421 - Dia yang Menjadi yang Terkuat dan Menghancurkan Segalanya
POV Dewi Vysis
Istana Kerajaan Enoh —— Ruang Tahta.
Duduk di atas takhta, aku menatap kepala Loqierra yang remuk.
Gelisah, kakiku menghentak lantai. Sambil menggigiti kukuku———
Bam!
Aku menghantam meja di sampingku dengan sekuat tenaga, menghancurkannya berkeping-keping.
[……Sampah sialan.]
Tak pernah terpikir olehku kalau Loqierra bisa menciptakan klon juga.
Gumpalan daging putih yang tergeletak di karpet itu…… kepala itu bukan yang asli.
Kecurigaan berkelebat dalam benakku.
(Kepala yang ditinggalkan Loqierra di sini……)
Seberapa banyak yang sudah dilihatnya?
Apakah informasi mengalir langsung kembali pada Loqierra lewat benda itu?
Seberapa banyak informasi yang bocor?
(Tidak……)
Mengingat kembali di mana kepala itu diletakkan, seharusnya ia tidak mendapat informasi penting.
[……………………]
Lupakan itu. Saatnya ganti arah pikir.
Pengkhianatan Asagi Ikusaba.
Aku sudah memperkirakan adanya pengkhianatan.
Namun cara itu terjadi——— tindakannya terlalu sempurna.
……Apa itu hanya sandiwara?
Saat dia mengaktifkan Unique Skill-nya, Asagi sendiri tampak benar-benar terkejut.
Seolah…… dia pun tak merencanakan apa yang terjadi.
Aku salah menilainya.
(Tidak, sejak awal———-)
Adalah kesalahan besar mempercayakan sesuatu pada kekuatan sampah dari dunia lain itu.
Belum lagi, para Pelayan Ilahi ternyata jauh lebih tidak berguna daripada bayanganku.
Mereka bahkan nyaris tak bisa membunuh seorang pun Pahlawan.
Paling banter, mereka hanya berhasil menjatuhkan Asagi Ikusaba.
Benar-benar tak berguna——— dari lubuk hatiku yang terdalam, mereka menjijikkan.
Kumpulan orang bodoh.
Menyedihkan.
Dan lebih buruk lagi, si brengsek Hijiri itu masih hidup.
Lebih parah, dia bahkan berhasil mengalahkan seorang Pelayan Ilahi——— Yomibito.
Serius? Keraguan lain menggigiti benakku.
Apakah Kirihara, Oyamada…… bahkan Yasu juga masih hidup?
Apakah mereka sekarang berpihak pada musuh?
———-Konyol.
Kalau memang mereka sekuat itu, mustahil mereka menyembunyikannya selama ini.
Mereka sudah mati…… atau setidaknya tak berdaya.
Ketiganya.
(……Tapi di atas segalanya,)
Fly King——— Touka Mimori.
Baik Ars maupun Wormungandr bertemu dengannya…… dan mati.
[Hambatan terbesar di sini jelas si lalat busuk itu…… Touka Mimori.]
Dan lebih parah lagi.
Yang membuat lalat busuk itu makin merepotkan adalah Seras Ashrain.
Kalau kupikir-pikir…… sejak awal, semua ini dimulai dari pelarian Elf terkutuk itu.
Kalau saja dia tak melarikan diri, Lima Ksatria Naga——— Civit tak perlu mengejarnya.
Dan karena itu, Civit mati, lalu Seras berakhir menjadi pion si lalat.
Apa-apaan itu?
Dia bisa menahan semua serangan Wormungandr, bahkan ketika dia bertarung habis-habisan?
Aku tak pernah dengar dia sekuat itu.
Saat ini…… dia hampir setara dengan Civit.
……Sialan.
Sialan, sialan…… sialansialansialan sialaaaaaaan————!
[Sialan semuanya.]
Aku menutupi wajah dengan kedua tangan.
Rasanya ingin muntah.
Tak ada——— benar-benar tak ada satu pun yang berjalan dengan benar.
Tidak sama sekali.
Sacred Eye masih belum dihancurkan.
Apa sebenarnya yang dilakukan orang-orang yang kukirim ke Azziz?
Kenapa butuh waktu selama itu?
Mereka tak lebih dari sampah tak berguna.
