Grimoire Dorothy Chapter 161

Bab 161 : Imajinasi

“Star Numerology Scriptorium…”

Mendengar kata-kata Aldrich, Dorothy bergumam pelan, pikirannya dipenuhi berlapis-lapis pemikiran.

Star Numerology Scriptorium, sebuah perkumpulan rahasia yang lenyap ditelan arus sejarah, satu-satunya yang pernah menapaki Jalur Wahyu. Menurut Aldrich, sejak kehancuran perkumpulan itu, tak ada lagi Beyonder yang benar-benar berjalan di Jalur Wahyu. Bisa jadi akulah satu-satunya Beyonder Wahyu sejati di era ini.

Kalau begitu, kalau aku ingin tahu lebih banyak tentang kenaikan Beyonder Wahyu, aku harus mencari reruntuhan yang ditinggalkan Star Numerology Scriptorium. Yang terdekat ada di Tivian…

Sepertinya… aku harus bersiap menempuh perjalanan jauh.

“Terima kasih atas informasinya, Tuan Aldrich. Sepertinya kau sudah memberiku arah yang jelas untuk masa depan,” ucap Dorothy tulus.

“Ah, tak perlu. Kau sudah banyak membantuku hari ini. Anggap saja ini imbalan yang wajar.” Aldrich menyeruput teh, lalu menaikkan alis sambil menatap Dorothy dengan ekspresi menggoda.

“Aku cukup terkejut, kau benar-benar tidak terpengaruh racun kognitif. Apakah ini ciri khas Beyonder Wahyu? Atau… hanya seseorang dengan kualitas unik sepertimu yang bisa menjadi Beyonder Wahyu?”

Dorothy tersenyum tipis, lalu menjawab pelan.

“Jadi… informasi yang baru kau katakan tadi memang beracun, ya?”

“Tentu saja. Beberapa detail soal kenaikan Gold-rank Jalur Batu, atau keberadaan Star Numerology Scriptorium—itu rahasia yang tak seharusnya diketahui orang biasa. Mana mungkin tidak beracun? Kau sudah terlalu sering membeli naskah mistik dariku, jadi aku curiga kau punya cara ampuh melawan racun kognitif. Hari ini kupastikan, heh… ternyata memang sangat ampuh.”

Aldrich terkekeh. Dorothy pun tahu kalau ini sekadar uji coba. Selama percakapan tadi, sistemnya sudah berkali-kali mengeluarkan notifikasi. Ia bisa saja berpura-pura terpengaruh, tapi menghadapi rubah tua sekelas Aldrich, topeng seperti itu pasti terbongkar. Lagipula, setelah mendengar rahasia beracun, ia justru bisa mengekstraksi spiritualitas tambahan.

“Rahasia tentang Beyonder Wahyu benar-benar menarik, Nona Mayschoss. Kalau suatu hari aku bisa menawarkan sesuatu yang layak, tolong barter denganku, ya.” Aldrich tersenyum.

“Kalau memang ada barang sepadan, mungkin bisa kita bicarakan,” balas Dorothy enteng.

Saat mereka berbincang, Vania yang terbaring di meja panjang tak jauh dari sana mulai bergerak. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka.

“Ugh… apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba pingsan…”

Sambil memegangi kepala yang masih pening, Vania duduk dan mencoba mengingat.

“Tadi aku sedang mengaku dosa di altar, lalu tiba-tiba ada suara keras di luar. Saat aku menoleh… aku melihat… monster! Monster dari tulang!”

Mengingat sosok raksasa bertengkorak rusa, Vania bergidik.

Apa tadi itu? Kenapa bisa muncul di sini? Monster semacam itu… kejahatan yang begitu menakutkan… mungkinkah itu tujuan sebenarnya dari misi kami? Apakah kehendak Aka sesungguhnya menunjuk pada monster itu, bukan sekadar bentrokan kecil dengan dua Beyonder tadi?

Sebelumnya Dorothy memang memintanya ikut dengan dalih kehendak Aka. Tapi sampai di sini, Vania hanya membantu melawan dua Beyonder rendahan. Ia sempat bingung—mengapa Aka, sang dewa sejati, memberi perhatian pada orang semacam itu?

