Grimoire Dorothy Chapter 29
Bab 29: Terbangun dari Mimpi
Di Hutan Dreamscape, Dorothy dalam wujud naganya menatap bola kecil berwarna biru pucat yang ditawarkan oleh seekor rubah mungil di hadapannya. Hatinya dipenuhi rasa girang; perjalanan yang semula ia anggap sia-sia di dunia mimpi malam ini akhirnya membuahkan hasil.
“Rubah kecil ini lumayan tahu diri juga...”
Meski senang, Dorothy tetap menjaga wajahnya tetap tenang, hanya mengangguk tipis pada rubah itu. Ia mengulurkan jari dan menyentuh bola biru itu. Seketika benda itu berubah menjadi kabut, lalu menyatu dengan tubuhnya. Melihat hal itu, rubah kecil itu terperanjat.
“Dia... langsung menyerapnya begitu saja tanpa diproses? Bahkan tak peduli kalau ada racun kognitif tersembunyi? Memang pantas disebut makhluk berpangkat tinggi—ketangguhan mentalnya begitu luar biasa hingga menganggap risiko kecil semacam itu tak lebih dari sebutir debu...”
Rubah itu diliputi rasa kagum sekaligus gembira karena sang naga menerima persembahannya.
“Selamat tinggal, kecil...”
Dengan kata perpisahan itu, Dorothy—wujud naganya sudah mendekati batas—membentangkan sayap dan terbang menjauh, menuju hutan di kejauhan. Rubah kecil itu tetap bersujud, penuh hormat menatap kepergian sang naga.
…
Dunia nyata, malam hari di Igwynt, sebuah apartemen di Jalan Bunga Matahari Selatan.
Cahaya bulan menelusup masuk ke kamar yang remang. Dorothy membuka mata perlahan di atas ranjang. Ia memegangi kepala, lalu bangkit dengan gerakan lesu.
“Ugh, kepalaku pusing... Semua itu tadi cuma mimpi, kan?”
Dorothy bergumam, lalu cepat-cepat menggeleng.
“Tentu saja itu mimpi—selain itu apa lagi!”
Masih memakai piyama, ia menyeret tubuh lelahnya keluar dari ranjang dan berjalan gontai ke kursi di depan meja. Ia memutar knop lampu gas, lalu duduk sambil melirik jam di atas meja. Jarum menunjuk lewat pukul satu dini hari.
“Jam satu... aku tertidur sekitar tengah malam. Jadi sekitar sejam aku bermimpi, sebagian besar kugunakan untuk mengolah mantra di alam mimpiku sendiri. Sedangkan waktu yang kuhabiskan di Dreamscape tak lebih dari lima belas menit. Kekuatan mentalku terlalu lemah, wujud nagaku tak bisa bertahan lama...”
“Kalau saja tidak bertemu rubah kecil itu, perjalanan ke Dreamscape malam ini benar-benar tak ada gunanya.”
Dorothy termenung, mengingat pengetahuan mistis yang ia dapat dari rubah tersebut. Salah satu keuntungan mendapatkan pengetahuan di Dreamscape adalah semua informasi langsung terserap ke dalam benak tanpa perlu membaca.
Pengetahuan itu berjudul “Menelusuri Jalur Tersembunyi”, sebuah catatan penjelajahan Dreamscape yang ditulis oleh seorang pengelana mimpi bernama Alvin Royce. Isinya mencatat berbagai petualangan: dikejar makhluk-makhluk buas, tersesat di belantara mimpi, salah masuk ke mimpi orang lain, hingga bertemu tokoh-tokoh aneh dalam mimpi lalu menjumpai mereka kembali di dunia nyata.
Berbeda dari “Kronik Sang Pencari Mimpi” yang bernuansa dongeng, catatan ini lebih mirip jurnal perjalanan, terasa nyata. Dorothy bahkan curiga catatan itu sungguh kisah nyata. Alvin mungkin salah satu perintis manusia pertama yang menjelajahi Dreamscape, sebab ia sempat menyinggung dunia nyata pada zaman yang sudah lama lewat—jauh sebelum revolusi industri.
