Grimoire Dorothy Chapter 23
Bab 23: Racun Kognitif
Setelah memutuskan menghadiri pertemuan rahasia, Dorothy menghadapi satu masalah: apa yang bisa ia jadikan alat tukar untuk mendapatkan pengetahuan mistik jika ada sesuatu yang layak dibeli. Ia memang punya sedikit uang, tapi jumlah itu jelas tak akan cukup di tempat gelap semacam itu.
Setelah berpikir, Dorothy menyimpulkan: hanya benda mistik yang pantas ditukar dengan benda mistik. Satu-satunya barang surplus miliknya hanyalah beberapa jari spiritual. Ia bisa menyimpan satu untuk mengisi ulang cincin mayat, sementara dua sisanya ia jadikan komoditas. Dengan begitu, cincin miliknya tetap aman untuk waktu lama.
Namun, masalah lain muncul. Barang-barang ini jelas milik Perjamuan Merah. Jika ia menawarkannya di tempat terbuka, risikonya besar sekali. Bisa-bisa, selesai acara langsung ada yang memburunya. Jadi, Dorothy pun menyusun rencana:
Ia akan memanfaatkan penampilannya sebagai anak kecil—murni, polos, tak masuk akal bila datang sendiri. Orang akan mengira ia hanyalah utusan seseorang. Lalu, bersama boneka mayatnya, ia akan membuat sandiwara. Boneka itu tampil sebagai dalang, sementara dirinya hanya pion. Jika ada pengejar dari Perjamuan, mereka akan diarahkan pada boneka itu—yang pada akhirnya bisa ia tenggelamkan ke sungai untuk menghilangkan jejak.
Sementara itu, gagak pengintainya akan mengikuti para pengejar, mencari tahu ke mana mereka pulang. Begitu alamat mereka pasti, Dorothy hanya perlu mendorong sedikit informasi ke kakaknya, Gregor. Dengan sumber daya Biro Ketentraman, markas itu bisa disapu bersih.
Tapi, Dorothy tidak terburu-buru.
“Ini pasti cuma titik kontak, bukan markas utama. Kalau pun hancur, kerugiannya kecil bagi mereka. Tak sebanding dengan risiko…” gumamnya sambil menyeruput kopi manis berlebihan. Ia memilih menunggu kesempatan yang lebih besar, serangan yang lebih menghantam.
Setelah puas, Dorothy mengeluarkan buku tipis—Catatan Sang Pencari Mimpi. Buku yang ia dapatkan dari Grayhill. Konon, buku ini mengajarkan kendali mimpi dan akses ke Dreamscape.
“Buku masuk ke mimpi… menarik. Aku penasaran berapa banyak spiritualitasnya.”
Namun sebelum mulai membaca, pikirannya teringat pada satu istilah yang berulang kali ia dengar di pertemuan: “racun kognitif.” Banyak barang dagangan diklaim bisa menangkal racun ini—seperti bubuk herba dari nenek tua di awal.
Dorothy menduga, racun kognitif inilah alasan “Shepherd Dog” menolak membeli buku baru. Ia takut racun itu menumpuk jika mempelajari terlalu banyak pengetahuan mistik sekaligus, hingga akhirnya kehilangan kendali.
Artinya… mempelajari pengetahuan mistik sama dengan mengundang racun kognitif.
Pikiran itu membuat Dorothy terkejut. Ia sudah selesai mempelajari fragmen Anatomi Suci. Jadi, apakah ia sudah terkontaminasi?
Namun… ia tidak merasa ada apa-apa.
Baginya, isi buku itu hanya pengetahuan anatomi yang aneh. Menyeramkan, ya, tapi tak cukup untuk membuatnya gila. Kalau itu pun dianggap racun, bagaimana dengan mahasiswa kedokteran di kehidupan lamanya? Bagaimana dokter bedah bisa ada?
Dorothy menggeleng, menepis pikiran itu. Kalau memang racun itu bekerja diam-diam, bukankah Gregor pasti sudah menyadari ada yang aneh padaku? Lagi pula, kalau racun itu benar-benar tak terdeteksi, kenapa orang-orang repot mencari penawarnya?
Kesimpulannya: racun itu nyata, tapi ada kadarnya.
Dorothy pun memutuskan untuk bereksperimen.
…
Sore itu, ia duduk di tepi sungai di pinggiran kota. Angin menggoyang ilalang, matahari menyinari halaman hijau. Dengan hati-hati, Dorothy membuka Catatan Sang Pencari Mimpi. Ia membaca halaman demi halaman, sambil terus memantau kondisi pikirannya. Jika ada tanda bahaya, ia sudah siap menghentikan—atau menjeburkan diri ke sungai.
Satu halaman… tak ada efek. Dua halaman… masih biasa saja. Tiga halaman… tetap normal.
Dengan tenang, ia terus membaca.
Di bawah pohon rindang, rambut peraknya berayun diterpa angin. Jika bukan karena buku di tangannya adalah pengetahuan terlarang, pemandangan itu bisa saja jadi adegan pembuka drama sekolah romantis.
Sayangnya, realitas tak bisa diubah.
…
Sementara itu, di nomor 22 Jalan Elmwood Barat.
Sebuah ruang kerja mewah. Seorang pria paruh baya bertubuh gempal, kepala botak, kulit mengendur, duduk di kursi lengan dengan sebatang rokok. Dua pria berlutut di hadapannya, melaporkan dengan suara penuh hormat.
“Benar, Tuan Burton. Sebuah jari Cawan muncul di pertemuan Grayhill. Bahkan Grayhill sendiri mengakuinya. Tak diragukan lagi, itu milik organisasi.”
“Penjualnya tidak berani muncul. Mereka menyuruh seorang anak kecil membawa barang itu. Lalu barang ditukar dengan buku mistik. Kami mengikuti penjualnya, tapi dia meloncat ke Sungai Ironclay!”
Burton terdiam, mengisap rokok panjang. Ia bangkit perlahan, membuka laci, mengeluarkan sebuah foto, dan menyodorkannya.
“Orang ini?”
Dua pria itu menatap foto itu, lalu berseru serempak.
“Ya! Dia orangnya, Tuan Burton!”
Burton mendengus dingin. Ia menuang cairan merah pekat berbau anyir ke dalam cangkir, menyodorkannya.
“Bagi dua.”
Kedua pria itu bersujud, penuh syukur, lalu mundur.
Tersisa sendiri, Burton menatap lagi foto itu. Di baliknya tertulis dengan tinta merah: Edrick.
Ia berjalan ke rak buku, memutar tempat lilin. Rak pun bergeser, menyingkap sebuah ruang tersembunyi.
Di dalamnya—altar kecil dari tulang manusia berdarah. Empat lilin menyala, menerangi tengkorak dengan daging busuk menempel. Dari atas tengkorak itu tumbuh sebuah telinga, saraf dan akar-akar menjalar masuk ke tulang.
Burton mengelus telinga itu. Organ menjijikkan itu bergetar. Ia berbisik dengan suara rendah:
“Para Tuan, ada perkembangan soal kasus Albert. Aku sudah menemukan siapa yang membocorkan informasi ke Biro.”
“Edrick… tikus busuk itu! Bukan saja masih hidup, dia bahkan menari-nari di kota ini dengan harta yang ia curi. Dialah pengkhianat yang membuat Albert mati di Vulcan!”
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 23"
Post a Comment