[……Semuanya.]
Pria itu.
Ini semua gara-gara dia.
Segala sesuatu yang kulakukan——— dia selalu menghalangiku.
Satu demi satu.
Semua yang kubangun…… diinjak-injak ke tanah.
Kenapa…… Kenapa semua yang kulakukan———
Kenapa semuanya harus dihancurkan?
Oleh sampah busuk itu———
[Andai saja dia tak pernah ada……! Pada akhirnya, semua ini———–]
Semua salah dia.
Semuanya salah dia, salah dia, salah dia, salah dia……
[ KAU PASTI SEDANG MENGEJEK-KU! ]
Bam!
Aku menghentak lantai, mata melotot penuh amarah.
Lalu tiba-tiba, kata-kata yang pernah kudengar lewat klonku——— perkataan Asagi, muncul kembali di benakku.
“Daripada membuangnya, seharusnya kau tetap menjaga dia dekat dan pastikan untuk menyingkirkannya sejak awal.”
Menyebalkan, tapi…… soal itu dia benar.
Seharusnya aku tidak repot-repot “membuang” dia.
Aku harus langsung membunuhnya.
Pastikan dia benar-benar mati.
Sekalipun itu menimbulkan distorsi pada dimensi.
[……………….]
Unique Skill Touka Mimori.
Pada akhirnya, itu ternyata faktor terburuk dari semuanya.
Kalau bukan karena Skill itu———— dia tak akan pernah jadi ancaman.
Dia tak lebih dari sampah E-Rank.
Ya…… Abnormal State Skill itu————–
……Skill itulah yang mendorong Touka Mimori menjadi ancaman terbesar——— yang terkuat di antara mereka semua.
[……Ini tidak lucu. Sama sekali tidak lucu. Benar-benar——— teramat menjengkelkan…… amat sangat menjengkelkan.]
Bahwa aku dipermainkan oleh sampah tak berguna.
Tak tertahankan, dari lubuk hatiku.
Mendidihkan darahku.
Kapan terakhir kali aku merasa semarah ini?
Meski begitu……
Pada akhirnya, dia hanya seekor serangga.
Apa yang perlu ditakuti?
[……………….]
Dan lalu——— kesadaran itu menamparku.
Kenapa?
Kenapa aku menyerahkan semuanya pada klon, bukannya turun tangan sendiri?
Kalau tubuh asliku mendukung Pelayan Ilahi itu, bukankah hasilnya akan berbeda?
Aku melirik sekeliling ruang tahta.
“Menunggu di sini, tempat Formula Sihir Penguatan telah dipahat.”
Menunggu Sacred Eye dimatikan……
Itu seharusnya jalan paling aman menuju kemenangan.
Di domain ini, mustahil ada kekalahan.
Bahkan melawan Seras.
Bahkan melawan Ayaka.
Jika aku bertarung di sini——— tak ada kemungkinan kalah.
Itulah kenapa aku tidak salah.
Tidak dalam hal apa pun.
(Ya……)
Menggunakan Pelayan Ilahi dan klon-ku untuk mengumpulkan informasi tentang sampah pemberontak itu.
Untuk mengetahui sejauh mana kekuatan tersembunyi mereka.
Gaya bertarung mereka.
Kelemahan mereka.
Dengan semua itu, ketika tiba saat “pertarungan terakhir” di sini, aku bisa bertarung jauh lebih aman.
Dan bila sampah itu kelelahan sepanjang jalan, terluka parah, berkurang jumlahnya———
Itu akan makin mudah.
Kemenangan pasti ada di tanganku.
[………………….]
……Benarkah itu pilihan yang tepat?
[————————-Apa mungkin?]
Ini…… mungkin sudah berulang kali disiratkan padaku, tapi……
(Aku——–)
……takut?
……takut pada si lalat busuk——— Touka Mimori……?
(……takut pada bocah busuk itu……? Aku……?)
Dari kelihatannya, Hijiri dan Itsuki sudah tidak bisa bertarung lagi.
Tidak…… mungkin Hijiri masih bisa memaksakan diri untuk kembali ke pertarungan.
Seingatku, Hijiri belum sampai kehabisan MP.
Tetap saja, kalau dia kesulitan menghadapi lawan sekelas Yomibito…… dia tak lebih dari remah kecil.
