Grimoire Dorothy Chapter 30

Bab 30: Kucing Hitam

Ruangan itu dipenuhi aroma lembut dupa, diterangi cahaya lilin yang temaram, dengan dekorasi penuh corak misterius dan rumit. Di atas bangku tinggi, seekor kucing hitam duduk tegak, menatap tajam gadis yang baru terbangun di kursi empuk. Suaranya terdengar serius saat ia berbicara.

“Saria, jujurlah. Apa kau menemui bahaya di Dreamscape?”

Mendengar pertanyaan itu, Saria berusaha menguasai diri, menepis sisa kantuk. Ia menjawab ragu-ragu,

“Y-ya, Kakek. Aku bertemu anggota Black Dream Hunters. Mereka mengejarku... aku nyaris tak lolos.”

“Para pemburu dari Black Dream Society?” Kucing hitam itu mendengus penuh hinaan.

“Para pengkhianat busuk itu, sampah tak berguna. Tak lebih baik dari lalat—berisik ke mana-mana meski kemampuan mereka payah.”

Nada suaranya makin tajam.

“Kau bertemu pengkhianat itu, tapi aku tak melihat wujud tiruanmu hancur. Bagaimana kau bisa lolos? Dengan tingkat mimicry-mu sekarang, mustahil kau bisa menghindar dari mereka.”

“Uh... soal itu...” Saria gugup, suaranya bergetar namun penuh semangat.

“Kakek, dengarkan baik-baik! Yang akan kuceritakan benar-benar nyata! Kakek harus percaya padaku!”

Kucing hitam itu menatap heran, sementara Saria menceritakan secara rinci apa yang ia alami di Dreamscape. Semakin lama ia mendengar, mata kucing itu makin terbelalak.

“Apa? Naga? Kau melihat mimicry berbentuk naga di Dreamscape? Apa kau yakin itu bukan ilusi?”

Saria mengangguk cepat.

“Aku yakin, Kakek! Itu bukan ilusi! Naga itu menghabisi para pemburu itu hanya dengan beberapa gerakan—tak mungkin palsu! Bahkan ia sendiri mengaku kalau itu mimicry!”

Kucing hitam itu terdiam, wajahnya berubah serius. Ia duduk di bangku, termenung.

“Naga... mimicry naga... Bagaimana mungkin makhluk semacam itu muncul di Hutan Dreamscape? Tak masuk akal...” ia bergumam pelan.

Penasaran, Saria bertanya,

“Kakek, bukankah mimicry singa atau harimau saja sudah luar biasa kuat? Apa mungkin naga itu anggota berpangkat tinggi dari salah satu perkumpulan rahasia?”

“Anggota berpangkat tinggi? Hmph!” Kucing itu terkekeh sinis.

“Kebanyakan dari apa yang mereka sebut kaum elit itu hanyalah onggokan sampah, bahkan nyaris tak layak disebut manusia. Mereka tetaplah fana, bagaimanapun juga.”

Dengan nada menggurui, ia melanjutkan.

“Di antara manusia sekarang, hampir tak ada yang bisa meniru makhluk mitologi kuno. Bahkan para elit itu. Untuk menguasai mantra mimicry seperti itu, seseorang harus mampu menanggung racun di tingkat mitologis. Dan siapa pun yang sanggup melakukannya... sudah tak bisa lagi disebut manusia. Mengerti, Saria?”

Saria mengangguk, meski pikirannya masih berusaha mencerna maksudnya.

Ia bergumam lirih,

“Tak lagi manusia... Apa benar semenakutkan itu? Syukurlah aku tak memusuhinya. Bahkan mungkin aku membuatnya senang! Aku memberikan sedikit pengetahuan mistis yang kutemukan malam ini. Kakek, menurutmu dia akan senang karenanya?”

Nada Saria semakin bersemangat, namun kucing hitam itu langsung membeku, bulunya berdiri.

“Apa? Kau memberikan pengetahuan mistis yang kau temukan padanya? Kau sudah gila, meong?!”

