Grimoire Dorothy Chapter 198
Chapter 198: Suku
Di sebuah hutan lebat, sebuah jalan setapak sempit berkelok ke depan, udara dipenuhi bau darah. Di jalur inilah sebuah pemandangan mengerikan tengah terbentang.
Di antara semak dan pepohonan, sebuah kereta kargo terbalik, muatannya berserakan. Di sekeliling kereta itu tergeletak tujuh atau delapan jasad prajurit, semuanya mengenakan seragam yang sama—tunik merah dan topi hitam. Mata mereka yang tak bernyawa menatap kosong, tubuh mereka tertancap anak panah dan tombak. Darah merembes dari luka-luka itu, membasahi pakaian mereka dan mengotori tanah.
Tak jauh dari kereta, agak menjauh dari para prajurit, beberapa mayat lain berserakan—para pria berpakaian kerja, tampak seperti buruh. Mereka semua tertembak di punggung, jelas tewas saat berusaha melarikan diri.
Di sekitar lokasi pembantaian, beberapa sosok berdiri. Dibandingkan tubuh-tubuh tak bernyawa di tanah, penampilan mereka sangat kontras.
Berbeda dengan para prajurit yang mengenakan seragam rapi, orang-orang ini memakai pakaian dari kain linen kasar. Bentuk pakaiannya beragam—ada yang berjubah panjang, ada pula yang bertunik pendek—dihiasi pola sederhana dan abstrak yang jika diperhatikan lebih dekat menggambarkan berbagai hewan. Tepi pakaian mereka diberi rumbai-rumbai kecil.
Semuanya adalah pria muda berkulit cokelat keperangan dan berambut hitam. Banyak dari mereka mengepang rambut menjadi kepangan panjang yang menjuntai di punggung, sebagian mengenakan ikat kepala dan bulu-bulu berwarna cerah. Wajah mereka dihiasi cat perang rumit, digambar dengan pigmen yang tak dikenal.
Di antara mereka, seorang pria tinggi berotot berdiri bertelanjang dada, punggungnya dihiasi tato kerbau liar yang membentang lebar. Ia mengamati pemandangan berdarah di hadapannya, lalu berbicara dengan suara berat dan bergema kepada rekan-rekannya.
“Ini kemenangan lagi bagi kita. Sekali lagi kita berhasil menyergap konvoi iblis berkulit pucat itu. Tanpa bimbingan Roh Liar, mereka tak berdaya di alam liar. Jangan takut pada kegagalan di masa lalu.”
“Di bawah pengawasan Roh Agung, kita akan membalas dendam. Iblis-iblis ini akan membayar kejahatan mereka dengan darah! Kita akan mengusir mereka—jangan sisakan satu pun yang hidup!”
“Ooohhh!!!”
Teriakan pria itu disambut sorak-sorai penuh gairah. Mereka mengangkat senjata tinggi-tinggi, suara mereka menggema di antara pepohonan. Namun di tengah perayaan itu, seorang pemuda tetap diam. Rambut hitamnya panjang dan terurai, ia mengenakan tunik pendek dengan sulaman burung elang. Tatapannya tertuju pada jasad para buruh yang terbunuh, ekspresinya sulit dibaca.
Keheningannya tak luput dari perhatian. Pria tinggi itu menoleh ke arahnya dan berbicara langsung.
“Kapak, ada yang salah? Kamu bertarung dengan berani tadi—aku melihat kamu membunuh setidaknya dua iblis berkulit pucat itu. Kenapa kamu tidak merayakan kemenangan kita?”
Mendengar namanya, Kapak ragu sejenak sebelum menunjuk ke arah jasad para buruh dan berkata dengan nada serius.
“Sado, kenapa kita membunuh mereka? Mereka bukan prajurit. Mereka menyerah dan berhenti melawan. Kamu memberi isyarat agar mereka pergi, tapi kemudian malah menyuruh menembak mereka dari belakang. Itu melanggar janji kita.”
“Kita tidak punya janji apa pun dengan para pendatang itu,” jawab Sado dengan tenang.
“Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun pada mereka—aku hanya melambaikan tangan. Itu bukan janji.”
Kapak mengernyit tipis, tetapi tetap melanjutkan.
“Tapi kita seharusnya tidak membunuh mereka yang sudah bukan pejuang, yang sudah menyerah. Kita sudah menang, bukan?”
“Menang? Tidak, Kapak, kemenangan saja tidak cukup,” kata Sado dingin.
“Aku menginginkan lebih dari sekadar kemenangan—aku menginginkan darah mereka. Mereka telah membantai orang-orang kita ratusan kali. Aku tidak akan berhenti sampai kita membalasnya seratus kali lipat. Aku ingin menghapus kota-kota mereka dari peta!”
Sado mengertakkan gigi sambil menyapu pandangan ke sekeliling pembantaian. Kapak, dengan wajah berat, menjawab dengan nada tertahan.
