The Principle of a Philosopher Chapter 467-1

The Principle of a Philosopher
Eternal Fool “Asley” – Chapter 467.1
Merangkul Masa Lalu dan Menggenggam Masa Depan
Scene 1 (Split Part 1/4)



Kegelapan menyelimuti segalanya, membentang tanpa ujung.

Asley tidak tahu apa-apa — tidak tahu kapan atau di mana ia berada, bahkan tidak tahu kenapa ia ada di sana.

Ledakan energi arkana yang dilepaskan Lucifer telah menelannya bulat-bulat.

Namun kini ia berada di sini, terperangkap dalam kehampaan tanpa akhir.

Tubuhnya remuk dan nyaris hancur, tetapi ia masih bernapas.


“Ugh…!”


Saat membuka mata, tidak ada apa pun di hadapannya.

Itu wajar saja — tak ada secercah cahaya di jurang ini.

Namun Asley, yang beberapa saat lalu bertarung melawan Devil King, tidak menganggap ini sekadar kegelapan. Ia menyimpulkannya sebagai kebutaan sementara akibat guncangan dahsyat.


“R-rise! Middle Cure!”


Pertama, sihir pemulihan itu diarahkan ke matanya, lalu ke luka-luka lain di tubuhnya.

Sedikit demi sedikit, ketenangan kembali ke dalam pikirannya.


“A-apa-apaan ini…!”


Ia meraba wajahnya dan memastikan bahwa indranya masih berfungsi.

Suaranya menggema di ruang kosong. Bau hangus dari mantelnya masih tersisa.


“Aku… masih hidup?”


Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa ruang ini memang benar-benar diselimuti kegelapan.


“Rise! Torch!”


Ia akhirnya memilih menggunakan sihir cahaya.

Sekelilingnya pun tersinari, memperlihatkan di mana ia berada.

Hal pertama yang tertangkap matanya adalah sebuah bejana kaca yang melayang.


“Hei, itu…! Pochibitan D!?”


Tanpa ragu, ia meraihnya — sesuatu yang ia kira telah hilang bersama ingatannya — lalu meneguknya habis.

Tenaganya pulih.

Ia kembali menatap sekeliling.

Kali ini, ia melihat banyak hal — berbagai barang miliknya yang melayang tak beraturan.


“…Oh, begitu.”


Asley memang tertelan oleh ledakan energi arkana Lucifer.

Namun bukan hanya dirinya.

Pada saat yang sama, Storeroom yang ia panggil juga ikut tertelan.


“Jadi sebelum ledakan itu menghancurkanku, ia lebih dulu membuat Storeroom runtuh… dan dalam prosesnya, Storeroom justru menelanku!”


Dari luar, pasti terlihat seolah-olah Asley, Storeroom, dan ledakan energi arkana itu menghilang bersamaan.


“Itu sebabnya aku masih hidup! …Sial! Pochi!”


Setelah memastikan dirinya selamat, ia segera bertindak.

Asley menggunakan Giving Magic untuk mengisi kembali energi arkananya, menyembuhkan seluruh lukanya, lalu mencari cara untuk keluar.


“Rise! Storeroom! …Tch, kenapa tidak berhasil!?”


Ia mencoba memanggil Storeroom dari dalam, tetapi Spell Circle tidak memberi respons apa pun.

Ia mengobrak-abrik barang-barang yang melayang di sekelilingnya, berharap menemukan petunjuk atau metode untuk keluar dari ruang penyimpanan itu.

Tidak ada.

Di ruang kosong ini, napasnya mulai tak teratur.

Kelelahan mental menyerangnya — Biological Clock miliknya sudah menunjukkan pergantian hari.


“…Tidak, ini buruk… Tidak mungkin mereka bisa bertahan selama ini…!”


Ia tidak tahu waktu di luar sudah berjalan sejauh apa.

Namun berdasarkan magecraft Biological Clock, beberapa jam telah berlalu sejak pertarungannya melawan Lucifer.

Energi arkananya sudah pulih.

Tapi tidak ada siapa pun yang bisa ia bantu.

Menyadari dirinya sama sekali tak mampu berbuat apa-apa, Asley meluapkan frustrasi, kesedihan, dan kemarahannya.


“Sial, sial, sial, sial!! Untuk apa jadi harapan umat manusia kalau aku tidak bisa melakukan apa-apa!? Dari awal memang tidak mungkin aku bisa melakukan apa pun! Siapa pun juga tidak mungkin! Bagaimana mungkin ada yang bisa mengalahkan monster itu!?”


Ia mengamuk, melempar barang-barang di sekitarnya, meratapi ketidakberdayaannya.

