Grimoire Dorothy Chapter 200
Chapter 200: Bahasa
Setelah saluran informasi terbentuk, Dorothy tidak lagi memerlukan The Literary Sea Logbook untuk berkomunikasi dengan sosok tak dikenal di seberang sana. Sebagai gantinya, ia langsung mengirimkan pesan suara melalui saluran tersebut.
“Persembahkan pengetahuan, maka pengetahuan akan dianugerahkan.”
Karena tujuannya adalah menipu pihak lain agar menyerahkan pengetahuan berharga, Dorothy harus terdengar mistis dan berwibawa, cukup meyakinkan agar lawan bicara tunduk tanpa banyak tanya. Untuk itu, ia memproses suaranya—menghilangkan ciri gender, usia, dan memberi resonansi yang dalam serta menggema.
Bagaimanapun, jika ia menggunakan suara aslinya yang masih kekanak-kanakan dalam percakapan suara, itu tidak akan meyakinkan siapa pun. Maka, pengubah suara adalah keharusan.
…
Di dalam sebuah tenda sederhana, Kapak menatap fenomena aneh yang terjadi pada buku bergambar di hadapannya, tidak tahu harus berbuat apa. Ia mulai bertanya-tanya apakah buku itu dihuni oleh roh kuat yang telah memperoleh kesadaran. Ia sempat berpikir untuk membawa buku itu kepada para pendeta suku untuk diperiksa, namun ragu—takut tindakannya justru membuat entitas di dalamnya murka.
Tepat saat Kapak diliputi kebimbangan, sebuah suara tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Suara itu asing—bukan laki-laki, bukan perempuan, bukan muda, bukan tua—dalam dan beresonansi. Kejutan itu membuatnya tersentak.
“Siapa?! Siapa yang berbicara di dalam kepalaku?!”
Sambil menggenggam senjatanya erat, Kapak waspada menoleh ke sekeliling, bergumam dalam bahasa sukunya. Namun ia sama sekali tidak memahami kata-kata yang baru saja bergema—bahasanya sepenuhnya asing baginya. Pengetahuannya tentang bahasa umum Pritt jauh dari cukup untuk mengerti apa yang dikatakan.
Gumaman Kapak itu tersalurkan melalui saluran informasi yang aktif dan sampai ke telinga Dorothy. Namun, yang mengejutkannya, ia pun tidak memahami kata-kata Kapak.
“Aku tidak mengerti ini… Jangan-jangan ini Aksara Roh? Kenapa dia memakai bahasa ini untuk berkomunikasi denganku? Atau jangan-jangan bahasa Pritt bukan bahasa ibunya?”
Dorothy berpikir sejenak, lalu mengirim pesan lain:
“Gunakan bahasa umum Pritt.”
…
Di dalam tenda, kebingungan Kapak justru bertambah saat suara aneh itu kembali terdengar, masih dalam bahasa yang tak ia pahami. Ia hanya bisa membalas dengan gumaman panik:
“Kamu siapa?! Aku tidak mengerti kata-katamu!”
“Sial… kemampuan bahasa Pritt-nya payah. Jelas bukan ahli bahasa.”
Di dalam toilet perpustakaan, Dorothy tak bisa menahan keluhan dalam hati. Awalnya, ketika Kapak memberikan perbandingan terjemahan antara kata “bodoh” dalam bahasa Pritt dan Aksara Roh, ia mengira orang ini seorang linguis. Namun kini jelas—Kapak hanya tahu sedikit kosakata Pritt, sementara bahasa ibunya adalah Aksara Roh.
“Jadi bahasa Pritt-mu payah, ya… Kalau begitu, aku ajari dulu. Urusan bayaran belakangan.”
Dengan pikiran itu, Dorothy segera menarik seluruh pengetahuan bahasa Pritt yang ia miliki, menyalinnya, lalu mengirimkannya melalui saluran informasi. Ia mengukir seluruh pengetahuan bahasa Pritt—ribuan kosakata dan struktur tata bahasa lengkap—langsung ke dalam Soul Codex milik Kapak.
Benar. Soul Codex bukan hanya untuk mencatat pengetahuan mistik; ia juga bisa menyimpan pengetahuan biasa. Selama kapasitasnya mencukupi, seseorang bisa menguasai suatu bidang secara instan.
“Urgh…!”
