pun yang mengganggunya.
Ia hidup di dunia di mana “logikanya” selalu lolos.
Vysis adalah satu-satunya dewi di dunia ini.
Kecuali Root of All Evil turun……
Tak ada eksistensi setara atau di atasnya.
Namun kini……
Berdiri di hadapan Vysis——— adalah eksistensi di atasnya.
Dalam posisi.
Dan mungkin juga dalam kemampuan.
Karena itu, tidak seperti sebelumnya……
“Tirani” Vysis tidak akan lolos———— dan memang tak mungkin dibiarkan lolos.
[Akan kau terus mengulanginya———— omong kosong itu.]
[Uuuu……]
[Kukira aku telah memintamu menyatakan motifmu, bukan?]
[B-Bahkan jika kukatakan…… t-tak ada untungnya bagiku……]
Tampaknya Vysis sadar bahwa kebohongan tak akan mempan pada Thesis.
[Dengan berkata jujur, tergantung apa yang kau katakan, kau mungkin bisa menghindari hasil terburuk, tahu? Aku bahkan mungkin menganggap ada benarnya. Namun——— ada syarat mutlak. Kau harus mengatakan kebenaran.]
Beberapa saat berlalu, dipenuhi konflik batin.
Lalu———
[………………….M-Maksud ku……]
Vysis mulai berbicara.
[Bukankah aneh jika ada hal yang ingin kulakukan, tapi aku tak bisa melakukannya karena batasan yang tak kupahami?]
[………………]
[Bahkan jika kau menyebutnya distorsi dimensi…… aku hanya ingin melakukan apa yang ingin kulakukan. Aku menginginkan kebebasan. Tidak, dunia ini…… aku tidak berpikir semua orang, di setiap dimensi, pantas melakukan apa pun yang mereka inginkan. Tak masalah jika hanya aku saja. Ya…… hak istimewa cukup ada untuk diriku sendiri. Memberikannya pada orang lain—jujur saja, aku lebih memilih tidak. Lagipula…… di dunia ini, satu-satunya yang perlu bahagia——— adalah aku.]
“Sejak awal,” lanjut Vysis.
[Saat m-manusia…… terlihat bahagia, a-aku muak. Perutku mual. Dan lebih parah lagi, orang-orang itu…… meski tak ada hubungannya denganku…… memaksakan sesuatu padaku. Tanpa peduli kehendakku…… “Dewi, Dewi”, katanya…… “tolong dengarkan”, “tolong lihat”…… menjijikkan. P-Padahal tak ada yang meminta mereka——— padahal aku sama sekali tak berkaitan dengan mereka. Aku tak tertarik…… pada laporan kebahagiaan b-bocah…… makhluk rendahan. Berbagi kebahagiaan…… b-bukankah mereka seharusnya mati saja?]
Cara bicaranya……
Seolah ia mengasihani dirinya sendiri.
[S-Saat suasana hatiku buruk…… setidaknya aku ingin orang-orang berhenti terlihat bahagia. Aku ingin mereka peka. Aku ingin mereka dewasa dan bersimpati pada perasaanku. Jika tak bisa…… maka tunduk dan diamlah. Tidak, jika mungkin, perlihatkan penderitaan kalian padaku, dan sembuhkan hatiku yang gersang. Bertingkah bahagia saat aku sedang buruk hati…… itu tindakan menyakiti yang sangat egois, seharusnya mereka sadar. Sejak awal…… hanya karena aku dewi yang baik…… t-tak ada kewajiban m-melaporkan hal sepele…… m-mengapa aku harus tersenyum dan merayakan “hal baik” yang menimpa serangga seperti mereka…… itulah yang kupikirkan. Dari lubuk hatiku.]
[…………Lanjutkan.]
[Namun sebaliknya…… saat aku sedang bahagia, aku juga ingin melihat m-mereka menderita. L-Lagipula…… ketika bocah-bocah itu menderita sementara hanya aku yang sangat bahagia…… bukankah itu yang terbaik? Rasa superioritasnya tak tertahankan. Rasanya seperti menang. Tidak…… bukan hanya manusia. Aku tak ingin ada eksistensi selain diriku yang lebih bahagia dariku…… di dunia ini—tidak——— di seluruh dimensi, aku ingin bertindak sesuka hatiku…… dan lebih bahagia dari siapa pun. Karena itu…… eksistensi dan elemen yang menghalangi harus disingkirkan…… m-mereka menghalangi…… semuanya…… semuanya……]
Vysis tersenyum.
