Grimoire Dorothy Chapter 28

Bab 28: Mimikri

Di Hutan Dreamscape, di antara hamparan rumput lebat di bawah pepohonan raksasa, seekor rubah putih kecil bersembunyi gemetar di balik sebuah batu besar.

Tak jauh dari situ, berdiri seekor naga perkasa, panjang tubuhnya hampir sepuluh meter. Kepalanya menjulang megah, sayap lebarnya terlipat di tanah, sementara ekor berdurinya berayun pelan. Partikel bercahaya bertebaran di sekelilingnya, melayang seperti kabut—sisa dari kawanan hiena yang tadi ia hancurkan.

“Naga?! Itu benar-benar naga? Bukan ilusi? Kakek tidak pernah bilang ada makhluk seperti ini di Hutan. Apa dia datang dari lapisan lain Dreamscape?”

Rubah putih itu gelisah. Ia sudah sering berkelana di Dreamscape, melihat banyak makhluk mimpi dan mimikri pengelana lain. Tapi semuanya selalu sebatas wujud makhluk nyata di dunia luar. Kini, naga? Apa ini lelucon?

Rubah kecil itu ketakutan. Ingin kabur, tapi setelah melihat bagaimana naga itu tadi mencambuk seekor hiena hingga hancur hanya dengan ayunan ekornya, ia tak berani bergerak.

Walau naga itu secara tidak langsung menyelamatkannya, rubah itu tetap tak sanggup maju untuk berterima kasih. Aura menindas sang naga terlalu kuat. Bagaimana kalau tiba-tiba ia juga dihempaskan?

Lagi pula, kehancuran mimikri itu sakitnya luar biasa!

Maka, ia hanya meringkuk di balik batu, berharap naga itu segera pergi. Namun setelah menyapu bersih para hiena, sang naga justru berhenti sejenak, lalu menoleh perlahan ke arah batu tempat rubah itu bersembunyi.

“Keluar...”

Suara Dorothy bergema berat, bergulung seperti guntur jauh di langit.

Rubah putih itu langsung merinding. Ia melompat keluar dengan panik, menunduk rendah sambil tergagap minta maaf.

“Maafkan saya, Yang Mulia! Saya tidak bermaksud bersembunyi dari Anda! Saya hanya... hanya butuh waktu untuk menenangkan diri... Saya tak menyangka Yang Mulia bisa langsung melihat saya. Pandangan Anda sungguh luar biasa!”

Dorothy sedikit kikuk mendengarnya.

“Luar biasa apanya? Tadi ekormu kelihatan nongol.”

Ia tersenyum kecut dalam hati, tapi tak mengucapkannya. Sebagai gantinya, ia menatap rubah kecil itu lebih dekat lalu bertanya.

“Kenapa mereka mengejarmu?”

Mendengar suara berat sang naga, rubah itu kembali gemetar, lalu menjawab dengan hati-hati.

“Yang Mulia, mereka itu pemburu dari Black Dream Society, kelompok rahasia yang beroperasi di Dreamscape. Mereka biasa berburu mimikri pengelana lain secara berkelompok, merebut hasil rampasan orang lain. Saya hanya pengelana biasa yang kebetulan menarik perhatian mereka. Terima kasih sudah menyelamatkan saya!”

Dorothy mendengarnya, dan potongan-potongan informasi langsung ia rangkai.

Black Dream Society... pemburu mimikri? Jadi hiena-hiena itu, dan rubah ini juga, bukan makhluk asli Dreamscape? Mereka sama sepertiku—manusia dunia nyata yang masuk ke sini lewat mimikri?

Berarti... barusan aku benar-benar menghabisi pasukan mimikri dari sebuah organisasi rahasia? Dan mimikri nagaku ini ternyata gila-gilaan kuatnya!

Dalam anotasi Kronik Sang Pencari Mimpi, memang disebutkan pertarungan bisa terjadi di Dreamscape dengan aturan unik. Di sini, kekuatan fisik dunia nyata tak berlaku. Yang menentukan hanya dua hal: kekuatan mental pengelana, dan wujud mimikri mereka. Kekuatan mental menentukan berapa lama seseorang bisa bertahan, sedangkan bentuk mimikri menentukan daya tempur.

Dan jelas, mimikri naga Dorothy jauh di atas mimikri hiena yang baru saja ia lenyapkan—meski mungkin di dunia nyata mereka lebih kuat darinya.

Ia juga tahu, kehancuran mimikri tak menyebabkan kematian, tapi menimbulkan trauma mental parah pada tubuh asli: butuh waktu lama untuk pulih, bahkan kadang menyebabkan hilangnya kendali diri.

Rasanya ini seperti main MMORPG bertema alam liar dengan otak sendiri sebagai konsolnya... pikir Dorothy, setengah takjub, setengah jengkel.

Sementara itu, rubah putih berdiri terpaku di hadapannya, makin cemas karena sang naga tak kunjung menanggapi.

“Kenapa dia diam saja? Apa jangan-jangan dia tidak mengerti makhluk mimpi dari dunia nyata?”

Berpikir begitu, rubah itu buru-buru menjelaskan.

“Uh... Yang Mulia, mungkin Anda tidak tahu. Pengelana adalah mereka yang masuk ke dunia ini melalui mimpi, dan mimikri adalah—”

“Kau tak perlu menjelaskan. Aku juga mimikri.”

Dorothy memotong, menatap singkat ke arah rubah itu.

“A... Apa... Kau juga mimikri?!”

Rubah putih itu terkejut setengah mati, hampir melompat dari bulunya sendiri.

Dia... dia bilang dirinya juga mimikri? Jadi dia bukan makhluk asli Dreamscape, tapi manusia dunia nyata juga?

Mendengar itu, keterkejutan rubah bahkan lebih besar daripada saat pertama melihat naga.

Mimikri naga? Itu berarti Dorothy menguasai pengetahuan kuno yang bisa membangkitkan makhluk punah. Wujud seperti itu hanya mungkin dimiliki seseorang dengan status luar biasa—anggota tinggi organisasi rahasia, agen bayangan yang kuat, atau bahkan tokoh legendaris.

Sementara segala kemungkinan berputar di kepalanya, Dorothy mulai merasakan kekuatan mentalnya kian menipis. Ia tahu tak lama lagi wujud naganya akan buyar.

“Sudah ya, rubah kecil. Lain kali hati-hati jangan sampai menarik perhatian,” katanya sambil bersiap mengepakkan sayap untuk pergi.

“Mohon tunggu, Yang Mulia!” seru rubah itu panik.

Dorothy menoleh. Rubah itu makin gugup, tapi memberanikan diri berkata,

“Terima kasih sudah menyelamatkan saya malam ini. Kakek selalu bilang, kebaikan harus dibalas. Saya ini hanya sosok kecil yang tak berarti, rasa terima kasih saya mungkin tak ada artinya bagi Yang Mulia... tapi izinkan saya tetap memberi tanda terima kasih.”

Tanda terima kasih?

Dorothy yang sudah kelelahan seketika jadi lebih waspada. Dalam hati, sebenarnya ia ingin sekali mengelus rubah kecil itu—tapi takut kalau wujud naganya malah membuat mimikri rapuh itu hancur berkeping-keping.

Rubah itu menarik napas, lalu memuntahkan sebuah bola cahaya biru lembut.

“Saya sering mencari rahasia tersembunyi di Dreamscape, walau sangat jarang menemukannya. Inilah satu-satunya hasil yang kudapat sepanjang bulan ini. Mungkin bagi Yang Mulia tak berarti apa-apa... tapi tolong terimalah, sebagai ungkapan terima kasih kecil saya.”

Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 28"