The Principle of a Philosopher Chapter 469
Eternal Fool “Asley” – Chapter 469
The Eternal Fool
“Apa… ini?”
Yang Lucifer lihat, yang para monster di medan perang lihat, yang seluruh
umat manusia lihat… itu bukan Asley. Itu adalah aura hangat energi
arkanaanya yang menyelimuti dunia.
Tidak ada tekanan dalam energi itu. Tidak ada gelombang. Tidak ada rasa
takut.
Energi itu hanya memeluk energi arkanaa dunia seperti laut yang tenang,
beresonansi dengan Asley, melekat padanya. Namun hanya Lucifer yang melihat
sesuatu yang berbeda. Ia memahami sesuatu yang seharusnya tidak ingin ia
pahami.
[Tidak mungkin salah……! Ini… ini energi arkanaa yang terpancar darinya —
dari Asley! Kenapa!! Kenapa dia memiliki energi arkanaa seperti ini?! Apa
dia hidup ribuan tahun lagi hanya untuk mengalahkanku!? Tidak! Tidak
mungkin! Ini bukan energi arkanaa lembut yang selama ini dia miliki! Tingkat
energi arkanaa ini… ini adalah…!!]
“Secara teori, sihir Space-Time Transmission seharusnya sudah tidak bisa
digunakan lagi.”
“…!”
“Dengan sisa kekuatan Dewa yang hampir habis, aku berhasil kembali ke waktu
yang telah terkonfirmasi di era ini, hari ketiga bulan keenam, ke Pochisley
Agency. Jadi secara teori, aku tidak bisa mundur lebih jauh dari waktu
itu.”
Itu karena kekuatan Devilkin telah melampaui kekuatan Dewa.
“Namun saat aku terjebak di Storeroom, aku tidak punya pilihan selain
mencapai kekuatan yang lebih besar. Aku harus melampaui energi arkanaa Dewa
— sekaligus energi Devil King.”
Jika Asley bisa melampaui kedua kekuatan tinggi itu, maka sihir Space-Time
Transmission bisa dipanggil kembali. Itulah jawaban yang ia capai — sebuah
pencapaian yang tampaknya mustahil di dalam dimensi tempat bahkan kelaparan
pun terasa sudah di ambang terjadi.
“Dorongan awal yang membuatku bisa melampauinya, ternyata… justru Magitek
milikmu, Lucifer.”
“Magitek… milikku?”
“Vital Equalizer dan Vital Exchange milikmu. Teknik yang luar biasa —
benar-benar sesuatu yang pantas diciptakan oleh Devil King. Mengubah HP
menjadi MP, membagi kerusakan secara merata — semuanya berada dalam
kendalimu.”
“A-apa maksudmu!?”
“Begini… aku harus bertarung melawanmu di sini sekali saja. Kalau tidak,
aku tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Jadi aku memutuskan melakukan
sesuatu yang hanya bisa kulakukan — aku mengkuantifikasi satu hal tertentu
dan mengubahnya menjadi energi arkanaa.”
Tak lama setelah itu, Pochi menyadari perubahan pada penampilan
Asley.
“A-apa—!? APA!? Rambutmu… itu…!! SEPERTI ORANG TUA!!”
Rambut Asley yang terselubung cahaya zamrud tiba-tiba memutih.
Menyadari implikasinya, mata Lucifer membelalak.
“U-umurmu… Kau mengubah umurmu sendiri menjadi energi arkanaa!?”
Itu adalah rencana bodoh yang hanya bisa dipilih oleh Asley — seseorang
yang telah mencicipi eliksir kehidupan. Magitek pamungkas yang mengorbankan
umur demi menghasilkan energi arkanaa.
Lucifer pernah menyaksikan fenomena ini sebelumnya.
Saat ia datang ke Eddo dan memojokkan Asley.
