Bab 160 : Petunjuk
“Heh… Tak kusangka benar-benar kau yang melaporkannya. Tapi melaporkan orang dari organisasi sendiri ke kelompok lain—bukankah itu dianggap pengkhianatan?” Dorothy bertanya penasaran setelah mendengar kata-kata Aldrich. Lelaki tua itu menjawab dengan tenang.
“Tidak. Justru aku melaporkannya demi keselamatan Guild Pengrajin. Pikirkanlah—andaikan Deer Skull benar-benar menelan seluruh kota demi menciptakan sebuah mahakarya, lalu memenangkan kompetisi dan duduk di kursi Triad Emas, hanya untuk kemudian terbongkar, para agen rahasia maupun Gereja Cahaya akan datang menuntut jawaban. Saat itu, dia sudah menjadi salah satu Triad Emas, mewakili guild dalam skala besar, dan akan sangat sulit ditangani. Jika dua anggota lain Triad mencoba menyingkirkannya dengan paksa, Deer Skull—sebagai Gold-rank—punya kekuatan untuk memecah guild.
“Pada akhirnya, itu akan berujung pada keretakan total hubungan antara Guild Pengrajin dengan pemerintahan negara besar, juga dengan Gereja Cahaya. Sama sekali tak menguntungkan masa depan guild. Laporanku semata-mata demi masa depan guild.”
Nada Aldrich terdengar penuh keyakinan. Mendengar penjelasan itu, Dorothy merasa masuk akal. Tindakan Deer Skull memang mempertaruhkan masa depan guild. Dan, entah niatnya begitu atau tidak, Aldrich pada kenyataannya telah menyelamatkan seluruh kota—sesuatu yang jelas patut dipuji.
“Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Deer Skull diusir dari guild, jadi kaulah pemenang akhirnya, kan? Kenapa kau tidak berhasil naik ke Gold-rank?”
Dorothy melanjutkan, dan Aldrich menghela napas panjang sebelum menjawab.
“Setelah itu, memang aku yang menang, dan berhak naik ke Gold-rank. Tapi Deer Skull, menyimpan dendam mendalam, menyabotase ritual kenaikanku di tahap akhir, membuatnya berantakan. Akibatnya, aku terkena serangan balik.”
“Ritual itu sebenarnya tidak sepenuhnya gagal. Sesudahnya, aku memang memperoleh sebagian besar kemampuan dan status Gold-rank, tapi serangan balik itu menghancurkan tubuhku, terutama saluran spiritual yang menyimpan spiritualitas. Sekarang, meski secara teknis aku setengah Gold-rank, kapasitas penyimpananku hanya setara Black-rank.”
“Dengan spiritualitas yang terbatas, bahkan kemampuan Red atau White-rank sulit kugunakan, apalagi Gold-rank. Karena itu, aku menyembunyikan begitu banyak patung batu di sekolah—aku hanya bisa mengandalkan benda luar untuk melepaskan kemampuan tingkat tinggi. Itulah mengapa, dalam pertarungan kemarin, peranmu melawan bawahan Deer Skull jadi kunci pertempuran.”
Dorothy mengangguk, termenung.
Jadi serangan balik ritual itu menghancurkan ‘MP pool’ si kakek. Pantas saja dia butuh begitu banyak ‘mana potion’ untuk bertarung.
“Kau bilang Deer Skull menyabotase kenaikanmu. Itu berarti dia langsung menentang guild. Apa guild begitu saja membiarkannya?” Dorothy kembali bertanya.
Mencacatkan seorang Gold-rank yang sudah begitu banyak diinvestasikan guild—mustahil mereka sekadar melepasnya, kan? Sebelumnya memang hanya diusir, mungkin karena ada rasa iba, tapi setelah ini, bukankah Triad Emas akan membunuhnya?
“Mereka memang mengejarnya. Triad Emas segera mengeluarkan perintah pembunuhan bagi Deer Skull. Namun saat itu, dia menemukan penopang baru. Entah bagaimana, dia berhasil membujuk faksi besar Keheningan, Ordo Peti Mati Bawah, untuk menampungnya. Petinggi ordo itu turun tangan, bernegosiasi, dan melindunginya. Triad akhirnya luluh.”
Mendengar itu, Dorothy terbelalak.
“Mereka bisa diyakinkan begitu saja?”
“Heh… Tentu saja. Ordo Peti Mati menggunakan prinsip guild sendiri untuk menekan mereka. Mereka mengusulkan barter: menawarkan sesuatu dari pihak mereka sebagai ganti nyawa Deer Skull. Apa yang diminta, guild-lah yang menentukan.”
“Prinsip guild adalah dagang. Kami bisa berbisnis dengan siapa saja. Karena itu, begitu mereka mengusulkan barter, Triad condong menerima. Sebagai kompensasi untukku, Triad memberiku hak memilih apa yang kuambil dari Ordo Peti Mati untuk menutup kerugianku.”
Dorothy menajamkan mata penuh rasa ingin tahu.
“Lalu, apa yang kau pilih?”
Aldrich tersenyum tipis. “Aku memilih karya Deer Skull yang belum selesai, yang sudah mereka amankan.”
