Novel Gadis Penjahit Chapter 43

Kehidupan Baru


Aku pun pindah.

Tujuannya: kota labirin, wilayah keluarga Stoll.

Katanya, tempat ini juga biasa dipakai sebagai kediaman pensiun para raja terdahulu.

Tentu saja ada sebuah mansion di sini, meski aku sendiri belum sempat memasukinya.

Kabarnya, labirin beratribut angin sangat jarang ada. Bahkan, di negeri ini hanya tersisa yang satu ini saja.

Enam bulan.

Itulah waktu yang ditetapkan. Arjit dan para ksatria akan bermarkas di sekitar labirin ini, berlatih melawan kutukan, mencari senjata beratribut pemotong yang mungkin bisa ditemukan di labirin, berburu roh angin tingkat tinggi, atau—jika beruntung—menemukan petualang yang sudah dilindungi roh angin atau memiliki senjata semacam itu. Tujuannya jelas: mendapat kerja sama mereka.

Dua hari setelah pesta perpisahan di rumah Rodin, semua orang melepas kami dengan ucapan selamat atas pernikahan yang akan datang.

Aku sendiri menangis sesenggukan saat harus berpisah dengan mereka yang sudah dekat denganku di kehidupan ini.

Sudah lama sekali aku tidak menangis sebanyak itu.

Saat baru lahir kembali, aku sering menangis karena teringat teman-teman di kehidupan sebelumnya, pekerjaan yang hampir kudapat, juga semua hal yang kutinggalkan. Waktu itu, karena masih bayi, aku hanya bisa menangis sepuasnya. Tapi lama-lama, aku terbiasa.

Begitu juga saat berpisah dengan guru privatku—yang mengajariku ilmu dasar dan pengetahuan umum.

Ia akhirnya dipecat karena tidak tahan melihat bagaimana aku diperlakukan keluarga Nuir. Aku sendiri waktu itu bahkan tidak sempat merasa kehilangan.

Semua terlalu mendadak: satu detik aku masih muridnya, detik berikutnya aku sudah dilempar ke kehidupan bak budak.

Tidak ada waktu untuk berduka. Bahkan sempat merasa lega karena akhirnya lepas dari keluarga itu.

Dalam hati aku pikir, “Sensei, baguslah kau bebas dariku.”

Baru sekarang aku sadar, aku memang sedih. Aku merindukan saat-saat belajar bersamanya, dan akhirnya… air mataku pun jatuh.

“Yui, kau baik-baik saja?”

Arjit mendekat, menjemputku yang sedang menangis, lalu mengangkat tubuhku dengan senyum miris.

“Maaf, aku sudah menyeretmu jauh dari tempat yang familiar.”

“Tak apa… kita masih bisa bertemu lagi, kan?”

“Ya. Pasti.”

Secara emosional memang terasa sepi, tapi perjalanannya jauh lebih mudah daripada dulu.

Saat dulu aku dipindahkan dari rumah Nuir ke rumah Rodin, tanah di sekitarnya sangat terbengkalai. Aku sendiri kala itu masih dicekoki pekerjaan sampai detik terakhir sebelum diusir. Tubuhku kekurangan tidur, kekurangan makan, dan harus melewati jalanan kasar dalam kereta untuk pertama kalinya.

Tak heran aku pingsan dan tak ingat berapa hari perjalanan itu berlangsung.

Sekarang, dengan kereta Arjit, hanya butuh tiga hari sampai ke markas baru.

Musim di mansion Rodin baru saja masuk awal musim panas. Tapi dua hari dalam perjalanan, udara mendadak dingin, dan pepohonan di luar mulai dihiasi daun merah kekuningan.

Apa aku baru saja melewati musim panas begitu saja?

Berbeda dengan masa lalu, kali ini kami sempat menginap di penginapan.

Aku mengenakan topi lebar berhias renda agar wajahku tidak terlihat jelas.

Dulu waktu sempat ke kota membeli kain, tubuhku masih kecil dan kurus, wajahku biasa saja, jadi bisa berbelanja tanpa masalah.

Sekarang… dengan penampilan ini, aku dilarang keluar bebas.

Ya… memang mudah saja orang salah paham. Hmph, dasar lolicon…

Tapi makanannya!

Di penginapan itu, makanannya sungguh enak. Ada semacam rebusan jeroan—mirip udon? Atau mungkin houtou?

Ada pula nasi dengan telur mentah di atasnya!

Dulu di kehidupan sebelumnya, aku pernah dengar teman bicara soal tamago kake gohan. Aku penasaran, lalu diam-diam mencobanya. Dan ternyata—nikmat luar biasa! Saking terharu, aku sampai menangis.

Di sini aku kembali merasakan kehangatan yang sama.

Mungkin seperti masakan ibu temanku dulu: sederhana, lembut, penuh kasih.

Makanan di rumah bangsawan Nuir? Hambar.