—Kau… melayang? Dari mana kau mendapatkan energi arkanaa untuk melakukan
itu? Seharusnya tidak ada yang tersisa. Apa itu emosimu? Ah, ya, kekuatan
tekad… itulah yang membedakan manusia dari kami. Dalam satu sisi, lebih
menakutkan dari kami. Namun dengan energi sekecil itu, yang bisa kau lakukan
paling hanya memanggil sihir Levitation. Kau bahkan tidak bisa berdiri —
sekarang, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?
Ingatan tentang Asley yang meneteskan air mata saat mencoba menghentikan
Lucifer kembali muncul dalam benak Lucifer.
[Itu bukan… itu bukan energi arkanaa yang meluap karena emosi! Saat itu,
Asley sudah menunjukkan tanda-tanda bisa menggunakan Magitek ini…!!]
“Oh, dan soal rambut ini? Nanti juga kembali normal. Tapi entah kenapa, aku
tidak pernah bisa membuatnya tidak memutih — berapa kali pun aku mencoba,
selalu berubah jadi putih!”
Mendengar kata-kata itu, Irene tiba-tiba menyadari sesuatu.
Itu tentang sihir ciptaan Asley yang terkubur dan dianggap tidak
berguna.
—Dengan energi arkanaaku, aku bisa memanggil 30 sekaligus. Bahkan jika aku
menggunakan Giving Magic dan memanggilnya seharian penuh, kamu paling hanya
mendapat beberapa ribu poin pengalaman… yah, mungkin bahkan tidak sampai
3.000.
Inilah kisah yang Irene dengar saat Asley berhasil menghasilkan experience
points melalui sihirnya.
“Darklight Eikon…!”
Irene menoleh ke arah Gaston, yang membalas dengan anggukan kecil dan
senyum tipis.
“Jadi itu alasan kamu bisa naik level sebanyak itu…! Dengan energi arkanaa
ini, experience points yang bisa diperoleh jadi… Tunggu!
Jangan-jangan!?”
Irene kembali menatap Asley.
“Benar. Pemuda itu berada di level yang bahkan lebih tinggi.”
Gaston melanjutkan,
“Penimpaan ulang ramalan itu dilakukan untuk mencegah pemuda itu terbunuh.
Karena dia tahu bahwa dua belas Duodecad masih hidup pada saat Lucifer
mengira dia sudah mati… dia harus mengalihkan perhatian Devilkin, perhatian
Devil King Lucifer, kepada Duodecad.”
“Awalnya aku tidak menyadarinya, tapi memang begitu rupanya. Lucifer, perlu
untuk menipumu sampai hari ini, sampai detik ini. Bukan hanya Idïa atau
Cleath. Kamu juga harus tertipu karena kamu menjadi waspada setelah sekali
mengalami kekalahan di tangan Holy Warriors. Penting bagiku untuk kembali ke
hari saat aku bertemu Jun’ko dan menyampaikan ramalan Dua Belas Rasi Bintang
kepadanya. Sampai saat aku memanggil Storeroom, aku tidak boleh mati di
tanganmu…!”
Kata-kata Asley menembus Lucifer.
“Bagaimana aku menginstruksikan Idïa untuk menargetkan Duodecad, dan
bagaimana aku mencoba membuatmu mengalami neraka hidup — semuanya…! Semua
itu bagian dari rencanamu!?”
“Eh, maaf, itu cuma karena kamu memang seperti itu. Aku cuma seorang bodoh
yang mengubah umurku jadi kekuatan… Aku tidak merencanakannya sedetail itu.
Aku hanya melakukan apa yang bisa dilakukan oleh seorang bodoh… atau
seharusnya kukatakan… seorang pemegang gelar Fool?”
“BODOH… bodoh… Memang, benar-benar bodoh…! Magitek itu… pedang bermata dua
yang bisa membunuhmu dalam sekejap hanya karena sedikit kesalahan
perhitungan! Tapi kamu… Kamu…!!”
“Ya, cuma aku yang bisa melakukannya, tahu?”
Saat Asley akhirnya mengakui dirinya sebagai seorang yang Bodoh—
““Asley!!””