Matanya terbuka lebar.
Senyum yang bercampur dua emosi.
Ketakutan——— dan keyakinan absolut.
Vysis benar-benar mempercayai dirinya sendiri.
[Katakan, Thesis-sama…… a-aku———]
Menempelkan tangan kanannya ke dada, Vysis melanjutkan.
[Apa aku…… salah?]
Kata-kata itu……
Bukan pertanyaan——— melainkan pernyataan.
Pernyataan bahwa ia tak mungkin salah.
Thesis membuka mulutnya.
[Vysis.]
[……Ya.]
[Aku memujimu karena berbicara jujur. Namun———— pernyataanmu tak lebih dari rasionalisasi yang sangat egois.]
[……………………]
[Pertama, mari bahas gagasan bahwa kebahagiaan adalah tindakan menyakiti. Kau mengatakan manusia yang tampak bahagia membuatmu marah, tapi bukankah itu———— karena kau sendiri memilih untuk terlibat dengan manusia?]
[……………………]
[Entah bawaan atau terbentuk——— mari kesampingkan kepribadianmu sejenak.]
Thesis melanjutkan.
[Jika kau bertindak sebagai dewi yang terpisah dari manusia, kau bisa membangun posisi seperti “dewi yang jarang menampakkan diri”. Eksistensi yang hanya muncul pada saat benar-benar genting, membantu dan membimbing. Dengan kata lain, hanya turun ke dunia fana saat mengurusi pemusnahan Root of All Evil. Jika kau memilih jalan itu, titik kontakmu dengan manusia yang kau benci akan jauh berkurang. Namun…… meski waktu panjang tersedia, kau tidak memilihnya. Mengapa?]
[Uuuu…… i-itu……]
Vysis terdiam, kata-kata tersangkut di tenggorokan.
[Kau ingin melihat manusia menderita———— dengan kata lain, pada dasarnya kau gemar terlibat dengan manusia dan menimpakan penderitaan pada mereka.]
[Ghk……]
Ia terus mengajukan pembenaran diri, mengklaim dirinya korban.
Namun ya——— Vysis sendirilah yang memilih terlibat.
Meski ia berkata manusia tak ada hubungannya dengannya.
Jika ia benar-benar tak ingin terlibat———— ia bisa menjaga jarak.
Dengan posisinya, ia bisa melakukan metode yang dijelaskan Thesis.
[Kau memandang dirimu sebagai korban. Namun itu hanyalah cara memberi legitimasi pada “serangan balik”mu——— tindakan menyakitimu. Kau tampaknya tak tahan berada dalam kondisi “salah”. Kecuali kau mempertahankan perasaan bahwa “akulah yang benar”, kau tak bisa menerima atau melakukan apa pun. Karena itu kau menyalahkan manusia, lalu dari posisi “korban yang malang”, kau membuat manusia menderita demi memuaskan keinginanmu.]
[T-Tapi……]
……Ya, sungguh, aku tak ingin berdebat dengan Thesis-sama saat ia sedang sepenuhnya serius.
Dan karena rasa ingin tahu semata……
Aku bertanya-tanya siapa yang akan menang jika ia berdebat dengan Ikusaba Asagi.
[Tidak ada “tapi”. Dan lagi…… aku tak mengerti apa yang begitu membuatmu tersinggung dari kebahagiaan orang lain. “Kebahagiaan”, sejak awal, lahir secara independen dalam diri tiap individu. Artinya, ia tak bisa benar-benar “dibagi”. Bahkan jika dua orang sama-sama bahagia, mereka tak merasakan kebahagiaan yang identik. Baik kami para Dewa maupun manusia, pada akhirnya kita entitas terpisah, masing-masing dengan perbedaan.]
Thesis berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
[Kau mungkin memahami kebahagiaan orang lain, tapi tak pernah bisa membaginya secara identik. Karena itu, kebahagiaan—sejauh apa pun—adalah milik individu. Ia adalah konsep yang sangat sunyi. Mungkin justru karena itu orang ingin melaporkannya dan membaginya——— namun jika kau tak suka menerimanya, solusinya sederhana: jangan terlibat. Atau, jika kau menganggap berbagi sempurna mustahil dan karenanya tak bermakna——— bukankah itu membuatmu tak perlu begitu gusar? Lagipula, pada akhirnya, itu tak ada hubungannya denganmu.]