“Dengarkan aku, Sado. Aku pernah ditangkap oleh iblis-iblis itu dan dijadikan budak di kota mereka. Aku bekerja di pabrik dan perkebunan mereka. Dan ketahuilah ini—orang berkulit pucat juga kejam terhadap sesama mereka.”
“Di pabrik-pabrik mereka, orang-orang kelas bawah dipaksa bekerja tanpa henti, siang dan malam. Banyak yang roboh dan mati karena kelelahan. Saat aku membunuh pemilik pabrik dan membagikan hartanya kepada para pekerja, merekalah yang membantuku melarikan diri. Tanpa mereka, aku takkan pernah kembali ke suku kita. Para pekerja itu sama-sama korban, seperti kita.”
Sado melambaikan tangan dengan tak sabar.
“Cukup! Aku tidak peduli perbedaan di antara iblis berkulit pucat itu. Yang aku tahu, mereka datang dari seberang laut, menginvasi tanah kita, dan membantai orang-orang kita. Aku hanya menginginkan darah mereka—seratus kali lipat!”
“Ingat ini, Kapak. Kamu adalah seorang pejuang Suku Tupa. Kamu dilarang mengucapkan satu kata pun untuk membela iblis-iblis pucat itu. Kali ini akan aku biarkan, tapi jika kamu mengulanginya, aku akan menghukummu!”
Peringatan keras Sado membuat Kapak tertegun sejenak. Ia pun terdiam.
“Cukup bicara! Kumpulkan semua yang berguna. Ambil makanan dan tongkat penyembur api itu. Tinggalkan yang lain!”
Atas perintah Sado, para pejuang segera bergerak, menjarah konvoi yang disergap. Fokus utama mereka adalah makanan dan senjata api.
Saat para pejuang bergerak cepat mengumpulkan rampasan, Kapak melakukan hal yang sama. Ketika ia membalik jasad seorang prajurit untuk mengambil senapan, sesuatu menarik perhatiannya di bawah tubuh itu.
Sebuah buku—sebuah buku kecil bersampul biru. Tipis dan hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan, lebih mirip pamflet daripada buku sungguhan.
Rasa ingin tahu Kapak terusik. Ia membukanya sekilas, matanya langsung berbinar. Setelah memastikan tak ada yang memperhatikan, ia menyelipkannya diam-diam.
Begitu medan pertempuran dibersihkan, para pejuang memulai perjalanan pulang, menggunakan kuda-kuda yang tersisa dari konvoi untuk membawa hasil jarahan. Mereka menempuh perjalanan tiga hingga empat jam melintasi alam liar, hingga akhirnya mencapai perkemahan Suku Tupa pada sore hari.
Sebuah permukiman tenda dan bangunan darurat terbentang luas di hadapan mereka. Orang-orang suku—pria dan wanita, tua dan muda—berkumpul menyambut mereka. Banyak yang kurus kering, wajah-wajah mereka tampak letih. Di bawah tatapan penuh harap itu, Sado dengan lantang menceritakan “perburuan” mereka dan berapa banyak iblis berkulit pucat yang telah mereka bunuh.
Setelah perayaan usai, para pejuang membubarkan diri. Bebas dari kerumunan, Kapak segera kembali ke tendanya.
Di dalam ruang temaram itu, ia cepat-cepat memeriksa sekeliling sebelum berjongkok di dekat alas tidurnya. Ia membuka sebuah peti kayu di sisi tempat tidur.
Di dalam peti itu tersimpan berbagai benda: jam saku, jam tangan, pistol, patung-patung kecil, tongkat, botol kaca, topi tinggi—segala macam barang peradaban industri. Itu adalah koleksi pribadi Kapak. Pengalamannya hidup di kota telah menumbuhkan ketertarikan pada peradaban yang justru menginvasi tanah airnya, perasaan yang jarang dimiliki anggota sukunya. Di bawah kepemimpinan Sado, suku itu menolak barang-barang industri—kecuali senjata api, yang terlalu berguna untuk dibuang.
Kapak mengobrak-abrik peti itu lalu mengeluarkan sebuah lampu gas. Ia menyalakannya, cahaya hangat menerangi tenda. Kemudian ia duduk di alas tidurnya dan mengambil pamflet kecil yang ia sembunyikan tadi.
Di dalamnya terdapat gambar-gambar dan teks yang tidak ia pahami. Halamannya dipenuhi ilustrasi tinta hitam yang tersusun berurutan, seolah menceritakan sebuah kisah. Meski tak mengerti tulisannya, ia tenggelam dalam gambar-gambar itu.
Saat mencapai halaman terakhir yang kosong, matanya menangkap sebuah detail aneh.
Satu kata tulisan tangan—berbeda dari teks cetak sebelumnya.
Sebuah kata dalam bahasa umum Pritt.
Sebuah kata yang berarti—“Pengetahuan.”
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 198"
Post a Comment