Lagipula……
Dia hanyalah sampah yang bisa mengalahkanku ketika aku sedang dilemahkan oleh Miasma Sang Tirani.
Ayaka Sogou juga bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Jelas-jelas dia lebih lemah dari Wormungandr.
Wormungandr memang tak berguna karena keyakinannya yang konyol, tapi……
Yah, sejak Sakramen buatan dari Agito itu muncul, Ayaka praktis tersingkir dari permainan.
[Fufufu, bocah polos itu mungkin hanya akan menangis tersedu-sedu dan tergeletak tanpa bisa melakukan apa-apa♪ Sayang sekali aku tak bisa melihat wajah Ayaka saat dia menyadari apa yang terjadi pada Agito……]
Artinya———– yang benar-benar menyebalkan hanyalah lalat sialan itu.
Loqierra memang merepotkan juga, tapi dia tidak punya kemampuan tempur nyata.
Selain itu, aku sudah dipertegas khusus untuk menghadapi para Deity.
Ras Terlarang yang gagal kuhapuskan bukanlah ancaman secara individu.
Itulah sebabnya——— analisis Asagi benar sekali.
Kekuatan terbesar mereka terletak pada Touka Mimori———
[Dan di saat yang sama, kelemahan terbesar mereka juga Touka Mimori.]
Dengan kata lain, rintangan terbesar…… adalah raja dari lalat-lalat itu.
Dia———- dialah penyebabnya.
Dari segalanya.
Segalanya…… Segalanya, segalanya——— Segalanya!
[Fuuu……]
Tenanglah.
Pikirkan.
Kenapa aku bahkan mengasumsikan kekalahan?
Aku bisa menang dengan mudah.
Selama aku tetap berada di dalam ruang ini, yang diukir dengan Formula Sihir Penguatan———–
[—————–]
Dan saat itu, aku menyadarinya.
(Tunggu……)
Apa lalat itu…… sudah memperhitungkan hal ini……?
Kalau Loqierra ada di sekitar sini, dia pasti tahu soal Formula Sihir Penguatan.
Atau mungkin ada sesuatu yang bocor lewat Nyantan.
Apakah lalat itu…… benar-benar akan menerobos langsung masuk ke ruang tahta……?
Benarkah dia tidak punya langkah antisipasi?
……Tidak.
Mereka berasumsi aku takkan tinggal diam———– bahwa aku pasti akan mencoba sesuatu.
Tidak mungkin lalat itu begitu saja menari mengikuti iramaku.
Pertempuran kami sebelumnya sudah membuktikannya.
Kalau begitu, tetap di sini———– bisa jadi langkah yang buruk.
……atau justru memang itu tujuannya?
Mungkin…… itulah yang mereka incar……
Membuatku berpikir demikian dan meninggalkan posisiku.
Tapi apa yang bisa mereka lakukan?
Apa yang bisa dia lakukan?
[……………….]
Kalau kuingat semua yang terjadi sejauh ini……
Mereka akan melakukan apa pun.
Lalat itu akan memeras sesuatu entah dari mana.
Dengan tekad semata.
Dengan keteguhan murni.
[Sial…… sialan……! Bocah brengsek itu……!]
Labirin Genesis.
“Siapa pun yang tersesat di dalamnya, bisa jadi bukan tersesat di lorongnya…… melainkan di dalam labirin pikirannya sendiri.”
Aku ingat pernah mendengar itu sekali.
……Sungguh konyol.
Bahwa yang menciptakan labirin ini……
————-justru dirinya sendiri yang tersesat di dalam labirin pikirannya.
[Kuh……]
Apa yang harus kulakukan?
Apa langkah yang benar?
Menunggu?
Seharusnya aku menunggu, kan?
Ya…… mungkin bergerak gegabah justru yang diinginkannya.
Mungkin dia ingin memancingku keluar dari sini.
Benar——— aku akan menunggu.
Aku harus menunggu.
Menunggu adalah jawaban yang benar.
[……………………………………]
Namun———— aku bangkit dari tahta.
Itu takkan berhasil.
Lalat itu mungkin sudah memperhitungkan aku yang tetap tinggal di sini.
Karena jelas-jelas, bertahan di ruang tahta memberiku peluang menang yang lebih tinggi.