Vysis tampak ciut, menggigit bibir.
[I-Itu……]
Sebagai satu cara pandang, ada benarnya.
……Meski dari sudut pandangku, ini juga terasa seperti hati Vysis yang sangat sempit.
Tetap saja…… mengesankan bagaimana Thesis berargumen sejauh ini demi memahami Vysis.
———Sedangkan aku.
Jika Eve dan Liz,
Nyaki,
Pigimaru dan Slei,
Seras———
Pamanku dan bibiku,
mengatakan padaku……
“Terjadi sesuatu yang sangat baik.”
Atau “Ada sesuatu yang sangat menyenangkan.”
Aku akan bahagia.
Tak peduli berapa kali mereka mengatakannya, aku yakin tetap bahagia.
Jika mereka bahagia, aku juga bahagia.
……Namun, jika orang tua kandungku hidup bahagia…… aku tak akan bahagia sama sekali.
Jadi ya.
Mungkin memang tergantung kebahagiaan siapa.
Thesis beralih ke poin berikutnya.
[Dan kemudian——— klaimmu bahwa aneh bila tak bisa bertindak sesuka hati. Sebenarnya…… tak seorang pun bisa benar-benar membatasi itu. Pada dasarnya, tak ada yang berhak menghentikannya. Itulah “kebebasan” esensial bagi semua makhluk hidup. Namun———]
Duk.
Seakan membungkam Vysis yang hendak bicara……
Thesis menghentakkan pangkal tongkatnya ke tanah.
[“Kebebasan” yang mengabaikan kehendak orang lain——— secara alami akan disertai konsekuensi reaktif. Keadaanmu sekarang juga bisa disebut “hasil” dari bertindak sesukamu. “Kebebasan”, pada hakikatnya, akan selalu menemui perlawanan selama ada pihak lain. Dengarkan baik-baik. Kebebasan tanpa dinding tak bisa disebut kebebasan. Hanya dengan adanya batas——— dinding—kebebasan menjadi kebebasan sejati. Dan selama ada pihak lain, kebebasan berlebihan pasti akan menabrak dinding di suatu tempat. Itu hal yang sepenuhnya wajar. Karena itu, meski aku tak menolak klaimmu atas kebebasan, hasil dari kebebasan itu———— kau tak punya pilihan selain menerimanya.]
[I-Itu——— sungguh absurd, Thesis-sama!]
[Siapa di antara kita yang absurd?]
[T-Terlalu kejam…… ini terlalu……]
[Yang terlalu kejam adalah klaimmu.]
[U-Uuuu……]
Seolah menyerah pada takdir———
Seolah sebuah tali putus.
Vysis ambruk lemah, kedua lutut menghantam tanah.
[……Aku mengerti. Aku…… mengakui dosaku. Karena itu……]
Menundukkan kepala, seolah menyerah pada segalanya——— Vysis berkata,
[Tolong biarkan keberadaanku dihapus…… biarkan aku dimusnahkan……]
[Apa yang kau katakan, Vysis? Kau———]
[……………………]
[Kau mencoba menghindarinya, bukan?]
[———Guh……]
[“Koridor Pemurnian.”]
Mendengar itu, Vysis tersentak mengangkat kepala.
[Thesis-sama! H-Hal itu——— tolong, apa pun selain itu……!]
Ia memohon.
Mungkin——— sungguh-sungguh.
Barulah Thesis mengangkat pandangannya dan menatap Vysis dengan benar-benar.
Ia menatapnya lekat.
Aku mendekatkan wajah ke Loqierra dan berbisik,
[Apa itu Koridor Pemurnian……?]
[Sederhananya, hukuman yang paling ingin dihindari oleh Dewa mana pun———— itulah Koridor Pemurnian.]
Jadi inilah yang Loqierra sebut “mungkin solusi terbaik”.
[Secara spesifik?]
[———Akan kujelaskan.]
Menunjuk Vysis yang berlutut, Thesis berkata.
Vysis menunduk lagi, mengertakkan gigi.
Putus asa——— itulah kata yang tepat.