Di dalam tenda, Kapak tiba-tiba merasa pikirannya kosong. Ia refleks memegangi dahinya saat gelombang pusing menerjang—namun hanya sesaat. Ketika rasa itu mereda, ia menyadari ada sesuatu yang berubah. Benaknya kini dipenuhi sejumlah besar informasi baru.
“Ini… sebuah bahasa? Namanya… bahasa umum Pritt?”
Setelah menelusuri pengetahuan baru itu sejenak, Kapak bergumam. Lalu, seolah tersadar, ia bergegas ke peti koleksinya dan mengobrak-abrik isinya. Tak lama, ia menarik keluar sebuah buku kecil.
Begitu dibuka, Kapak tertegun. Ia kini memahami setiap kata di dalamnya. Yang sebelumnya hanyalah rangkaian huruf dan kalimat membingungkan, kini sepenuhnya jelas. Sekilas saja cukup untuk menyadarkannya bahwa buku yang selama ini ia simpan dengan penuh minat itu ternyata adalah sebuah buku petunjuk mesin uap.
Beberapa menit lalu, Kapak hanya menguasai segelintir kata bahasa Pritt. Sekarang, ia dapat membaca manual teknis lengkap dengan lancar. Kemahirannya nyaris tak bisa dibedakan dari penutur asli.
“Tidak mungkin…”
Menatap buku di tangannya, Kapak bergumam tak percaya. Ia lalu memeriksa dokumen lain dalam koleksinya—apa pun yang berisi tulisan—dan mendapati bahwa ia memahami semuanya. Kata dan kalimat yang dulu tak bermakna kini terang benderang.
“Apa… apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba bisa memahami segalanya? Bagaimana aku bisa menguasai bahasa para penjajah—bahasa yang disebut bahasa umum Pritt—dalam sekejap?”
Kapak sulit menerima kenyataan ini. Namun tak butuh waktu lama baginya untuk menghubungkan keajaiban tersebut dengan buku bergambar aneh dan suara misterius di dalam kepalanya.
“Mungkinkah itu nyata? Apakah benar ada roh kuat yang bersemayam di dalam buku ini? Apakah roh itu barusan berbicara kepadaku dan memberiku kemampuan memahami bahasa asing?”
Pikiran Kapak berputar. Di tanah luas ini, terdapat tak terhitung roh pengembara dengan kekuatan beragam—roh alam, arwah leluhur—yang berkeliaran di hutan, berlari di padang rumput, atau berdiam di dalam benda. Orang biasa tak dapat merasakan mereka; hanya para dukun suku yang mampu berkomunikasi dan memanfaatkan kekuatan mereka.
Saat ini, Kapak yakin bahwa buku bergambar ini dihuni—atau setidaknya terhubung—dengan roh yang sangat kuat. Dan barusan, ia telah berkomunikasi dengan entitas itu.
Sebagai anggota suku yang pernah membantu para dukun, Kapak tahu satu hal: roh harus diperlakukan dengan hormat. Dan roh yang mampu menganugerahkan kekuatan—entitas semacam itu menuntut penghormatan tertinggi.
“Wahai roh agung, yang keberadaannya melampaui pemahamanku, aku berterima kasih atas anugerahmu. Aku ingin mengetahui kehendak apa yang menyertai pemberian ini—bagaimana aku dapat membalas kemurahanmu?”
Kapak berlutut di hadapan buku bergambar itu, membungkuk dengan tulus sebagaimana ritual sukunya. Ia sengaja menggunakan bahasa yang baru saja dianugerahkan kepadanya—karena ia tahu, ketika para dukun memohon bantuan roh, selalu ada persembahan yang diminta.
…
“Fiuh… akhirnya aku bisa mengerti dia.”
Jauh di sana, di Perpustakaan Agung, Dorothy menghela napas lega saat mendengar bahasa yang familier. Kini Kapak fasih berbahasa Pritt, komunikasi yang layak pun bisa dimulai.
“Roh kuat? Sepertinya dia salah paham total. Ya sudahlah—biarkan saja. Selama dia bersikap hormat, itu sudah cukup.”
“Lagipula… orang ini tampaknya tahu berterima kasih. Baru menerima manfaat, langsung memikirkan balasan. Menghemat usahaku untuk menagih.”
Dorothy menyeringai dan mengirim pesan lain yang telah diproses melalui saluran informasi.
“Untuk pengetahuan, tukarkan pengetahuan…”
“Harga dari bahasa—adalah bahasa itu sendiri.”
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 200"
Post a Comment