“Karyanya? Untuk apa kau menginginkannya?”
“Heh, tentu saja untuk balas dendam. Bagi kami Beyonder Jalur Batu, proses mencipta karya adalah proses kenaikan ke Gold-rank. Begitu ritual dimulai, tak ada jalan kembali. Untuk berhasil naik, dia harus menuntaskan karyanya lalu melangsungkan ritual. Dengan mengambil karyanya, kupastikan dia tak akan pernah berhasil naik ke Gold-rank.”
“Tapi bukankah itu berarti kau menciptakan permusuhan hidup-mati dengannya? Layak?” Dorothy masih terkejut.
Aldrich menanggapi santai, “Tentu saja layak. Aku tipe yang pendendam, meski cacat sekalipun. Dia merusak ritualku, jadi aku pastikan dia tak akan pernah berhasil.”
“Sesudah itu, aku meninggalkan lingkaran atas guild dan hidup menyendiri di berbagai kota, sekadar jadi perwakilan kota biasa. Sementara Deer Skull kalap memburuku, mati-matian ingin merebut kembali karyanya. Sudah lebih dari seratus tahun kami bermain kucing-kucingan.”
“Kadang dia menemukanku dan menyerang. Tapi aku selalu mendapat peringatan lebih awal, lalu memanggil bantuan petinggi guild atau sahabat lama untuk mengusirnya. Setelah itu aku pindah ke tempat lain. Itu berulang-ulang, sampai tiga puluh tahun lalu, atas rekomendasi sahabatku Amanda, aku datang ke sini jadi kepala sekolah, dan sejak saat itu tinggal di sini. Akhirnya, dia menemukanku lagi.”
“Kali ini, dia lebih cerdik. Untuk tak membuatku curiga, dia tak muncul sendiri, melainkan mengutus dua bawahan Black-rank yang tak mencolok. Setelah memastikan lokasiku, supaya aku tak sempat memanggil sahabat lama seperti sebelumnya, dia langsung mengirimkan avatar tulang terkutuk lewat para bawahan itu untuk melawanku, berharap bisa menghabisiku dengan cepat.”
“Heh… Tapi yang tak dia duga, aku sudah punya teman-teman baru yang bisa diandalkan di sini.”
Aldrich melirik Dorothy. Bibir gadis itu berkedut.
Dasar kakek, benar-benar mempertaruhkan nyawa demi menggagalkan kenaikan musuh. Tapi dengan kondisi sekarang, memang itu saja yang bisa ia lakukan. Dan ternyata dia juga teman Saint Amanda, dermawan sekolah ini? Jaringan kenalannya lumayan luas juga.
“Baiklah, sekarang kau sudah tahu hampir semua tentang dendamku dengan orang itu. Jadi, Nona Mayschoss, ada pertanyaan lain?”
Dorothy langsung menimpali, “Tuan Aldrich, kau seorang Beyonder Jalur Batu dengan Wahyu sebagai tambahan, kan? Aku ingin tahu, apa kau tahu sesuatu tentang Jalur Wahyu?”
Pertanyaan Dorothy membuat Aldrich menatapnya dalam-dalam, lalu menjawab serius, “Aku sudah mencurigainya sejak tadi, tapi tak kusangka kau benar-benar seorang Beyonder Wahyu. Lebih penting lagi, kau masih magang dan belum memilih spiritualitas tambahan. Itu berarti… kau adalah Beyonder Wahyu murni, yang menapaki jalur ini sejak awal. Benar, kan?”
Dorothy hanya terdiam, tak membantah. Itu cukup sebagai pengakuan. Aldrich tertawa terbahak.
“Hahaha… Amanda, oh Amanda, rupanya kau tidak salah merekomendasikan tempat kecil ini. Tak kusangka aku akan bertemu Beyonder Wahyu sejati di sini, yang sungguh berjalan di jalur Wahyu—sesuatu yang tak pernah muncul di zaman kita. Tulang tuaku tak pernah menyangka bisa menyaksikan sejarah lahir di depan mata, hahaha…”
Tawanya menggema keras. Setelah reda, Aldrich kembali menatap Dorothy, lalu menyebut sebuah nama.
“Star Numerology Scriptorium, satu-satunya organisasi mistik dalam sejarah tersembunyi yang pernah menapaki Jalur Wahyu. Mereka aktif dari Era Kedua hingga Keempat, sempat berjaya, lalu hancur oleh bencana tak dikenal.”
“Reruntuhan Star Numerology Scriptorium tersebar di seluruh benua. Bagi siapa pun yang mencari rahasia Wahyu, jalan terbaik adalah menelusuri reruntuhan itu. Aku sendiri pernah menemukan salah satunya dalam ekspedisi, dan dari situlah aku memperoleh kesempatan menjadikan Wahyu sebagai spiritualitas tambahan. Aku bisa memberitahumu lokasinya. Mungkin kau akan menemukan lebih banyak di sana.”
Aldrich menatap lurus ke mata Dorothy, lalu perlahan berkata, “Reruntuhan itu tak jauh, masih di dalam Kerajaan Pritt, tepatnya di ibu kota—Tivian.”
No comments:
Post a Comment