Suara-suara itu sampai kepadanya — suara para rekan seperjuangannya.
Dengan energi arkanaa Asley yang menyelimuti mereka, pasukan Devil King di
medan perang berada di ambang kehancuran. Sisanya dipercayakan kepada
Pasukan Chappie. Mereka yang telah mempertaruhkan segalanya datang demi
Asley.
Dari selatan datang Bruce, Blazer, Betty, Haruhana, Argent, Belia, Ryan,
Reid, Mana, Reyna, Adolf, Ideá, Midors, Dallas, Bull, Eigul, Tzar, Tarawo,
Tangalán, Dragan, Trace, Leon, Minerva, Blue, Anri, Claris, Shiny, Platina,
dengan Latt dan Hawk di punggung Star Horse.
Dari barat daya datang Melchi, Charlie, Jennifer, Natasha, Russell, Jacob,
Catherine, Amil, Duncan, Scott, dan Ricky.
Dari tenggara datang Shi’shichou, Kohryu, Kokki, dan Weldhun.
Namun belum berakhir di sana. Seluruh pasukan Resistance telah tiba sejauh
ini, menyaksikan monster-monster yang melarikan diri seperti kelinci diburu
pemburu.
“Hei, timing yang sempurna.”
“Apa!?”
“Monster itu barisan terdepan Devilkin, kan?”
“Memangnya kenapa!?”
“Buka matamu lebar-lebar… Billion Magic!”
Dalam sekejap berikutnya, ribuan, puluhan ribu, ratusan juta Lingkaran
Sihir tergambar di atas medan perang bagian selatan.
[“Itu sinyalnya!”]
[“Minggir dari sini, Ayam!”]
“Sekarang kita pergi… ke sisi Ayah!!”
Melihat itu, Chappie segera mengarahkan seluruh Violet Phoenix menuju Asley
dan yang lainnya.
Yang tersisa di medan perang selatan hanyalah monster dan Devilkin tingkat
rendah yang melarikan diri.
“Apa… itu…?”
Tak terhitung jumlah Lingkaran Sihir tergambar.
Lucifer tidak mampu mengikuti situasi abnormal ini.
Irene, satu-satunya yang pernah mendengar potensi magitek itu, menatap
Asley dengan tak percaya.
—Yang paling menjanjikan saat ini mungkin Deca Spell… kurasa.
Di langit selatan, miliaran Lingkaran Sihir memenuhi angkasa.
Asley, yang telah menguasai Eternal Fool, tidak menggambar semua lingkaran
itu dengan tongkatnya, jarinya, bahkan bukan dengan matanya.
Yang ia pilih adalah—energi arkanaa itu sendiri.
“Kamu menggambar semua ini hanya dengan menggerakkan energi arkanaa… Ini
memang satu mantra, tapi jumlahnya begitu banyak… Hah, dia memang
benar-benar seorang yang bodoh.”
Memang, Billion Magic adalah sebuah Magitek yang mengatur pergerakan energi
arkanaa untuk menggambar Lingkaran Sihir. Sebuah Magitek yang tak mungkin
dicapai oleh penyihir biasa. Tanpa cadangan energi arkanaa yang begitu luas
hingga menyelimuti dunia, ia tak bisa digunakan ataupun diaktifkan — itulah
Magitek pamungkas milik Asley.
Seperti yang dikatakan Irene, sihir yang Asley pilih kali ini sangatlah
sederhana.
Sebuah sihir berskala luas, dengan efek yang mencegah kerusakan tambahan
pada Regalia dan wilayah sekitarnya.
“Rise, Hell Gravity Stamp.”
Lapisan tekanan gravitasi menghancurkan seluruh monster, menekan mereka
hingga terkubur ke dalam tanah.
Bumi mengerang. Dunia bergetar.
Dalam waktu sedikit lebih dari sepuluh detik, semua monster kembali ke
tanah dan lenyap tanpa sisa.
“JUSTICE SHALL PREVAIL!!”
Suara Chappie menggema di atas reruntuhan Kastil Regalia.