Kalau dipikir secara rasional……
Siapa pun akan memilih opsi dengan peluang menang lebih besar.
Terlebih lagi untuk pertarungan krusial.
Aku juga begitu.
Kalau aku berdiam menunggu di sini, hampir tak ada celah untuk dieksploitasi.
Dan justru di situlah mereka akan menyerang.
Ya.
Aku harus menjadi “yang tak terduga”.
Aku harus bergerak di luar perhitungannya——— menyalip langkahnya.
Aku harus mengacaukan mereka.
Mengguncang strategi hati-hati yang sudah mereka bangun.
Aku menerobos keluar dari ruang tahta———– dan melompat ke koridor.
□
Misalnya, ketika kau tersesat di hutan di malam hari———–
Sering dikatakan bahwa diam di tempat justru pilihan yang lebih baik.
Kalau kau bergerak tanpa arah, kau berisiko makin tersesat, melangkah lebih jauh ke wilayah tak dikenal.
Bahkan terkadang, kau bisa saja berakhir di tempat yang tak pernah diduga tim penyelamat.
Kau akan membuang tenaga, dan bahaya justru makin besar.
Namun tetap saja……
Banyak orang tak bisa menahan dorongan untuk bergerak.
Bahkan para Deity, dengan naluri mirip manusia———–
Setidaknya Vysis merasakan dorongan itu.
Dia tak bisa menahannya.
Kebanyakan makhluk memang tak mampu menanggungnya.
Hanya berdiam diri.
Tetap tak bergerak hanya akan memelihara kecemasan, membuatnya membesar semakin besar.
Terutama ketika kau terkurung dalam kegelapan.
Kalau kebetulan kau membawa senter, itu malah lebih buruk.
Cahaya itu akan menggoda——— membuatmu ingin bergerak.
Membuatmu percaya kau akan menemukan keselamatan lebih cepat bila bergerak.
Kau mulai meyakinkan dirimu bahwa bergerak adalah keputusan yang benar.
Tentu saja……
Ada saat di mana itu memang pilihan tepat.
Tapi pada akhirnya, semua hanya bisa dihakimi setelahnya.
Namun, pada saat ini, bagi Vysis———–
Dia sama sekali tak mampu menahan pikiran untuk tetap diam menunggu.
▽
Saat aku berjalan menelusuri kastil yang telah berubah menjadi labirin, aku sudah membuat keputusan.
Dark Purple Gems.
Membuat satu saja memakan waktu sangat lama.
Masalahnya, aku hanya bisa membuatnya satu per satu.
Jadi aku terus melakukannya, sedikit demi sedikit……
Aku terus menciptakannya.
Dan akhirnya, aku berhasil mengumpulkan sebanyak ini——— sumber kekuatanku.
Semua demi mempersiapkan pertarungan di langit.
Untuk melawan Chief Deity Origin dan Thesis sang urutan kedua.
Namun———– untuk saat ini, semua itu kutangguhkan.
Sekarang, yang kuinginkan hanyalah menyingkirkan lalat itu.
Melenyapkannya.
Aku melemparkan kelima Dark Purple Gems yang kugenggam ke mulut sekaligus……
———-Krek, krek———-
Kugiling dengan gigi, lalu kutelan semuanya.
Bukan hanya untuk memperkuat diriku.
Kalau aku ingin menciptakan klon yang lebih berguna, aku tak punya pilihan selain menyerap lebih banyak bola ungu-hitam ini.
[Akan kubunuh mereka———— satu per satu.]
Aku takkan bisa tenang.
Selama raja lalat itu masih hidup.
Mungkin…… bahkan kalau Sacred Eye dihancurkan dan aku melarikan diri ke langit,
Selama pria terbuang itu masih bernapas, aku takkan pernah bisa menemukan ketenangan sejati.
Oleh karena itu……
Yang paling utama harus kuhapuskan adalah pria itu———–
[Touka…… Mimori……]
Akan kubunuh dia.
Aku akan membunuhnya.
Aku tak peduli pada yang lain.
Langit, keadaan di sekitarnya, semua itu tak penting bagiku sekarang.
Yang kupedulikan hanyalah dia. Aku ingin membunuhnya.
Aku ingin kedamaian.
Alasan aku tidak menelan Dark Purple Gems sejak awal adalah karena masalah penurunan kapasitas.
