Grimoire Dorothy Chapter 24
Bab 24: Kronik Sang Pencari Mimpi
Malam turun di Igwynt. Di sebuah apartemen di Jalan Bunga Matahari Selatan.
“Dorothy, hari ini menyenangkan di kota?” tanya Gregor dari ruang tamu, bersandar santai di sofa setelah makan malam.
“Hmm... lumayan. Igwynt jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Sama sekali nggak mirip dengan desa kita—bahkan lebih besar daripada Purple Hill Town. Tadi aku jalan-jalan di kota bawah, nanti kalau sempat aku mau jelajahi bagian lain juga,” jawab Dorothy dari balkon sambil menyesap susu hangat.
Mendengar itu, kening Gregor sedikit berkerut.
“Kota bawah... Keamanannya nggak begitu bagus di sana, Dorothy. Kamu nggak ketemu masalah kan?” Gregor mengingatkan.
Dorothy tersenyum tipis. “Nggak kok. Aku cuma beli beberapa barang, main petak umpet sama dua ekor anjing, lalu baca sebentar di tepi sungai. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Main petak umpet sama dua ekor anjing... dan baca di tepi sungai?”
Gregor sempat melongo, lalu tertawa kecil. “Ha, Dorothy, kamu memang nggak berubah—masih suka hewan dan buku.”
“Ya begitulah. Kan kebiasaan bagus,” ujar Dorothy sambil membilas gelasnya yang kosong di dapur.
Sambil melambaikan tangan ke arah Gregor, ia menambahkan, “Selamat malam, Gregor. Sampai ketemu besok.”
“Ya, tidurlah nyenyak, Dorothy. Aku juga mau ke kamar.”
Begitu masuk kamarnya, Dorothy langsung mengunci pintu. Ia duduk di meja, mengeluarkan sebuah buku tua dari tas, lalu meletakkannya di hadapannya.
Buku itu tak lain adalah kitab mistik, Kronik Sang Pencari Mimpi.
Sepanjang siang tadi, Dorothy sudah membaca habis isi buku itu. Tebalnya tak jauh beda dengan naskah pecahan Seni Anatomi Suci, jadi bisa selesai dibaca dalam satu sore.
Saat membaca, Dorothy sangat waspada dengan kondisi pikirannya—takut terkena “racun kognitif” yang pernah ia dengar di pertemuan tempo hari. Tapi, bahkan setelah menuntaskan bukunya, ia tak merasakan gejala apa pun.
Racun itu seolah tak berlaku padanya.
Apa karena aku masih terlalu sedikit terpapar? Atau jangan-jangan memang tidak semua pengetahuan mistik mengandung racun ini? Bisa jadi yang kutemui sejauh ini memang kebetulan tidak ada? Atau mungkin...
Berbagai kemungkinan berseliweran di kepalanya, tapi karena tak bisa dipastikan untuk sekarang, ia singkirkan dulu, memilih fokus pada hal yang lebih mendesak.
Pertama-tama... dari mempelajari Kronik Sang Pencari Mimpi, aku dapat 3 poin spiritualitas “Wahyu” dan 2 poin spiritualitas “Bayangan”.
Ia menatap buku tua itu. Karena Soul Codex-nya sudah penuh, ia tak bisa menukar pengetahuan dalam buku itu dengan ilmu dari dunia lain. Jadi, sama seperti sebelumnya, yang bisa ia lakukan hanyalah mengekstrak spiritualitasnya untuk jalan menuju peningkatan.
Hasil ekstraksinya: 3 poin “Wahyu” dan 2 poin “Bayangan.”
Apa artinya ini?
Dorothy sudah menyadari, setiap pengetahuan mistik pasti mengandung “Wahyu”, tapi jumlahnya tak pernah lebih besar dari tema utama. Misalnya, dari mempelajari pecahan Seni Anatomi Suci, ia memperoleh 5 poin “Cawan” dan 2 poin “Wahyu.”
Karena tema buku itu adalah “Cawan”—ilmunya fokus pada aspek itu. Sedangkan “Wahyu” muncul hanya sebagai sifat bawaan dari setiap pengetahuan mistik, tak pernah lebih dominan dari tema utama.
Sementara itu, Kronik Sang Pencari Mimpi memberi 3 poin “Wahyu” dan 2 poin “Bayangan”. Artinya, temanya berpusat pada “Wahyu” dan “Bayangan.”
Mungkinkah mimpi memang erat kaitannya dengan kedua spiritualitas ini?
Seperti halnya daging dan tubuh yang terikat dengan “Cawan”, Dorothy berspekulasi bahwa mimpi punya sifat ganda: “Wahyu” sekaligus “Bayangan.” Lagi pula, segalanya di dunia punya spiritualitasnya sendiri—bahkan mimpi pun bukan pengecualian.
