The Principle of a Philosopher Chapter 365

The Principle of a Philosopher
Eternal Fool “Asley” – Chapter 365,
Asley yang Dilanda Masalah



Meskipun kesempatan berbicara itu datang mendadak karena ulah Warren, pada akhirnya aku menceritakan kepada semua orang betapa jauhnya perbedaan kekuatan antara diriku dan Raja Iblis saat aku dan para Holy Warrior dulu menghadapinya. Sulit menyampaikan semuanya secara ringkas, tapi setidaknya semua orang tampak menanggapinya dengan serius.

Catherine dan Jacob mendengarkan dengan sangat saksama, mungkin karena mereka sudah lama bekerja dekat dengan para Devil seperti Billy dan Idïa. Cukup tak terduga, tapi juga sebenarnya masuk akal.

Bagaimanapun juga, mereka manusia — dan terlebih lagi dua anggota Six Braves. Mereka jelas bukan tipe orang yang akan berpihak pada Devilkin seperti Billy. Reaksi mereka terhadap semua informasi baru ini justru sesuai dengan yang kuharapkan.

Namun, setelah semua pembicaraan berat itu… yang datang setelahnya justru terasa lebih berat lagi.


“Haaah…”


Aku menghela napas begitu kembali ke kamarku. Pochi sedikit membuka matanya, tampak penasaran.


“Hmm…? Ada apa, Masterrr?”

“Ah, biasa… cuma berkelahi larut malam sama Sir Charlie dan Sir Argent. Capek banget…”

“Aww, itu kereeeennn~~”


Lalu Pochi menutup matanya lagi.

…Itu doang reaksinya? Serius? Menurutku itu kejadian yang cukup besar, tahu.


◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆


Keesokan paginya, sebelum pergi ke kelas sihir, kami mampir sebentar ke Adventurers’ Guild.


“APAAAAAA!?!? Kamu bertarung melawan Sir Charlie dan Sir Argent!? Kenapa kamu nggak bilang, Master!?”


Oh, SEKARANG reaksinya muncul.

Waktu bangun tidur tadi, aku ceritakan lagi, dengan asumsi dia memang tidak ingat pembicaraan semalam. Sepertinya keputusan itu tepat.


“Terus!? Kamu kalah dari mereka gimana, Master!?”

“Apa-apaan!? Aku MENANG, sialan!”

“Kamu… MENAAANG!?”


Astaga, suara falsetto itu…

Sesaat aku benar-benar mengira suaranya bakal memecahkan jendela Guild.


“K-k-k-kamu siapa!?”

“Aku ya aku! Kamu kira aku palsu apa!?”

“Kamu MENAAANG!?”


Lagi-lagi falsetto.

Saking kerasnya, semua petualang di sekitar kami sampai menutup telinga. Aku langsung menutup mulut Pochi dan meminta maaf ke semua orang atas namanya.


“Kenapa kamu nggak manggil aku buat pertemuan sepenting itu!?”

“Aku MANGGIL! Berkali-kali! Pakai Telepathic Call! Tapi kamu terlalu mabuk buat nerima panggilanku!”

“Aww, tapi rasanya ENAK banget! Cuma perutku agak dingin sih!”

“Gila… itu satu-satunya hal dari kamu yang patut dikagumi!”

“Aww, makasih, Master!”

“Iya, sayangnya!”

“Aww, karena kamu muji aku sebanyak ini, aku maafin kamu kali ini, Master!”


Astaga.

Familiar ini sudah kebablasan. Dia sudah tidak bisa lagi mendeteksi sarkasme — yang dia tangkap cuma kata “dikagumi”.

Aku pun membungkam Pochi dengan mengepalkan tanganku ke mulutnya, sambil mulai memikirkan kelas hari ini. Sejujurnya, aku sudah menantikannya, karena pengajarnya adalah Minerva.

Dia perempuan dengan segudang pencapaian — penemu berbagai penerapan baru Swift Magic, magecraft, bahkan alkimia.

…Ilmu apa lagi yang akan dia bagikan ke kami semua hari ini? Nah, itu yang benar-benar bikin aku penasaran.

Sebenarnya aku sudah beberapa kali ikut kelasnya, tapi semuanya tentang Swift Magic. Topik itu sudah selesai kemarin, dan dia bilang hari ini akan masuk materi baru.


◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆


“Selamat pagi, Profesor Asley!”

“Selamat pagi, Profesor Asley.”


Begitu aku duduk di kursi yang disediakan untukku, dua orang datang menyapaku.


“Selamat pagi, Anri dan Claris. Kalian sebenarnya nggak perlu manggil aku profesor kalau aku nggak lagi ngajar.”


Mereka adalah teman pertama yang Lina dapatkan saat masuk Magic University.

Hampir tidak berubah — Anri masih seceria dulu dengan tubuh mungilnya, dan Claris tetap sama anggunnya, malah terasa lebih tenang dari sebelumnya.

Keduanya sebelumnya bekerja sebagai pejabat administratif di War Demon Nation, tapi langsung datang ke sini begitu Lina menghubungi mereka, begitu yang kudengar.


“Ahaha! Rasanya nggak sopan aja, soalnya kamu jauh lebih tua! Lagian aku juga dosen di sini, jadi santai aja!”

“Tolong abaikan dia. Sebenarnya tadi malam dia stres sendiri soal harus manggil kamu apa, tapi sepertinya dia nggak pernah bisa ambil keputusan akhir—”

“Apa—!? A-a-a-apa yang kamu bicarakan, Claris!?”