Yang sebelumnya bertugas memberi dukungan, kini Chappie bersama pasukannya,
Minerva, Blue, dan Leon memiliki tujuan berbeda.
Mereka mengumpulkan semua orang di tempat di mana Asley dan Lucifer berada,
untuk memisahkan pasukan Devil King dari umat manusia.
Serangan tanpa henti Pasukan Chappie dan aktivasi Eternal Fool oleh Asley
menimbulkan kekacauan mutlak — dan selama momen singkat itu, mereka terus
bertahan demi mempersiapkan langkah ini.
Ratusan anggota Resistance mengepung Asley dan Lucifer.
Lucifer menoleh ke sana kemari… tetapi tak satu pun rekannya, tak satu pun
yang bisa ia sebut sekutu, terlihat di mana pun.
“Jadi… ramalan ini sebenarnya mengatakan apa?”
Irene bertanya pada Lylia.
Menanggapi itu, Lylia menceritakan kembali dengan nada penuh kenangan kisah
yang dijuluki Legend of the Enlightened.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sang Pemberani Bersayap Merah berangkat, dalam Perjalanan menumbangkan
Devil King,
Menaklukkan banyak Negeri dan Ujian, ia berdiri melawan Monster,
Beban Masa Depan di kedua Pundaknya, pada akhirnya ia jatuh ke Bumi,
Bermandikan Kemuliaan Kemenangan, Sihir Sang Raja tersapu Angin,
Jiwa-jiwa Manusia yang gemetar terangkat, perayaan mereka menggema,
Sang Pemberani Bersayap Merah, tercerahkan, muncul untuk
Menyelamatkan,
Sang Pemberani Bersayap Merah, tercerahkan, menghantam Sang Raja,
Sang Pemberani Bersayap Merah, tercerahkan, meraih Kemenangannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dahulu, saat Polco Adams menyerahkan Awakening Stone kepada Asley, ia
membacakan sebuah kisah — itulah Legend of the Enlightened. Lylia, sebagai
seseorang yang hidup di era itu, tentu tak mungkin tidak
mengetahuinya.
Hal yang sama berlaku bagi Tūs.
Karena itu, merekalah yang pertama menyadari bahwa ramalan tersebut telah
ditimpa dan ditulis ulang.
“Itu jelas bukan sesuatu yang akan kita dengar di era ini… bukan?”
Pertanyaan Irene dijawab oleh Minerva.
“Benar. Tuan Asley tidak bisa membiarkana Lucifer mengetahui legenda ini.
Gaspard, dan pada akhirnya Lucifer, bahkan tidak boleh menyelidikinya. Sosok
bersayap merah — yang merujuk pada Tuan Asley dengan mantel merahnya — tak
boleh diketahui sebagai dirinya.”
Minerva lalu menunjuk ke arah Asley.
“Sang Fool yang tegak melambangkan potensi yang tak dikenal… bukan begitu,
Nona Pochi?”
Tanpa diduga, Minerva justru mengarahkan pertanyaannya pada Pochi.
Setelah hening sesaat, wajah Pochi berbinar.
“I-iya! Benar! Pasti itu maksudnya!!”
Retakan yang ditimbulkan oleh sang Fool — itulah sesuatu yang sejak lama
Pochi rasakan tentang Asley.
‘Fool’ bukan sekadar kata. Hasil ramalan Sayaka tak pernah salah.
Minerva menegaskan makna Fool itu bersama Pochi.
“Masterku… Masterku bisa melakukan apa pun! Dia bisa menjadi apa
pun!”
Saat Pochi berseru, semua orang mengerti.
Mereka mengerti siapa Asley sebenarnya.
“Lucifer, ini sudah berakhir.”
“Hmph! Jangan harap–!!”
Energi arkana Lucifer tak memancar dari tubuhnya.
Ia ditekan paksa oleh energi arkana Asley yang menyelimuti dunianya, tanpa
ampun — sama seperti saat perang di masa lalu.
