Life With a Tail Chapter 49

49 – Tidur Seharian Penuh Itu Tetap Bikin Badan Terasa Berat



Hari-hari mulai terasa lebih panjang, dan hari-hari hangat yang menyenangkan pun makin sering. Sampai rasanya wajar kalau mulai ada obrolan seperti, “Sebentar lagi musim semi, ya.” Hari ini juga sepertinya termasuk hari seperti itu. Sinar matahari pagi terasa sangat nyaman.

“Ahhh… hari begini tuh pengennya tidur lagi, habis itu berjemur dan malas-malasan seharian.”

“Ngomong apa sih. Hari ini kan katanya bakal ada pembahasan detail soal penumpasan bandit. Ayo, bangun, bangun.”

Oh iya, benar juga. Akhirnya jadwalnya kosong dan mereka mau mulai membahas soal penyusunan pasukan penyerbu. Jadi hari ini tetap kerja, ya… Padahal cuacanya enak begini, rasanya sayang. Sambil mengeluh dalam hati, aku pun merayap turun dari tempat tidur.

“Tapi penyusunan pasukan itu bakal diubah di bagian mana ya? Apa beda dengan formasi biasa?”

“Kalau tanya aku sih nggak tahu… tapi kan nggak semua orang ikut. Paling disesuaikan di situ.”

Ya juga. Dipikirkan sekarang pun nggak ada gunanya.

Yang lebih penting, beresin penampilan dan sarapan dulu.

“Ngomong-ngomong, rambutmu sudah hampir bisa diikat lho, Rutty. Dikepang masih belum, tapi setidaknya diikat sudah hampir bisa.”

“Iya ya. Sejak kejadian slime itu aku memang membiarkannya panjang, tapi karena ujungnya dirapikan terus, jadi susah panjang cepat.”

Rambutku sendiri sudah selesai cepat. Tinggal disanggul sederhana lalu ditutup dengan penutup sanggul.

Sekarang aku malah menyisir rambut Rutty. Panjangnya memang sudah lumayan, tapi masih kurang. Sudah cukup lama sejak kejadian itu, tapi hasilnya masih belum memuaskan.

Setelah rambut Rutty beres, kami sarapan… lalu sebelum berangkat, minum teh pagi dulu.

Sejak pindah rumah, jarak ke kastil jadi dekat, jadi di hari kerja korps penyihir kami lumayan punya waktu luang di pagi hari. Sebaliknya, kafe jadi agak jauh sih.

“Begitu keluar dari ibu kota, mungkin kita sudah nggak bisa santai begini lagi.”

“Mungkin teh pun nggak bisa diminum dengan tenang. Tapi ya, ini kan jarang-jarang. Kita tahan saja.”

Hmm… namanya juga kerja. Nggak bisa dihindari. Sudah digaji, ya harus kerja.

Tapi aneh juga… awalnya aku nggak berniat kerja sebanyak ini di korps penyihir…

Ah, mikir detail begitu malah bikin capek.

Kami berjalan santai menuju kastil.

“Pagi.”

“Selamat pagi.”

“Oh, pagi.”

“Pagi.”

Sambil saling menyapa rekan kerja, kami menuju lapangan latihan, tempat berkumpul.

Wow… hampir semua orang hadir. Jumlahnya benar-benar banyak.

Waktu pertama kali kami berkumpul untuk salam perkenalan dulu, jumlahnya cuma sekitar setengahnya.

“Waktunya tiba. Setiap regu sudah lengkap, ya? Baik, saya akan menjelaskan garis besar operasi penumpasan bandit. Pertama—”

Komandan menjelaskan alur besar operasi. Detail kecilnya nanti dijelaskan per regu oleh masing-masing kapten.

Secara garis besar, operasi dibagi menjadi tiga:
regu pengepungan markas bandit,
regu gerak cepat untuk menghadapi bandit yang lolos atau berada di luar kepungan,
dan regu penyerbu yang masuk langsung ke markas.

…Entah kenapa firasatku jadi nggak enak.

“Dengan demikian, regu kita akan bertugas sebagai regu penyerbu. Karena keterbatasan jumlah personel, regu penyerbu akan relatif sedikit, jadi tidak boleh ada yang absen. Pastikan kondisi kalian prima sampai hari pelaksanaan.”

Yup, sudah kuduga. Kalau kaptennya Nera-san yang bisa menyusup sambil tak terlihat lalu menggorok leher musuh, memang lebih efisien begitu.

Aku paham kenapa pengepungan butuh lebih banyak orang, tapi mengurangi jumlah penyerbu… agak bikin khawatir juga.

“Rutty, kamu jangan sampai terluka, ya?”

“Aku tahu. Tapi kamu juga jangan sampai terluka, Natsuki. Aku tahu kamu kuat, tapi tetap saja, hal terburuk bisa terjadi.”

Dia khawatir, tapi sebenarnya dari segi ketahanan, Rutty lebih rapuh dariku. Hal kecil saja bisa jadi cedera serius. Kalau ada apa-apa, aku harus berdiri di depan.

“Kalian berdua jangan terlalu tegang. Aku tentu ikut turun, begitu juga Komandan dan para kapten lainnya.”

Setelah rapat selesai dan semua dibubarkan untuk persiapan masing-masing, Nera-san memanggil kami.

Memang benar para kapten juga ikut turun, itu cukup menenangkan. Tapi tetap saja, selalu ada kemungkinan terburuk. Perasaanku agak lebih tenang, tapi masih ada ganjalan di hati.

Rutty juga kelihatan agak kaku… seolah Nera-san sudah menyadarinya.

“Hehe. Bukan cuma untuk kalian, tapi juga untuk menaikkan moral pasukan, hari ini akan diadakan pesta kecil prasmanan. Sederhana saja, tapi silakan ikut. Terlalu tegang justru bikin kesalahan, tahu?”

Seperti biasa, Kapten kami memang hebat. Bahkan cara melonggarkan ketegangan pun sudah berpengalaman.

Hari pelaksanaan tinggal beberapa hari lagi.
Jangan terlalu memaksakan diri, tapi juga jangan lengah.

Itu yang harus kami ingat.