Anri langsung menutup mulut Claris dengan kedua tangannya.

Di sampingku, Pochi entah kenapa malah tersenyum lebar, sementara wajah Anri memerah. Pemandangan yang cukup menghibur.

Dan sepertinya Claris juga menikmatinya, terlihat dari sorot matanya. Kalau soal gosip, dia memang lawan yang berbahaya, harus kuakui.

—Ah, ini benar-benar mengingatkanku pada masa sekolah dulu. Waktu itu aku memang hanya berada di sana paling lama beberapa bulan saja, tapi aku punya kenangan indah dari masa singkat itu. Dibandingkan dengan umur panjangku, waktu itu hanyalah setetes air di lautan. Namun meski begitu, ia menyimpan beberapa momen paling nostalgis bagiku, padahal belum lama berlalu.

Saat aku sedang tenggelam dalam pikiran itu, Lina datang paling terakhir dan duduk di sebelahku.


“Selamat pagi!”

“Selamat pagi, Lina. Hampir terlambat hari ini. Ada masalah?”


Claris, yang masih tampak menikmati situasi ini — dan akhirnya mulutnya dilepas dari cengkeraman Anri — langsung berkata,


“Sebenarnya, dia sedang belajar teknik riasan baru. Pagi ini dia terlalu asyik membaca buku tentang budaya kosmetik T’oued—”

“Berhenti, Claris!!”


Kali ini, tangan Lina yang menutup mulut Claris… tapi meski begitu, Claris masih bergumam pelan.

Heh, hal seperti ini sering terjadi dulu juga.


“Kamu harus dengar ini, Profesor Asley! Tadi Claris itu benar-benar MELONCAT-loncat ke sini sambil bersenandung menyebut namamu pakai nada lagu entah dari mana!”


Dan begitu saja, Anri membocorkan rahasia Claris. Aku harus bereaksi seperti apa dengan informasi itu?


“Whoa, Anri! Kamu harus ceritain lebih banyak!”


Hah? Lina juga tertarik gosip begini?

Aneh rasanya, justru hal sepele seperti ini membuat Lina terlihat seperti gadis normal di mataku. Padahal kemampuannya luar biasa, prestasinya segudang. Tapi sepertinya semua itu memang tidak banyak memengaruhi kepribadiannya.


“Aku memang melakukan itu. Ada masalah?”

“”HWAH–!?””


Meski sedikit tersipu, reaksi Claris jauh lebih tenang dibanding yang lain. Sekarang masalahnya… aku harus bereaksi bagaimana?

Di sampingku, Pochi mati-matian menahan tawa… dan sejauh ini dia gagal total. Rasanya dia bisa meledak kapan saja.

Saat aku masih kebingungan memikirkan apa yang harus kukatakan, seseorang datang menyelamatkanku — tanpa sengaja dan sangat tiba-tiba.


“Hehehe… kamu tampaknya cukup populer, Profesor Asley.”


Minerva berkata dari atas podium.

Tunggu, sejak kapan dia ada di sana?

Aku seharusnya bisa merasakan kehadirannya, tapi tidak — seolah-olah dia sepenuhnya lolos dari persepsiku.

Yang lain juga tampak terkejut dengan kemunculan Minerva. Bahkan Irene, yang kulihat dari sudut mataku, tampak kehilangan kata-kata.

Seluruh peserta kelas berdiri dan memberi hormat padanya, yang hari ini akan bertindak sebagai pengajar.

Minerva mengangguk ke arah kami dan melambaikan tangannya, memberi isyarat agar kami duduk kembali.


“Baiklah, mari kita mulai.”

“”Ya, Bu!””


Suara semua orang menggema di seluruh ruangan, menandai dimulainya kelas secara resmi.


“Banyak dari kalian pasti terkejut dengan kemunculanku yang tampaknya tiba-tiba. Hari ini, aku ingin menjelaskan bagaimana hal itu bisa dilakukan.”


Oh, jadi dia memperlihatkan hasil akhirnya dulu sebelum mengajarkan tekniknya. Cara yang bagus untuk menarik minat semua orang. Dan jelas, ini juga membuat proses belajar jadi lebih efektif.


“Baik… Sir Asley, silakan berdiri di depanku.”

“…Baik, Bu.”


Aku berjalan mendekati Minerva, dan dia bergeser ke sampingku agar para peserta bisa melihat kami berdua dengan jelas.


“Kali ini, aku akan menggunakan teknik ini hanya pada Sir Asley. Perhatikan baik-baik, semuanya. Dan Sir Asley, usahakan jangan sampai kehilangan jejakku.”


Kepercayaan dirinya luar biasa — sampai-sampai dia mengatakannya terang-terangan dan menjadikanku subjek demonstrasi. Semua orang pasti menyadari hal itu, terlihat dari betapa fokusnya mereka memperhatikan setiap gerakannya.

Aku pun melakukan hal yang sama… atau setidaknya, aku pikir begitu.


“Hah?”


Tiba-tiba aku mendengar suara seorang peserta kelas, dan di saat yang sama, Minerva menghilang dari pandanganku.

Rasanya seperti dia menggunakan Invisible Illusion… tapi sebenarnya dia tidak menjadi tak terlihat sama sekali.


“Ke sini, Sir Asley.”


Aku mendengar suaranya dari belakangku.

Begitu berbalik, aku melihat wajahnya tepat di sana, dengan senyum misterius khasnya terukir di bibirnya.

Post a Comment for "The Principle of a Philosopher Chapter 365"