Asley, sang Eternal Fool, menyalurkan energi arkana yang meluap ke dalam
kepalan tangannya.
“Tuan Asley mungkin suatu hari akan diakui sebagai seorang
Philosopher…”
Ucap Minerva, dan Irene menambahkan,
“TAPI…”
Lalu semua orang bersuara bersama.
Melalui kisah Lylia dan kata-kata Pochi, mereka telah memahami siapa Asley
sebenarnya.
“”BUKAN HARI INI!!!!””
Kini, tepat di saat itulah, gelar “The Fool” menunjukkan nilai
sejatinya.
Sejak hari ia memutuskan menantang Chestpocket milik Devil King, Asley tak
pernah mengalihkan tujuannya. Ia terus mengincar tempat itu tanpa sedikit
pun ragu. Pengejarannya mungkin terlihat bodoh, tetapi tak pernah
sembrono.
Bahkan setelah berhadapan langsung dengan Devil King, Asley tetap melangkah
maju menuju tempat itu. Keteguhan hatinya tak goyah, seberapa pun tubuhnya
dihantam dan dilukai.
Itu bukan sekadar keras kepala.
Itu adalah keberanian.
Tempat yang hanya bisa dipijak oleh Asley—yang diakui oleh Devil King
sendiri—adalah Chestpocket milik Devil King.
Sepanjang sejarah, mereka yang menantang Devil King bukanlah orang
bodoh.
Tak pernah.
Hal itu telah disampaikan dalam Legend of the Enlightened, dan juga dalam
perasaan Pochi.
Sang Pemberani — Sang Pahlawan.
Asley mulai berlari.
Menuju Chestpocket milik Devil King, Lucifer.
Apakah benar seseorang yang merupakan Sang Pahlawan sekaligus praktisi seni
arkanaa sedang menapaki jalan seorang bodoh?
“Dengar baik-baik… aku ingin… SANGAT ingin… menjadi seorang Filsuf!!”
Di saat genting seperti ini, orang yang tetap bersikeras mengejar
keinginannya sendiri mungkin memang pantas disebut bodoh.
Namun, tak seorang pun menertawakannya.
“”Asley!!””
“”Sir Asley!!””
“”Sahabatku!!””
“”Tuan Asley!!””
“Bocah!!”
“Ash!!”
“Anak muda!!”
“Ayah!!”
“Instruktur!!”
“Master!!”
Hanya ada satu Pahlawan yang mampu menantang Devil King Lucifer — dan itu
adalah Asley, harapan sekaligus masa depan mereka.
“”MAJUUUUUUUU!!!!!!””
Suara semua orang mendorong Sang Pahlawan melangkah ke depan.
“”OOOOOOOOOHHHH!!!!!!””
Raungan itu, teriakan Sang Pahlawan yang menggema menjadi satu, membekukan
jiwa Lucifer.
[Mengapa… Mengapa aku gemetar? Mengapa!?]
Lucifer, meskipun wajahnya sudah berubah kacau, tetap tak menyadari bahwa
jawabannya adalah rasa takut.
Saat ia melihat Asley semakin mendekat, semakin keras, semakin tak
terbendung, ia memahami bahwa akhir dirinya telah tiba.
“…T-TIDAK! BERHENTI—“
Pukulan dahsyat Sang Pahlawan menembus jantung Devil King, menghantarkana
keduanya terlempar tinggi ke angkasa.
Jeritan tanpa suara Lucifer menggema di langit luas. Tinju Sang Pahlawan
yang merobek keberadaan Devil King menjadi penanda berakhirnya
segalanya.
Energi arkanaa milik Devil King meledak dan tercerai-berai.
Energi arkanaa Sang Pahlawan turun perlahan dari langit.
Mereka yang menyaksikan hanya bisa berdoa, berharap Sang Pahlawan
kembali.
Yang tersisa setelah itu hanyalah keheningan.
Dan suara angin yang berembus pelan.
Post a Comment for "The Principle of a Philosopher Chapter 469"
Post a Comment