Novel Gadis Penjahit Chapter 42
Kehidupan Baru Lagi
Setelah itu, rupanya banyak pembicaraan yang berlangsung, tapi aku sendiri sudah terlelap.
Aku hanya sempat menyaksikan laba-laba kecil berevolusi, mengelus tubuh mungil yang baru menetas…
“Apa yang terjadi?” tanya Arjit.
Aku menoleh, ingin menjawab kalau roh kecil ini sangat imut, ingin menunjukkan wajah yang mirip dengannya. Tapi mulutku tak bisa terbuka… yang bisa kulakukan hanya tersenyum.
Aku tersenyum… lalu tubuhku roboh, seolah tertidur begitu saja.
“Semua orang jadi pucat pasi.”
“Dia sempat berhenti bernapas.”
“Kalau dipikir lagi, wajar saja… malah lebih parah daripada biasanya.”
Haha… maaf, Mimachi-san, Stoll-san. Aku memang sering tiba-tiba jatuh tertidur, dan kali ini bikin kalian panik.
Kalau dipikir, dalam waktu kurang dari setengah hari aku sudah menguras tenaga: menyebarkan kutukan Roh Kunifu, memperbaiki gaun Lady Hania, menyatukan roh pelindung Raja Amnat dan Lady Hania… lalu membuat busana untuk Aria, dan kembali menyegel kutukan Roh Kunifu.
Kalau ini terjadi pada diriku yang lama, mungkin aku sudah tumbang sejak tadi.
Pasti semua ini berkat perawatan Aria.
Saat aku membuka mata, aku sudah berada di ruang perawatan rumah Rodin.
Dokter yang dulu merawatku saat pertama kali ditampung Rodin, kini duduk di samping ranjangku—menangis.
Ya, wajar. Kemunculan kembali laba-laba leluhur Aria dan terbentuknya labirin membuatku diisolasi dan diperiksa habis-habisan.
Dan hasilnya…
Tubuhku memang rapuh. Meski mendapat perlindungan roh, jejak siksaan panjang tak bisa hilang sepenuhnya.
Kesimpulannya: kemungkinanku untuk bisa melahirkan rendah. Usia hidupku mungkin tak akan melewati tiga puluh.
Tapi dokter itu tersenyum di tengah air mata.
“Keadaanmu membaik jauh… tubuhmu memang tumbuh lebih lambat, wajahmu tak akan banyak berubah, tapi peluangmu untuk menikah, bahkan punya anak hingga menimang cucu—sudah meningkat.”
Para pelayan wanita terisak bahagia mendengarnya.
Katanya, itu semua berkat penyembuhan Aria.
Aku sendiri… hanya bisa mengantuk, terlelap hampir tiga hari.
Mendengar kegembiraan mereka serasa mimpi.
Jujur saja, aku tidak keberatan. Selama bisa tetap bekerja sebagai penjahit sampai akhir hayat, aku sudah cukup bahagia.
Karena ingatan kehidupanku sebelumnya, aku tidak panik meski tahu umurku pendek.
Secara mental aku sudah lewat usia tiga puluh.
Rasanya… tidak terlalu menakutkan.
Mungkin juga karena aku melihat Aria—sama-sama reinkarnasi—yang bahkan bisa menyambut kematian dengan senyum lega.
Kontrak Aria dengan laba-laba telah berakhir.
Katanya bisa diperbarui, asal aku bisa menamai laba-labaku sendiri kelak.
Aku ingin menjadikannya pilihan berdasarkan bakat dan sifat, bukan lagi garis keturunan.
Aku tidak pernah dekat dengan romansa di kehidupan lalu. Jadi meski dibilang aku mungkin bisa punya anak… yah…
Tapi… baju bayi, kaus kaki mungil… sangat imut…
Sejak saat itu pikiranku terus tertarik pada benda-benda kecil nan manis. Itulah awal kegemaranku membuat boneka kain.
Di keluarga biasa, ibu yang menjahitkan pakaian anak-anak.
Ada toko pakaian, tapi kebanyakan menjual baju bekas.
Toko kain memang ada, tapi yang layak hanya untuk bangsawan. Sisanya… hanya potongan kain yang dijual murah, dipakai jadi isian bantal.
Patchwork? Tidak ada.
Dulu adikku pernah pamer boneka porselen yang dibelikan orang tua—cantik, tapi menyeramkan, seperti bisa bergerak tengah malam. Aku malah takut.
Mungkin selera para nona bangsawan memang berbeda.
Aku, dengan ingatan kehidupan lama, merasa tidak puas.
Maka, aku pun mencoba membuat sendiri.
Bantal patchwork, tas serut, tas jinjing.
Futon besar.
Boneka kain imut dengan mulut bisa dibuka-tutup.
Beruang kain, boneka rajut, binatang kecil lainnya.
Sementara semua sibuk menyiapkan pindahanku ke kediaman Arjit—ya, lebih cepat dari rencana karena pernikahan tinggal enam bulan lagi—aku hanya dilarang ikut bekerja. Tubuhku belum stabil.
Jadi aku habiskan waktu dengan membuat banyak benda kecil nan lucu.
Dan roh-roh jadi sangat tertarik.
Biasanya roh jarang masuk ke tubuh manusia.
Tapi suatu kali, aku memasukkan tangan ke boneka mulut lebar buatan sendiri, pura-pura jadi boneka bicara “Grraaah!” di depan para pelayan.
Dan dari mulut boneka itu—keluar roh mungil, wajahnya lucu sekaligus geli, seperti sedang memakai kigurumi.
“Imut! Imut sekali!”
Aku spontan menjerit, berguling ke lantai saking gemasnya.
Para pelayan hanya bisa saling pandang bingung, melihat aku mendadak bergelut sendiri dengan boneka.
Post a Comment for "Novel Gadis Penjahit Chapter 42"
Post a Comment