Grimoire Dorothy Chapter 22
Bab 22: Pelacakan
Di kawasan kumuh distrik bawah Igwynt, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, dua sosok berpenutup wajah mengintai di mulut gang gelap. Dari balik tembok rapuh, mereka memperhatikan dengan saksama adegan yang berlangsung di dalam sana.
Di ujung gang, berdiri seorang gadis kecil berjubah hitam, mengangkat sebuah kotak tinggi-tinggi seolah sedang menyerahkan hasil pekerjaannya. Di hadapannya, seorang pria pucat dengan dandanan bak gentleman tegap berdiri.
“Benar juga… Anak itu dikirim ke pertemuan rahasia oleh seseorang. Orang itu mencoba menjual barang milik Perjamuan tanpa menampakkan diri,” gumam salah satu pria bertopeng, senyum dingin menyungging di wajahnya.
“Hmph, hati-hati memang. Tapi tetap naif. Mereka meremehkan pengaruh Perjamuan di Igwynt. Pertemuan Grayhill—bagaimana mungkin tak ada anggota Perjamuan yang hadir? Kini kita sudah mendapat jejak mereka…”
Mereka menahan tawa puas, terus mengawasi. Gadis berjubah itu kembali bersuara, nadanya lugu.
“Tuan! Bayaran susulan yang kau janjikan!”
Pria pucat itu tersenyum, menepuk kepala sang gadis dengan lembut. Dari sakunya ia mengeluarkan selembar uang kertas dan menyerahkannya, lalu menerima kotak yang diacungkan.
“Terima kasih, Tuan yang baik! Semoga Ibu Suci memberkahimu!”
Gadis itu membungkuk dalam-dalam, lalu berlari riang meninggalkan gang. Sang pria berwajah pucat kini melangkah tenang membawa kotak.
Dua penguntit saling bertukar pandang. Mereka segera membuntutinya.
Mereka tahu apa yang harus dilakukan: ikuti sosok misterius ini, temukan sarangnya, kumpulkan informasi, lalu laporkan. Perjamuan akan turun tangan, menangkapnya, menyiksa, menggali asal barang, lalu menghukumnya. Bayangan imbalan membuat langkah mereka ringan.
Namun, mereka tak menyadari—sepasang mata dari atas sedang mengawasi setiap gerakan mereka.
Pria pucat itu berjalan santai, tongkat di tangan, langkah seakan menikmati udara sore. Sesekali ia menatap langit, bahkan memberi sedekah pada anak jalanan yang lewat. Di antara lorong jorok dan bau anyir, ia tetap tampil bak bangsawan santun.
Itu justru membuat para pengikutnya resah. Ayo cepat, bawalah kami ke sarangmu!
Akhirnya, ia keluar dari lorong, menuju jalan besar yang ramai. Kerumunan membuat dua penguntit lebih leluasa membaur.
Tak lama, pria itu tiba di plaza tepi sungai. Angin sejuk berembus, udara hari itu bersih karena pabrik hulu tak beroperasi. Orang-orang berjalan santai, menikmati suasana.
Pria pucat berhenti di pagar pembatas sungai, menatap feri yang melintas. Ia berdiri lama, seakan hanya menikmati pemandangan.
“Seriusan? Dia ke sini cuma buat lihat sungai?” salah satu penguntit mengumpat pelan.
Namun, tiba-tiba pria itu berbalik. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
Ia melepas topinya, meletakkannya di dada dengan tangan kanan, tongkat di belakang punggung dengan tangan kiri. Dengan gerakan sempurna, ia menunduk dalam, memberi salam khas seorang gentleman.
Lalu, tanpa ragu, ia merentangkan tangan—dan menjatuhkan diri ke dalam sungai.
Air bergemuruh. Kerumunan menjerit kaget.
Kedua penguntit panik, berlari ke tepi pagar. Mereka mengintip ke bawah. Tapi… hanya aliran air yang deras. Tak ada tanda tubuh siapa pun.
Keduanya saling pandang, wajah menegang.
“Kita harus segera melapor ke Perjamuan.”
Tanpa buang waktu, mereka bergegas pergi, mengabaikan keributan orang-orang yang menyaksikan. Menyusuri dua blok, mereka masuk ke sebuah gang lagi, berhenti di depan pintu kayu merah dengan tangga.
Ketukan ritmis, beberapa kata sandi—dan pintu pun terbuka. Mereka masuk ke dalam.
Tak satu pun dari mereka menyadari, di atap gedung terdekat seekor gagak hitam bertengger diam, sayap terlipat, matanya mengawasi setiap detail langkah mereka.
…
Beberapa jalan dari sana, di lantai dua sebuah kafe sederhana, seorang gadis berambut putih duduk manis. Ia mengenakan blus putih dan rok abu-abu, baru saja menerima secangkir kopi dari pelayan. Dengan senyum lembut, ia berterima kasih.
Ia menaruh delapan bongkah gula ke dalam kopi sekaligus, mengaduk perlahan. Setelah mengepulkan uapnya, ia menyesap sedikit, matanya berbinar puas.
Meletakkan cangkir, ia menghela napas, lalu tersenyum samar. Lewat mata gagaknya, ia baru saja merekam semua yang terjadi.
Dengan suara lirih, Dorothy berbisik:
“Jalan Elmwood Barat… nomor 22?”
Senyum di bibirnya melebar. Hari ini, perburuan justru berbalik arah. Ia yang kini memegang jejak mereka.
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 22"
Post a Comment