Lalu…

Asley terdiam.

Di ruang kosong itu, ia memeluk tubuhnya sendiri, meringkuk, dan air mata mengalir deras tanpa henti.


“Pochi… Lina… Tifa… Irene… Fuyu… Haruhana… Lylia… Bruce… maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf!”


Sambil menyeka keringat, air mata, dan ingus, Asley terus menyebut nama rekan-rekannya dengan suara gemetar.


“Baladd… Hornel… Natsu… Lala… Mana… Reid… Adolf… Ryan… Reyna… Barun… Idéa… Midors…”


Begitu banyak nama bermunculan, masing-masing memanggil kembali kenangan.

Blazer, Betty, Black Emperor Warren, Dainty Tiger Dragan, Egd, Konoha—daftarnya seakan tak ada habisnya. Namun ketika Asley terus melafalkan nama mereka satu per satu, ucapannya tiba-tiba terhenti pada dua nama tertentu.


“Minerva… Blue… Minerva… Minerva?”


Saat menyebut dua nama itu, sebuah kesadaran menghantamnya. Bukankah Minerva telah berjanji akan membawa bala bantuan? Tapi… apakah Minerva pernah benar-benar muncul di medan perang?

Asley bergegas menuju lokasi Lucifer segera setelah perang dimulai.

Jika Minerva datang bersama pasukan kavaleri, itu seharusnya tidak masalah. Namun energi arkananya termasuk yang paling kuat, bahkan di antara para penyihir. Di tengah pertempuran sekalipun, mustahil Asley tidak menyadari kehadirannya.

Ia mencoba mengingat kembali. Tidak ada satu pun ingatan tentang merasakan energi arkana Minerva.


“…Kenapa…?”


Minerva adalah tempat Asley bersandar, sosok yang memberinya nasihat, bahkan membantu memulihkan sumbatan energi arkananya—seorang dermawan baginya. Namun tak peduli seberapa keras ia memikirkan alasannya, tak ada jawaban yang muncul.

Lalu, sebuah pesan dari orang terdekat Minerva terlintas di benaknya.

Pesan yang pernah disampaikan murid Minerva, Sayaka, kepadanya.


[Ah, hampir saja aku lupa… ada satu pesan terakhir dari guruku.]

[Oh ya?]

[‘Pertempuran terakhir adalah sesuatu yang tak terelakkan. Jika kamu berada dalam kesulitan, ingatlah apa yang selama ini telah kamu lakukan…’]


Saat Asley mengingat pesan itu, keringat, air mata, dan ingusnya seketika berhenti.


“…J-jadi itu bukan pertempuran terakhir? Karena itukah dia tidak datang membantu kami? Kenapa dia tidak muncul…? Tidak, bukan itu yang penting. Jika aku berada dalam kesulitan, aku harus mengingat apa yang selama ini kulakukan… Dan sekarang aku benar-benar dalam masalah besar, jadi… hanya ada satu hal yang harus kulakukan!”


Ingat.

Asley menelusuri kembali ingatannya sebaik mungkin—semua langkah yang telah ia tempuh sepanjang perjalanan ini.

Tak lama kemudian, ia menyadarinya. Dan begitu menyadarinya, ia segera menegakkan tubuhnya yang semula meringkuk.


“…! ‘Belum saatnya’! Itu dia!”


Ia teringat satu kalimat—sepotong kecil pesan yang pernah disampaikan Shi’shichou melalui Chappie.


“Aku satu-satunya yang tahu tentang Storeroom! Hanya aku yang bisa membukanya! Dalam masa lalu, di seluruh ingatanku, tidak pernah ada catatan tentang diriku keluar dari Storeroom—karena jika ada, sejarah akan berubah! Tapi aku tahu… ADA seseorang yang tertarik pada Storeroomku! Seseorang yang mampu menciptakannya sendiri! Seseorang yang mengajariku!! Jadi begitu… jadi memang begitu, Nona Minerva!! Hahaha… ahahaha!!”


Wajah Asley dipenuhi kegembiraan.

Tak butuh waktu lama bagi Asley—yang merasa telah memecahkan semua misteri—untuk kembali memasang ekspresi penuh tekad.


“…Baiklah, waktuku tidak banyak… Tapi begitu aku melewati rintangan pertama, sisanya… akan mudah! Tunggu aku, Pochi! Tunggu aku, semuanya!!”


Dan demikianlah Sang Eternal Fool melangkah sekali lagi—menuju ujung dari jalan yang tampak tak berkesudahan.

Post a Comment for "The Principle of a Philosopher Chapter 467-1"