Namun versi “Menelusuri Jalur Tersembunyi” yang rubah itu berikan tidak lengkap. Hanya awal perjalanannya saja, tanpa informasi penting. Meski begitu, Dorothy masih berhasil menemukan sesuatu yang bermanfaat.
Pemetaan Dreamscape—sebuah teknik ciptaan Alvin untuk menentukan koordinat diri di dalam Dreamscape. Sebab dalam Dreamscape, ruang sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia nyata. Setiap kali masuk, lingkungan yang muncul selalu acak, membuat navigasi nyaris mustahil.
Dengan menangkap “gelombang psikis raksasa” yang memancar dari pusat Dreamscape, Alvin menciptakan sistem koordinat, menjadikan sumber gelombang itu sebagai titik acuan sekaligus mercusuar. Berkat itu, seseorang bisa mengetahui posisinya di Dreamscape—sebuah keterampilan yang amat praktis.
Dorothy berseri-seri saat menyadari dirinya kini menguasai teknik ini. Penjelajahan Dreamscape ke depan pasti lebih mudah. Namun satu detail lain dalam catatan itu juga menarik perhatiannya.
“Di pusat Dreamscape terdapat sebuah sumber cahaya—memancarkan gelombang psikis yang menjalar ke seluruh ranah mimpi. Apa sebenarnya sumber itu?”
Sesaat Dorothy merenung, lalu menggeleng pelan. Hal semacam itu masih jauh di luar jangkauannya. Dipikirkan pun tiada guna.
Selain pengetahuan itu, bola biru tadi juga menyimpan sedikit jejak mental sang rubah. Jejak itu bagaikan “aroma” samar di Dreamscape. Jadi jika Dorothy menjelajah lagi, selama rubah itu berada di dekatnya, ia bisa merasakan keberadaannya.
Akhirnya Dorothy mengekstrak inti dari catatan “Menelusuri Jalur Tersembunyi” yang tak lengkap itu. Ia memperoleh 3 poin Revelation dan 2 poin Shadow.
Kini jumlahnya menjadi 8 poin Revelation, 5 poin Chalice, dan 4 poin Shadow. Hanya kurang satu poin lagi untuk mencapai 10 Revelation.
“Baiklah... tinggal satu langkah terakhir! Begitu aku mendapatkan ritual itu, aku bisa naik peringkat!”
Dorothy bergumam, meregangkan tubuh sambil menguap. Saat hendak tidur kembali, matanya menangkap sesuatu. Jemarinya yang terulur di bawah sinar bulan memancarkan kilau samar.
Itu cincin yang selalu ia kenakan—sebuah lingkaran hitam pekat dengan ukiran bulan sabit sederhana. Peninggalan dari ibunya, dan malam ini cincin itu berpendar samar di kegelapan.
“Sepertinya lebih terang dari biasanya... apa aku cuma berkhayal?”
Dorothy termenung sejenak, namun segera kalah oleh rasa letih akibat mental yang terkuras.
“Lupakan, aku harus tidur... jangan begadang lagi, nyawaku taruhannya.”
Ia menutup tirai, kembali ke ranjang, menarik selimut, lalu tenggelam dalam tidur lelap.
…
Di tempat lain, masih di malam yang sama, sebuah kamar redup dihiasi karpet penuh pola rumit. Wangi dupa mengepul dari wadah kecil di tiap sudut ruangan.
Di tengahnya, sebuah kursi empuk diletakkan. Di atasnya bersandar seorang gadis muda, kira-kira berusia dua belas atau tiga belas tahun. Ia mengenakan gaun tidur sutra merah muda bercampur putih. Wajahnya yang sedikit chubby dibingkai rambut abu-abu panjang ikal yang menjuntai hingga pinggang, dihiasi pita di kepala.
Perlahan kelopak matanya yang terpejam bergerak. Lalu terbuka, menampakkan kebingungan samar. Sebuah suara parau rendah memanggilnya dari kegelapan.
“Apa yang kau temui di hutan, Saria? Aku lihat wajahmu saat tidur tidak enak dilihat.”
Saria menoleh ke arah suara itu. Di sana seekor kucing hitam duduk tegak di atas bangku tinggi, menatapnya dalam-dalam.
“Kakek...”
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 29"
Post a Comment