Kucing hitam itu melompat berdiri, suaranya meninggi penuh amarah.

“Aku bahkan belum mengajarkan cara yang benar untuk memindahkan pengetahuan di Dreamscape! Melakukannya sembarangan akan meninggalkan jejak mental! Makhluk sepertinya bisa memakai jejak sekecil itu sebagai medium! Bisa jadi sekarang kau sepenuhnya berada dalam kendalinya! Dengan sekali jentikan jari, nyawamu bisa dicabut!”

Bentakan itu membuat Saria terkejut sekaligus sedih. Bibirnya bergetar, menahan tangis.

“Tapi... tapi dia tidak terlihat jahat. Dia tampak ramah. Aku yakin dia takkan menyakitiku. Lagi pula, Kakek selalu mengajarkan untuk membalas kebaikan...”

“Ramah? Ramah apanya!” Kucing itu menyambar tajam.

“Nilai moral yang kuajarkan hanya berlaku di dunia fana! Di dunia mistis, kau tak bisa memakai ukuran yang sama! Selalu waspada! Jangan pernah percaya siapa pun! Apa kau tak belajar apa-apa?!”

Saria terisak, air mata menggenang di matanya. Ia berbisik lirih,

“Aku... aku mengerti sekarang, Kakek... Itu salahku. Apa aku akan dibunuh...?”

Kucing hitam itu mendesah panjang, suaranya sedikit melunak.

“Baiklah, mungkin aku agak berlebihan. Kalau makhluk itu benar sudah mencapai level seperti itu, ia tak akan peduli pada remah seperti dirimu. Karena kau masih hidup, berarti ia tak menganggap jejakmu penting. Aku hanya ingin membuatmu sadar bahaya. Hati-hati lain kali.”

“Benarkah? Syukurlah, Kakek!”

Wajah Saria langsung berseri. Diliputi rasa lega, ia meraih kucing hitam itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu berputar sambil memeluknya.

“Turunkan aku, dasar bocah! Berhenti memutar, meong!”

Saria buru-buru menurunkannya. Kucing hitam itu segera merapikan diri, lalu mengeluarkan perintah tegas.

“Tidurlah! Mulai besok, kau harus fokus mengumpulkan spiritualitas dan terus maju. Hanya dengan kekuatan yang lebih besar kau bisa menahan racun yang lebih kuat. Barulah aku bisa mengajarkan mantra mimicry tingkat lanjut. Kalau tak mau diburu lagi, lakukan ini dengan sungguh-sungguh!”

“Mengerti, Kakek!”

Pagi menjelang siang di Igwynt, matahari sudah tinggi.

Sekitar tengah hari, Dorothy baru terbangun dari tidur lelap. Ia bangkit lesu dari ranjang, kelelahan mental semalam masih terasa. Perutnya yang berontak jadi satu-satunya alasan ia mau bergerak.

“Kayaknya aku harus cari makan dulu... lalu tidur lagi. Menjelajah Dreamscape dengan mimicry itu benar-benar menguras tenaga. Aku akan istirahat beberapa hari sebelum kembali lagi...”

Dengan gaun tidur putih, Dorothy berjalan gontai ke pintu, membukanya—dan mendapati Gregor duduk di ruang tamu dengan setumpuk dokumen.

“Selamat siang, Dorothy. Tidur sampai siang itu kebiasaan buruk, lho. Harus dibenahi,” kata Gregor sambil tersenyum menggoda.

Dorothy, rambut acak-acakan, mengedip bingung.

“Gregor? Bukannya kau harusnya kerja hari ini?”

“Aku ambil cuti. Besok pagi juga masih libur. Hari ini aku sedang menyiapkan beberapa bahan dan peralatan untukmu. Besok, aku akan membawamu mendaftar ke sekolah. Aku sudah bilang sebelumnya, ingat?”

“Sekolah? Hah?”

Setelah semalaman tenggelam dalam pengetahuan terlarang, kata “sekolah” terasa sekaligus akrab dan asing—seperti sisa dunia lain yang jauh darinya.

Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 30"