Begitu kutelan, efek penguatannya perlahan akan meredup.
Dan saat efek itu habis, ruang——— kapasitas yang diambil kekuatan melemah itu tak akan bebas kembali dalam waktu dekat.
Dengan kata lain, selama sekitar dua bulan, aku akan terjebak dengan kapasitas maksimum yang menurun.
Katakanlah batasku 100.
Jika Dark Purple Gem menambah 5, lalu tambahan itu habis jadi 0……
Pada titik itu, batas maksimalku jadi 95.
Artinya selama dua bulan, aku terkurung di kap 95.
Dan yang paling fatal——— efek penguatannya akan benar-benar lenyap hanya dalam dua bulan.
Kalau begitu, Dark Purple Gems yang berharga itu hanya akan terbuang sia-sia.
Itulah kenapa opsi menelannya lebih awal tidak pernah ada di mejaku.
Selain itu……
Apa yang akan terjadi kalau aku menelan lebih banyak Dark Purple Gems ketika kapasitasku tak mencukupi?
Tekanan pada tubuhku akan melonjak.
Singkatnya, itu bisa jadi berbahaya.
Aku belum pernah mengujinya sampai batas, jadi aku tak tahu persis apa yang terjadi kalau aku melewati garis itu.
Tapi kalau kekuatan yang meluap sampai memecahkan wadah tubuhku……
Kalau aku melampaui batas————– aku akan masuk ke ranah berbahaya.
Seakan aku peduli sekarang.
Aku membencinya——— sampai sebegitunya.
Itulah sebabnya……
Kalau memang harus, aku akan menghabiskan bahkan permata berharga ini.
Paling buruk, sekalipun aku harus menyeretnya jatuh bersamaku———–
Aku akan membunuhnya.
Lalat busuk itu, yang terbang berisik menggangguku.
Bagaimanapun juga……
[Akan kupastikan segalanya berakhir dengannya…… di Labirin Genesis ini.]
Aku akan menuntaskan ini…… Di sini dan sekarang.
Aku akan mengakhiri segalanya.
Sekarang…… mari kita turunkan tirai.
[Touka Mimori.]
<Catatan Penulis>
Dan dengan itu, berakhir sudah bagian ketiga dari Final Arc. Terima kasih banyak sudah menemaniku sejauh ini.
Kita akhirnya sampai di titik ini———– rasanya benar-benar sudah dekat, bukan? Semoga kalian menikmati bagian ketiga ini.
Dalam volume ini, segalanya mulai bergerak menuju akhir yang tak terelakkan, dan banyak karakter mengalami pencerahan maupun perkembangan. Sejujurnya, saat aku sampai di tahap ini, ada begitu banyak yang harus kutulis, dan aku ingat betapa sulitnya menentukan prioritas serta menyusun strukturnya, bahkan sejak tahap perencanaan.
Seperti biasa, aku ingin mengucapkan rasa terima kasih sedalam-dalamnya: untuk dorongan hangat, impresi yang kalian bagikan, ulasan, likes——— semuanya. Hingga kini, meski seri ini sudah berjalan begitu lama, masih ada orang yang memberi bookmark dan rating, dan aku benar-benar bersyukur. Nilai keseluruhan yang tampil di layar hanyalah “angka”, ya, tapi bagiku, itu terasa seperti bagian dari karya yang kita bangun bersama——— atau mungkin, yang masih terus kita bangun bersama. Terima kasih, sungguh.
Sejujurnya, (meskipun aku sudah memetakan garis besar plotnya) ada kalanya aku khawatir apakah aku bisa benar-benar mengikat semuanya dengan baik. Saat melangkah maju, aku berharap bisa terus menulis dengan cara yang, semoga saja, membawa baik aku (dan mungkin kalian para pembaca juga) menuju akhir yang memuaskan.
……Itu saja, kali ini aku benar-benar kelelahan, jadi kurasa aku butuh sedikit jeda…… Setelah sedikit pulih, aku akan mulai menulis bagian berikutnya, yang sekaligus akan menjadi bagian terakhir dari cerita ini.
Kalau begitu, sampai jumpa lagi di bagian selanjutnya———– dan terakhir dari Final Arc ini.
No comments:
Post a Comment