[Koridor Pemurnian adalah sarana rehabilitasi terakhir bagi Dewa yang sepenuhnya ternoda kejahatan. Hanya Dewa Kepala dan aku yang mampu menggunakan Mantra Primordial Tingkat Tinggi ini. Mantra ini bertipe Anomali Non-Intervensi, tak dapat diperbaiki atau dimodifikasi, dan bahkan kini tak diketahui siapa penciptanya atau untuk tujuan apa. Kami memahami efeknya, namun intinya masih penuh ketidakpastian. Menurut pandanganku…… mantra ini mungkin diciptakan bukan oleh para Dewa untuk pemurnian diri, melainkan oleh pihak yang menentang para Dewa…… seperti Kutukan Terlarang, atau Skill Status Abnormal milikmu.]
“Yah, aku agak menyimpang dari pembahasan” lanjut Thesis.
[Koridor Pemurnian mengirim subjek ke sebuah “retakan” di celah antardimensi——— di mana mereka “dihukum” secara semi-permanen sampai kejahatan mereka sepenuhnya lenyap. Hukuman spesifiknya tidak diketahui.]
[Dan……], lanjut Thesis,
[Di masa lalu, hanya dua Dewa yang pernah kembali setelah menyelesaikan “rehabilitasi” di Koridor Pemurnian. Dari yang aku ketahui——— itu hanya 0,2 persen.]
Artinya……
Jika seribu dikirim———
Hanya dua yang kembali.
[Lebih jauh, keduanya berada dalam kondisi yang oleh dunia manusia disebut “vegetatif”. Setidaknya…… tak tersisa jejak dari pribadi yang dulu kukenal. Salah satunya berkemauan sangat kuat, jadi…… jujur, melihatnya dalam keadaan itu justru membuatku tertekan. Dewa Kepala yang mengirimnya saat itu——— dan kupikir itu yang terbaik. Jika kubayangkan akulah yang mengirimnya…… bagaimanapun, kondisinya begitu mengerikan hingga melukai hati pemberi perintah. Betapa pun kejam dan egois perbuatannya…… hari-hari di Koridor Pemurnian pasti benar-benar mengerikan———— aku bahkan tak ingin membayangkannya.]
Napas Vysis……
Menjadi tersengal, semakin panik.
Tetes…… tetes……
Keringat jatuh ke tanah.
[Biar begitu, individu itu perlahan…… pulih, dan kini bekerja tekun sebagai anggota Surga. Tak tersisa sifat jahatnya. Namun…… masih ada Dewa yang dulu dizaliminya, jadi kadang ia diperlakukan sinis, hampir seperti pelayan rendahan. Aku memang menegur mereka sesekali, tapi…… dendam bertahun-tahun itu sungguh menakutkan.]
“Hukuman yang paling ingin dihindari oleh Dewa mana pun.”
……Memang.
Dalam arti tertentu, itu lebih mengerikan daripada kematian.
Bagi Dewa——— bahkan lebih mengerikan daripada pemusnahan.
Dan masih ada lagi.
Satu hal belum disebut.
Kemungkinan besar——— yang satu lagi belum pulih dari kondisi vegetatif itu.
Thesis berbicara lagi.
[Alasan sifat hukuman di Koridor tetap tak diketahui adalah karena efek vegetatif itu. Keduanya tak memiliki ingatan tentang waktu di dalam Koridor.]
Vysis bergetar,
[T-Thesis-sama…… t-tolong, apa pun selain Koridor Pemurnian———]
Memotongnya, Thesis berkata,
[Kau telah melakukan kebodohan yang sungguh besar——— Vysis.]
Saat itu……
[Uuuh…… gh…… ghhhkk…… uuuu——— uuuuuuuurrgghh……!]
————Tatapan Vysis berubah.
Ia mengangkat wajahnya.
[ ! ]
Aku mengulurkan tangan———
[ < Para [<Hell————- ]
Tubuh Vysis tiba-tiba memancarkan cahaya hitam-putih—————
▲
▽
Fuuuu……
Kesadaranku kembali——— …………….
Atau…… mungkin tidak sepenuhnya?
Di penglihatanku……
Vysis, yang seharusnya berlutut, berdiri.
Ujung tongkat Thesis menunjuk lurus ke wajahnya.
Rasanya…… beberapa detik waktu terhapus.
Namun aku tak merasa pingsan……
Sensasi yang sangat aneh.
[……Apa yang barusan terjadi?]
[Tulah kemampuan paling khusus Thesis-sama.]
Thesis menatap Vysis dengan mata emas berkilau.