Bahkan setelah tinggal di mansion Rodin dan disuguhi masakan lezat, aku baru sadar kalau sebenarnya indera perasaku agak terganggu. Setelah mendapat perawatan kue Aria, barulah aku benar-benar bisa menikmati rasa makanan dengan penuh.

Tak heran aku jadi ingin mencicipi makanan enak sepanjang jalan. Kadang-kadang kami pun sengaja mengambil jalan memutar hanya demi itu.

Akhirnya, kami tiba di rumah baru.

Sebuah bangunan silindris berdiri di tengah kota.

Dinding batu abu-abu keras itu sudah dipeluk oleh tanaman ivy merah dan kuning.

Kesan kasarnya jadi melunak, seperti menara benteng tua yang dipotong dan ditaruh begitu saja.

Sementara Arjit dan yang lain berlatih, tugasku sederhana: menjaga rumah.

Aku harus membuat busana pernikahan untuk enam bulan mendatang.

Selain itu, juga menyiapkan pakaian tempur untuk para anggota yang akan menghadapi monster terkutuk.

Mereka adalah Arjit, Stoll, Mimachi, Raja Amnat, dan Lady Hania.

Mereka semua memiliki roh pelindung tingkat tinggi dan kemampuan api pemurni. Karena itu, meski berbahaya, mereka tak bisa dikeluarkan dari barisan tempur.

Tugas menjahitku akan lebih berat: membuat pakaian dengan pertahanan lebih tinggi, sekaligus memproduksi sarung tangan pemurni untuk Roh Kunifu.

Karena—roh itu adalah pelindung negeri. Dan kutukannya pun menyebar ke seluruh negeri.

Yang menahannya sekarang, hanyalah roh pelindung kecil milik Arjit.

“Anak-anak ini sudah mengorbankan hampir seluruh kekuatan mereka untuk mencegah kutukan itu menular kepada kita,” kata Arjit sambil menatap roh mungilnya penuh kasih.

Aku terkesima. Ternyata roh-roh kecil yang kini mirip bayi itu dulunya roh tingkat tinggi, bahkan menengah.

Hanya karena Arjit ingin merawat mereka, ia rela mengubah wujud mereka jadi seperti ini.

Selain mereka, ada juga penyihir Mishutu Toluamia—orang yang menghentikan perluasan labirin Aria. Ia teman Rodin dan Stoll. Katanya, ia akan bergabung setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu Enderia, kepala pelayan Rodin. Ternyata ia pun dibekali roh pelindung yang sangat kuat! Ia bahkan langsung bergabung sebagai anggota tempur.

Tiga pelayan perempuan yang dekat denganku juga ikut serta. Rasanya ingin menangis bahagia melihat mereka lagi.

Aku sempat sedih karena tidak sempat berpamitan, tapi ternyata mereka justru ditugaskan mengurus markas ini selama enam bulan.

Ada satu hal aneh yang kusadari.

Roh pelindung milik Enderia—dari jenis kegelapan tingkat tinggi.

Entah bagaimana, aku sadar aku nyaris tidak pernah melihat wujudnya secara jelas. Baru kali ini aku sadar… ia ternyata menyatu dengan bayanganku sendiri.

“Eh? Jadi selama ini kau ikut denganku?”

Aku teringat: roh itu, si Pangeran Ungu, pernah meleraikan jahitan berkah hanya dengan ayunan pedangnya.

“Bisa juga membongkar kutukan?” tanyaku.

Ia hanya membuat tanda silang dengan kedua tangan.

Bisa, tapi tidak boleh, begitu perasaannya.

Lalu ia mengangguk saat kutanya apakah Roh Kunifu pun bisa ia uraikan.

…Jujur saja, itu agak menakutkan.

Apalagi roh jantan sepertinya jarang sekali muncul. Selain dia, aku tak pernah melihat ada yang lain.

Mungkin, dia roh yang sangat khusus.

Bagaimanapun, susunan anggota sudah ditetapkan.

Arjit.

Stoll dan Mimachi.

Raja Amnat dan Lady Hania.

Komandan ksatria dan kepala pelayan tua.

Enderia.

Lalu kakak Lady Hania, yang katanya kekuatannya luar biasa.

Meski begitu, medan pertempuran pasti luas. Kami masih butuh tambahan orang.

Selama enam bulan ke depan, mereka semua berlatih dan mempersiapkan diri.

Pada saat yang sama, kami mencari siapapun yang memiliki pedang sihir beratribut pemotong atau roh angin tingkat tinggi.

Bukan hanya kami—seluruh negeri pun melakukan hal yang sama.

Karena mereka yang lahir dengan roh pelindung angin atau yang mewarisi pedang sihir semacam itu tak bisa dikekang dengan status maupun gelar.

Mereka bisa saja kabur kapan pun.

Karena itu, sebagai imbalannya, akulah yang harus menyiapkan perlengkapan jahitan berkah.

Post a Comment for "Novel Gadis Penjahit Chapter 43"