Namun sekarang, semuanya masuk akal. Dua orang itu hanya permukaan. Sasaran sesungguhnya dari kehendak Aka adalah monster tulang itu! Makhluk jahat yang membuatnya pingsan hanya dengan sekali pandang! Senjata kedua Beyonder tadi pun terbuat dari tulang, jelas terhubung dengan monster itu. Mereka mungkin saja adalah kaki tangannya! Atau justru monster itu dipanggil dari alam dewa jahat oleh mereka!

Pikiran Vania makin liar, makin diyakininya benar. Ia pun percaya bahwa Beyonder yang mereka lawan tadi adalah para pemuja, mencoba memanggil entitas jahat untuk mendatangkan malapetaka. Kehendak Aka yang diterima Dorothy pasti dimaksudkan untuk menghentikan bencana itu!

“Jadi… ini kehendak sejati Aka, yang tersembunyi di balik permukaan?”

Vania terpaku. Saat ia hampir memutuskan untuk mengaku dosa karena sempat meragukan sang dewa, suara gerakannya menarik perhatian Dorothy dan Aldrich.

“Ah, Suster Vania, kau sudah sadar,” sapa Dorothy.

Mendengar suaranya, Vania terkejut. Ia buru-buru turun dari meja.

“Miss Dorothy! Kita di mana ini? Monster itu! Monster tulang jahat itu! Di mana dia sekarang?!” tanyanya panik.

Dorothy mendekat, menepuk bahunya sambil tersenyum.

“Tenanglah. Monster itu sudah dihancurkan. Kau tadi pingsan karena pengaruh sisa ilahi, tapi sekarang kau baik-baik saja.”

“Sudah dihancurkan? Syukurlah… tapi, sisa ilahi?!”

Mendengar itu, Vania makin yakin pada dugaannya.

“Sisa ilahi… berarti monster itu dipanggil dari alam dewa jahat? Pelayan dewa jahat? Apakah aku baru saja ikut melawan invasi dunia fana oleh pelayan dewa jahat?!”

Apakah ini kehendak Aka?!

Vania berdiri kaku, bibir bergetar. Sementara itu Dorothy menoleh ke Aldrich.

“Oh ya, suster ini juga ikut dalam misi dan banyak membantuku. Bukankah seharusnya kau memberinya hadiah juga, Tuan Aldrich?”

Aldrich tertawa kecil. “Heh… tentu saja. Tunggu sebentar.”

Ia berdiri dan masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan dua buku tebal bersampul keras.

“Ini naskah mistik yang ditulis sahabat lamaku dari Gereja Cahaya. Dia punya pemahaman unik tentang Jalur Lentera. Ku serahkan padamu, suster kecil. Pelajari baik-baik.”

“Ini…” Vania menerima buku itu. Matanya langsung tertumbuk pada nama penulis di sampul.

“Amanda Petit.”

“Amanda… Saint Amanda? Salah satu dari tujuh santo yang masih hidup di Gunung Sanctum, Saint Amanda?! Karya Saint Amanda? Lelaki tua ini sahabat Saint Amanda? Siapa sebenarnya dia…?”

Vania mengangkat kepala perlahan, lalu bertanya ragu, “Tuan, bolehkah aku tahu siapa Anda…?”

“Hanya seorang tua biasa. Terima kasih sudah datang membantuku menghadapi orang itu hari ini, suster kecil,” jawab Aldrich santai.

Menghadapi ‘orang itu’… maksudnya monster tulang itu? Yang mungkin pelayan dewa jahat? Jadi dialah ujung tombak pertempuran melawan makhluk jahat itu? Kalau begitu, bukankah dia, sama seperti Miss Dorothy, juga seorang pengikut yang dipandu Aka?

Seorang pengikut Aka, sekaligus sahabat Saint Amanda, salah satu dari tujuh santo?! Ini…

Vania ternganga, tak tahu harus berkata apa. Saat itu juga ia sadar—pengikut Aka di dunia fana ini mungkin punya pengaruh jauh melampaui bayangannya.

No comments:

Post a Comment