[Aku menghapus hasil “Sihir Dewamu berhasil”. Maka satu-satunya hasil yang tersisa bagimu sekarang adalah “Sihir Dewamu gagal”.]
[Ghh…… nngh…… uuuugh!]
[Kau paham itu sia-sia, bukan…… namun terpojok, kau berjudi dengan Sihir Dewa yang kuat——— namun percuma. “Hasil” yang kau inginkan tak bisa lagi diberikan di sini. Bahkan jika kau memilih kehancuran diri——— kau tak bisa melarikan diri.]
……Sekarang aku paham mengapa Loqierra berkata “akan baik-baik saja karena itu Thesis-sama”.
Inilah peringkat kedua di Surga——— Thesis.
[Namun……], gumam Thesis.
[Saat menggunakan kekuatanku, kurasakan “perlawanan”. Rupanya——— kau menyiapkan penangkal terhadap kemampuan ini. Jika kau tidak selemah ini dan berada dalam kondisi sempurna…… memikirkannya membuatku kembali bersyukur pada mereka.]
Ia menatapku.
[Maaf. Aku juga menghapus “keberhasilan” Skill Status Abnormal-mu. Aku tak bisa mengintervensi efek setelah aktif, namun bisa mengintervensi kausalitas sebelum aktivasi——— Touka Mimori.]
<Paralyze>-ku memang tak aktif.
Ia tak bisa mengubah efek, tapi bisa mencegah aktivasi.
[Kaulah yang pertama menyadari kejanggalan Vysis dan bertindak. Kini aku paham mengapa Loqierra begitu menghargaimu. Yang kedua bergerak adalah High Elf itu…… Seras, ya? Seperti kata Loqierra, kalian tampak pasangan yang serasi.]
[……………………]
Seras memerah.
Thesis kembali menatap Vysis.
[Vysis, mungkin kau tak tahu, namun…… jika target tak memiliki kejahatan yang jelas, Koridor Pemurnian akan menimbulkan distorsi dimensi yang ganas. Karena itu kami tak bisa sembarang mengirim siapa pun. Selain itu…… definisi “kejahatan” menurutku tak selalu sama dengan definisi pencipta Koridor. Maka———— aku perlu menggali motif dan perasaanmu, memastikan bahwa kau adalah “kejahatan” yang dapat dikirim tanpa masalah.]
Jadi itulah alasannya.
Bukan sekadar rasa ingin tahu.
[“Dengan berkata jujur, kau mungkin bisa menghindari hasil terburuk.”]
Itu…… hanyalah proses konfirmasi.
Vysis kini tampak benar-benar terpojok.
[Kau———]
Dengan wajah penuh kebencian, ia melotot pada Thesis.
[Kau…… nenek tua sialan……! J-Jangan berani-berani…… mempermainkanku……]
[Vysis.]
Tanpa tersinggung, Thesis berkata datar.
[Dewa Kepala dan aku sangat menghargai bakatmu sebagai peneliti.]
[ ! ]
[Secara adil, bakat akademik obsesifmu melampaui Loqierra. Bahkan Dewa Kepala berkata kau termasuk yang tertinggi di Surga. Kami menaruh harapan besar…… dan bersedia menoleransi masalah tertentu. Namun tanda Ragnarok Kedua muncul lebih awal, menyita perhatian kami…… sehingga kami gagal menyadari perubahanmu. Itu alasan——— namun tetap kelalaian kami. Karena itulah…… ini sangat disesalkan.]
Mendengar itu, Vysis melihat secercah harapan.
Dengan air mata mengalir, ia memohon:
[T-Tolong, maafkan kata-kataku tadi……! Aku panik oleh Koridor Pemurnian! Thesis-sama……! Aku sungguh——— bertobat saat ini! Tidak——— agar tak terdengar bohong, akan kukatakan begini: aku akan berusaha bertobat! Dan mulai sekarang…… aku bersumpah, sebagai peneliti yang patuh, akan mendedikasikan seluruh bakatku untuk Surga! Selamanya——— sebagai peneliti murni!]
[Sudah terlambat.]
Mata emas Thesis bersinar semakin kuat.
Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
Dengan wibawa ilahi dan otoritas khidmat———
Ia mengucapkan nama Hukuman Ilahi.
[ < Purification Corridor > ]
[T-Tidak…… tidak…… TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK————!!!]
No comments:
Post a Comment