Grimoire Dorothy Chapter 183

Chapter 183: Inquiry

Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa, beberapa hari telah lewat, dan kalender pun bergeser ke bulan September. Royal Crown University, yang secara resmi memulai perkuliahan pada akhir Agustus, kini telah berjalan cukup lama.

Langit cerah membentang di atas King’s Campus. Cahaya matahari menyinari menara-menara tinggi dan dinding bata tua, menerangi pahatan batu rumit di tepian atap dan bubungan bangunan—jejak usia yang telah bertahan puluhan tahun, kini kembali bermandikan cahaya lembut.

Sebagai kampus tertua Royal Crown University, bangunan-bangunan di King’s Campus telah berdiri lebih dari satu abad. Aura klasik dan khidmat melekat kuat, bahkan membawa kesan suram seperti kastel kuno. Namun suasana itu sama sekali tak mampu menekan energi muda para mahasiswa yang berusia sembilan belas atau dua puluh tahun.

Di lorong-lorong, para mahasiswa berjalan berkelompok kecil, menenteng buku dengan jumlah beragam sambil bercakap-cakap. Di atas hamparan rumput, sesekali terlihat sepasang mahasiswa duduk berdekatan, tertawa dan berbincang pelan. Dentang keras menara jam kampus menggema, membuat mereka yang memiliki jadwal kuliah segera bergegas menyusuri koridor.

Inilah kampus yang hidup—tempat lahirnya elite masa depan kerajaan. Masuk ke sini menuntut latar belakang keluarga yang mumpuni sekaligus bakat luar biasa. Para mahasiswa ini adalah calon pilar Pritt, dan keluarga mereka tentu bangga memiliki anggota yang belajar di institusi prestisius semacam ini.

Di dalam perpustakaan besar King’s Campus, rak-rak buku berjajar rapi. Cahaya matahari menembus jendela besar dari lantai hingga langit-langit, memandikan ruangan dengan kehangatan. Beberapa mahasiswa mondar-mandir mencari buku, sementara yang lain duduk tenang di dekat jendela, membalik halaman demi halaman. Dorothy termasuk di antara mereka.

Kalau Gregor tahu aku masuk universitas ini, dia pasti kegirangan sampai tak bisa tidur berhari-hari, pikirnya. Sayangnya, masuk universitas di usia tiga belas terlalu keterlaluan. Lebih baik dia tidak tahu dulu.

Mengenakan atasan cokelat dan rok kotak-kotak, Dorothy duduk di dekat jendela, menatap pemandangan kampus. Di hadapannya, tumpukan buku tebal menjulang di atas meja. Jika diperhatikan, semuanya berkaitan dengan sejarah Royal Crown University.

The History of Royal Crown University, The Notable Figures of Royal Crown University, The Origins of Royal Crown University, The Student Gazette, The Crown University Weekly…

Buku-buku inilah tujuan utama riset Dorothy. Ia berharap menemukan petunjuk tentang reruntuhan melalui catatan-catatan lama ini.

Ia telah menghabiskan beberapa hari di kampus. Berkat bantuan Beverly, Dorothy yang berusia tiga belas tahun kini resmi tercatat sebagai mahasiswa, lengkap dengan identitas dan arsip akademik. Ia bebas menjelajahi kampus tanpa hambatan.

Untuk memastikan Dorothy memiliki cukup waktu menelusuri misteri dan mencari reruntuhan, Beverly memberinya keistimewaan khusus—jurusan dan kelasnya hanya bersifat formal. Ia tidak diwajibkan mengikuti perkuliahan apa pun, meskipun tetap boleh hadir jika mau.

Memanfaatkan identitas khusus itu sepenuhnya, Dorothy belum sekalipun mengikuti kelas sejak pendaftaran. Seluruh waktunya dicurahkan untuk mencari pintu masuk tersembunyi menuju reruntuhan di dalam universitas, meski sejauh ini hasilnya nihil.

Awalnya, Dorothy berniat menggunakan boneka mayat kecil untuk menyelidiki gedung-gedung dan melacak arus keluar-masuk orang—seperti saat ia menemukan Serenity Bureau di Cypress Fir Tower di Igwynt.

Namun King’s Campus terlalu luas, berkali-kali lipat lebih besar dari Cypress Fir Tower. Boneka-boneka kecil itu tak mungkin memeriksa setiap sudut. Arsitektur tua yang kompleks hanya memperparah kesulitan. Tidak seperti Serenity Bureau yang memiliki banyak staf rutin keluar-masuk reruntuhan, King’s Campus tidak menyediakan target jelas untuk dilacak.

Setelah dua hari menyia-nyiakan tenaga tanpa hasil, Dorothy dengan tegas menghentikan metode yang tidak efisien itu. Ia beralih ke pendekatan lain.

Kini, fokusnya tertuju pada arsip kampus—menelusuri sejarah dan legenda urban untuk mencari kejadian-kejadian yang tampak sepele, namun mungkin menyimpan petunjuk tersembunyi. Reruntuhan sebesar itu, ditambah fakta bahwa lokasi ini pernah menjadi basis beberapa perkumpulan rahasia, mustahil tidak meninggalkan dampak apa pun pada universitas.

