Grimoire Dorothy Chapter 25
Bab 25: Bahasa
Bahasa mistik... mungkinkah di dunia ini ada bahasa lain yang lebih sarat dengan kekuatan spiritual?
Dorothy merenung sambil meneliti anotasi di buku tuanya. Sebelumnya, ia pernah menukar tiga aksara Bahasa Naga Nirn dengan menggunakan bahasa umum Pritt. Seribu kata bahasa umum hanya setara dengan satu aksara Bahasa Naga.
Kalau Dorothy harus terus mengandalkan bahasa umum untuk menukar aksara naga, bukankah ia harus mempelajari bahasa dari delapan bangsa berbeda? Itu jelas tidak efisien. Jika saja ada bahasa mistik yang lebih kaya akan spiritualitas, prosesnya pasti akan jauh lebih mudah.
Dengan pikiran itu, Dorothy kembali menatap bagian anotasi paling penting dalam buku—bagian yang merangkum isi dongeng menjadi sebuah mantra yang bisa dipraktikkan: mantra mimikri mimpi. Dari sekian banyak cerita, penulis anotasi hanya benar-benar menekankan satu: mantra transformasi si pencuri yang berubah jadi burung dalam kisah Si Pencuri dan Si Kikir.
Pertama, perlu kuluruskan: tidak semua bagian mantra harus diucapkan dengan bahasa mistik. Hanya kata kunci yang krusial saja. Dalam mantra transformasi burung ini, bahasa yang diperlukan adalah Bahasa Harpy.
Bahasa Harpy adalah bahasa kaum harpy, yang berjaya di antara Epoch Kedua dan Ketiga, sebelum nyaris punah. Dahulu, mereka menguasai langit, sehingga banyak ritual dan mantra yang terkait dengan terbang, burung, serta langit membutuhkan bahasa mereka—termasuk mantra ini.
Menurut risetku, mantra untuk transformasi mimpi menjadi burung berbunyi begini:
‘Atas nama Shunur, aku akan tumbuhkan sayap. Dengan kekuatan, aku terbang ke langit; dengan keseimbangan, aku menembus badai.’
Catat, nama “Shunur” merujuk pada dewa yang dikenal dalam sejarah esoteris sebagai “Sayap Hitam Kematian,” “Maut Langit,” juga dewa “Batu,” “Lentera,” dan “Kesunyian.” Dikatakan Shunur pernah menguasai langit dan disembah kaum harpy. Namun kini Shunur telah runtuh, jadi tak perlu memberi penghormatan khusus. Menyebutnya dengan bahasa umum sudah cukup, karena fungsinya hanya formalitas, bukan permohonan kuasa.
Yang paling penting adalah dua kata kunci: “kekuatan” dan “keseimbangan.” Keduanya wajib diucapkan dalam Bahasa Harpy. Sayangnya, penguasaanku atas Bahasa Harpy masih terbatas, dan aku tidak tahu kata-kata spesifik ini. Tapi setelah meneliti padanan Bahasa Abyssal, aku menduga dua kemungkinan pelafalan: yita dan yaya.
“Dugaan pelafalan... apa bisa dipercaya?” gumam Dorothy skeptis, menutup buku tua itu. Ia menarik napas panjang, merasa semua sudah siap untuk percobaan berikutnya.
Buku Kronik Sang Pencari Mimpi ia simpan rapi di koper, lalu dikunci dan diselipkan di bawah ranjang. Berganti pakaian tidur, mematikan lampu, ia berbaring dan menyelimuti diri.
Di bawah selimut, Dorothy mulai melakukan teknik hipnosis diri yang dijelaskan dalam buku. Caranya sederhana tapi efektif, dan tak lama kemudian ia terlelap.
Saat membuka mata lagi, ia sudah kembali berada di kamarnya. Ia bangkit dari ranjang dan mengedarkan pandangan.
Sunyi. Begitu sunyi sampai terasa mencekam.
“Jadi... aku memang sedang bermimpi?”
Ia bersuara, menatap lampu gas di meja. Seketika lampu itu menyala sendiri tanpa disentuh.
Dorothy mengangguk puas. Ia sadar sepenuhnya—ia tengah berada dalam mimpi.
Sekarang waktunya mencoba mantra transformasi.
Menghafal kembali isi buku, Dorothy menutup mata dan melantunkan:
“Atas nama Shunur, aku akan tumbuhkan sayap. Dengan yita, aku terbang ke langit; dengan yaya, aku menembus badai.”
Ia menyebut sebagian besar dengan bahasa umum, hanya kata kunci yita dan yaya dalam Bahasa Harpy.
Begitu selesai, tubuhnya diselimuti kabut ungu. Dalam hitungan detik, kabut itu menyingkap wujud baru—jauh dari seekor burung.
Di lantai tergeletak seekor ikan aneh, kira-kira setengah meter panjangnya. Tidak punya kaki, hanya sepasang sayap bercakar yang mirip kepak ayam tanpa bulu. Ekornya gepak seperti dayung, matanya melotot besar, mulutnya menganga seperti ikan laut yang hampir mati kekurangan oksigen.
Buak!
Dengan letupan kabut ungu lain, ikan aneh itu berubah kembali menjadi Dorothy, yang terbatuk-batuk di tengah asap.
“Uhuk, uhuk... Burung apanya? Ini mah lebih mirip ikan asin!”
Dorothy menjerit frustasi.
Apa aku salah ucap? pikirnya. Tapi ia cepat menggeleng. Ia sudah menghafal mantra itu dengan teliti.
Satu-satunya kemungkinan...
Mantranya memang cacat.
Anotator jelas menulis bahwa kata kunci butuh Bahasa Harpy. Tapi ia sendiri hanya setengah paham, bahkan hanya menebak dari Bahasa Abyssal. Kemungkinan besar yita dan yaya itu sebetulnya Abyssal, bukan Harpy. Tak heran hasilnya berantakan.
“Jadi bukan cuma Bahasa Harpy-nya setengah matang, terjemahannya pun ngawur,” desah Dorothy. “Menyesatkan sekali!”
Ia duduk di meja mimpi, berpikir keras.
“Tanpa pelafalan yang benar, mantranya nggak bakal jalan. Tapi aku juga nggak bisa Bahasa Harpy... terus apa yang harus kulakukan?”
Ia mengusap dagunya, bergumam.
“Kata kunci: kekuatan... keseimbangan... fus... ro... fus! ro!”
Tiba-tiba, kilatan ide menyambar Dorothy. Ia menepuk meja.
“Kekuatan dan keseimbangan... Bukankah dua aksara Naga Nirn yang kumiliki tepat berarti itu?”
Fus dalam Bahasa Naga berarti kekuatan.
Ro berarti keseimbangan.
“Bagaimana kalau kata kunci dalam mantra ini kuganti dengan Bahasa Naga?”
Kalau Bahasa Harpy pernah menguasai langit, bukankah naga pun demikian? Bahasa mereka jelas tak kalah sakral.
Tersulut inspirasi, Dorothy mengambil selembar kertas dan menuliskan versi baru mantranya. Demi keseimbangan, ia bahkan mengganti nama Shunur dengan nama dewa naga dari dunia lain: Akatosh, Dewa Naga Waktu dari The Elder Scrolls.
Karena nama dewa hanya formalitas tanpa kuasa nyata, Dorothy merasa sah melakukan perubahan itu.
Mantra barunya pun terbentuk:
“Atas nama Akatosh, aku akan tumbuhkan sayap. Dengan fus, aku terbang ke langit; dengan ro, aku menembus badai.”
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 25"
Post a Comment