Menggeleng pelan, Dorothy menyingkirkan pemikiran filosofis itu dan kembali fokus pada prioritasnya.
Saat ini, ia sudah mengumpulkan 5 poin “Wahyu”, 5 poin “Cawan”, dan 2 poin “Bayangan.” Dari hasil konsultasi dengan sistemnya, ia tahu batas maksimal untuk tiap jenis spiritualitas adalah 10 poin.
Artinya, begitu ia menambah 5 poin “Wahyu” lagi hingga genap 10, ia bisa memenuhi syarat untuk naik ke jalur Beyonder “Wahyu.” Walau ritual pastinya belum jelas, setidaknya ia sudah punya tujuan: mengumpulkan cukup poin dulu, soal ritual bisa dipikirkan nanti.
Jika sudah naik tingkat, Soul Codex-nya juga akan melebar, memungkinkan ia menyerap lebih banyak pengetahuan dunia lain.
Memang, spiritualitas “Cawan”-nya juga sudah tinggi. Ia bisa saja langsung mencapai syarat untuk jadi seorang Craver, dan ritualnya pun sederhana—bisa ia peroleh dari Crimson Eucharist. Tapi Dorothy sama sekali tak menyukai “estetika” jalur Cawan. Maka, ia tegas menolak pilihan itu.
“Hah... sudah, jangan dipikirkan terlalu jauh. Fokus ke tugas utama malam ini.”
Menghela napas panjang, Dorothy membersihkan pikirannya dan mulai bersiap.
Karena pengetahuan bukan sekadar untuk dikumpulkan, tapi juga dipraktikkan. Dan setelah menamatkan Kronik Sang Pencari Mimpi, kini ia siap mencoba masuk ke dalam mimpi.
Versi buku yang ia beli dari Grayhill ini disajikan dalam bentuk kumpulan dongeng dan fabel, semuanya bertema mimpi.
Salah satu kisah yang paling menonjol berjudul “Si Pencuri dan Si Kikir.”
Ceritanya tentang seorang pencuri yang, lewat sebuah mantra dalam mimpinya, berubah jadi burung dan masuk ke dalam mimpi seorang kikir, lalu mencuri lokasi harta karunnya. Si pencuri menggali harta itu di dunia nyata, tapi karena tamak, ia berulang kali masuk ke mimpi si kikir demi lebih banyak lagi. Sampai akhirnya, si kikir sadar ada penyusup dalam mimpinya. Ia pun menggunakan mantra lain untuk berubah jadi elang, lalu melahap burung yang merupakan wujud si pencuri.
Kisah-kisah lain dalam buku itu juga serupa: tokohnya memakai mantra untuk berubah jadi hewan di dalam mimpi demi melakukan tugas tertentu.
Kalau hanya berupa cerita-cerita itu, mungkin bukunya terasa membingungkan. Untungnya, ada catatan tambahan.
Seseorang yang pernah meneliti buku itu sebelumnya meninggalkan banyak anotasi yang menjelaskan isinya.
Membuka halaman kisah Si Pencuri dan Si Kikir, Dorothy membaca catatan-catatan di pinggirnya. Matanya berhenti pada bagian yang terpanjang.
*“Menguasai kendali mimpi itu sederhana, cukup ikuti teknik dasar yang sudah kusarikan sebelumnya. Tapi, memasuki Dreamscape butuh langkah khusus.
Kamu pasti sadar, para tokoh dalam kisah selalu memakai mantra dalam mimpi untuk berubah jadi hewan. Itu hanyalah metafora bagaimana cara masuk ke Dreamscape. Jadi langsung saja: jiwa manusia biasa tidak bisa masuk ke Dreamscape begitu saja! Kita harus mensimulasikan sebagian jiwa menjadi entitas Dreamscape agar bisa melangkah masuk—itulah makna transformasi dalam cerita-cerita itu.
Mantra yang dipakai disebut mantra mimikri mimpi. Dengan melantunkannya dalam mimpi sadar, kamu bisa berubah jadi makhluk Dreamscape dan segera melihat gerbangnya. Masuklah, dan kamu akan bisa menjelajahi Dreamscape dalam wujud hewan. Mantra yang berbeda menghasilkan transformasi yang berbeda pula.
Tapi ingat baik-baik! Mantra ini hanya bisa dilantunkan dalam bahasa mistik—seperti Elf, Lidah Hantu, atau Bahasa Abyssal. Kalau pakai bahasa biasa, hasilnya nol. Terutama untuk kata kunci, pemilihan bahasa akan sangat memengaruhi hasil mimikri.
Jadi, pilihlah bahasa dengan hati-hati!”*
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 24"
Post a Comment