Karena itu, belakangan Dorothy hampir menghabiskan seluruh waktunya di perpustakaan King’s Campus. Dan setelah satu hari penuh menyaring informasi, akhirnya ia menemukan sesuatu yang menarik.

Dari berbagai dokumen, Dorothy menyadari bahwa King’s Campus sarat dengan kejadian aneh—fenomena yang berulang sejak universitas berdiri hingga sekarang.

Suara-suara misterius di lorong kosong, lukisan yang seolah hidup, mahasiswa yang tiba-tiba kehilangan akal sehat atau bahkan menghilang… Insiden-insiden ini muncul setiap beberapa tahun, seperti tradisi tak tertulis. Sejarah resmi universitas tidak pernah mencatatnya, namun publikasi mahasiswa penuh dengan kisah-kisah tersebut—di ambang antara fakta dan fiksi.

Awalnya, Dorothy cukup antusias. Ia menduga rumor-rumor itu berasal dari mahasiswa yang tanpa sengaja menemukan pintu masuk reruntuhan dan terpapar sisa pengaruh mistik di dalamnya. Dengan asumsi itu, ia mendatangi setiap lokasi yang disebutkan dalam arsip. Namun semua penyelidikan berakhir sia-sia.

Setelah satu hari lagi dipenuhi investigasi paranormal tanpa hasil, Dorothy mulai kecewa. Ia hampir yakin cerita-cerita itu hanyalah karangan mahasiswa.

Namun saat ia diam-diam memeriksa arsip mahasiswa lama, ia menemukan kasus nyata mahasiswa yang menghilang atau dikeluarkan karena kegilaan. Gejala kegilaan mereka sangat mirip dengan kontaminasi racun—tanda jelas adanya pengaruh mistik yang nyata.

Dari sudut pandang Dorothy, hanya ada dua kemungkinan sumber pengaruh tersebut. Pertama, kebocoran spiritualitas dari reruntuhan. Kedua, keberadaan sebuah perkumpulan rahasia di dalam universitas—entah terdiri dari mahasiswa, staf pengajar, atau keduanya.

Royal Crown University mengumpulkan elite Pritt dalam jumlah besar. Pendahulunya sendiri adalah basis berbagai perkumpulan rahasia. Di lingkungan seperti ini, lahirnya perkumpulan rahasia baru hampir tak terhindarkan…

Jika memang ada perkumpulan rahasia yang aktif, maka insiden aneh yang berulang setiap beberapa tahun masuk akal. Riset mistik selalu berisiko. Dan karena perkumpulan semacam itu bersifat berkelanjutan, insiden pun akan terus muncul.

Duduk di depan tumpukan buku, Dorothy menatap kosong sambil berpikir. Dari semua informasi yang ia kumpulkan, ini adalah kesimpulan paling masuk akal—dan ia punya cara untuk mengujinya.

Ia mengeluarkan sebuah koin emas berukir simbol Lantern, bersiap melakukan divinasi.

Jika divinasi ini berhasil, ia bisa memastikan apakah benar ada perkumpulan rahasia di universitas ini.

Apakah terdapat perkumpulan rahasia di antara mahasiswa dan staf King’s Campus, Royal Crown University?

Mengulang pertanyaan itu dalam benaknya, Dorothy melempar koin dan bersiap menangkapnya di punggung tangan.

Namun di detik krusial, terjadi kesalahan yang jarang ia lakukan. Koin itu terpeleset, memantul dua kali di lantai, lalu terselip di celah papan kayu. Kilau emasnya meredup saat berhenti tepat di depan matanya.

Dorothy langsung paham—divinasi itu gagal. Targetnya dilindungi oleh penghalang anti-divinasi, dan sumber daya yang ia gunakan tidak cukup untuk menembusnya. Sistemnya pun mengirimkan konfirmasi.

Untuk pertama kalinya, Dorothy gagal melakukan divinasi. Namun kegagalan itu tidak mengganggunya sedikit pun.

Ia mengambil koin yang kini kusam, meniup debunya, lalu bergumam, “Divinasi gagal… Aku menabrak penghalang anti-divinasi. Sesuai dugaan. Kalau memang ada perkumpulan rahasia yang berdiri di atas reruntuhan Star Numerology Scriptorium, mereka pasti memiliki akses ke Revelation untuk menangkal divinasi.”

Tujuannya hanyalah memastikan keberadaan perkumpulan rahasia. Divinasi yang berhasil akan menjadi bukti langsung—namun kegagalan akibat perlawanan justru merupakan bukti yang tak kalah kuat.

“Sekarang setelah keberadaan mereka terkonfirmasi, langkah berikutnya adalah melacak mereka. Setelah beroperasi selama bertahun-tahun, mustahil mereka sama sekali tidak tahu apa pun tentang reruntuhan.”

Menyimpan kembali koin itu, Dorothy melirik sekeliling perpustakaan yang sunyi, menguatkan tekadnya dalam diam.

Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 183"