Grimoire Dorothy Chapter 390
Chapter 390: Humidity
Laut Penaklukan, di atas kapal Shimmering Pearl.
Di bawah langit malam yang tertutup awan gelap, kapal pesiar raksasa itu
berlayar perlahan menuju cakrawala yang tak diketahui. Lambung baja membelah
ombak, meninggalkan jejak putih panjang di belakangnya.
Di dalam sebuah kabin mewah, Dorothy duduk sendirian di atas ranjang putih
yang empuk. Sebuah peta dunia berukuran besar terbentang di hadapannya. Alis
Dorothy sedikit berkerut saat ia meneliti peta itu dengan saksama.
Dengan banyaknya waktu luang selama pelayaran, Dorothy berusaha menyibukkan
diri. Ia mencoba memperkirakan posisi Shimmering Pearl di peta, hanya
mengandalkan perhitungan navigasi di era ini, tanpa bantuan sistem penentuan
posisi satelit. Namun, hasilnya justru membuatnya agak terkejut.
“Dilihat dari rute pelayaran Shimmering Pearl, kapal ini seharusnya
berangkat dari Basse Port di barat laut Falano, berlayar ke arah barat, lalu
berbelok ke selatan, mengitari Far Sight Cape di negara semenanjung Castia,
sebelum memasuki Laut Penaklukan. Dari sana, kapal mestinya bergerak ke
timur menuju Ivengard.”
“Dengan kecepatan rata-rata Shimmering Pearl, dua hari penuh sudah berlalu.
Seharusnya kapal ini sudah melewati Far Sight Cape dan masuk ke Laut
Penaklukan. Begitu berada di Laut Penaklukan, arah pelayaran seharusnya ke
timur menuju Ivengard, bukan terus ke selatan.”
Duduk bersila di atas ranjang, Dorothy merenung. Malam di luar terlalu
gelap untuk melihat bintang maupun bulan, sehingga hampir tak ada penanda
navigasi visual. Namun, Dorothy masih bisa merasakan medan magnet planet
ini. Ia yakin Shimmering Pearl saat ini sedang bergerak ke arah selatan,
bukan ke timur seperti yang seharusnya.
“Menarik…”
Menyadari kejanggalan itu, Dorothy bergumam pelan sambil mengelus dagunya.
Ia mulai memikirkan dengan serius penyebab anomali ini.
“Haluan Shimmering Pearl sekarang tidak sesuai dengan perhitunganku… Ada
tiga kemungkinan. Pertama, perhitunganku yang salah. Kedua, kapal ini tidak
berlayar dengan kecepatan jelajah normal dan bergerak lebih lambat, sehingga
masih menyusuri pantai barat Castia dan belum mengitari Far Sight Cape untuk
masuk ke Laut Penaklukan. Ketiga, kapal ini tanpa disadari telah menyimpang
dari jalur yang seharusnya.”
Dorothy menyusun ketiga kemungkinan itu dalam benaknya. Ia cukup yakin
dengan perhitungannya sendiri, dan setelah memeriksanya sekali lagi, ia
langsung menyingkirkan kemungkinan pertama. Tersisa dua opsi: kapal bergerak
lebih lambat dari perkiraan, atau kapal telah keluar jalur.
Kedua kemungkinan itu sama-sama menunjuk pada adanya masalah di pihak kru
kapal. Dengan tekad untuk menyelidiki, Dorothy memutuskan mencari tahu apa
yang sebenarnya terjadi.
Setelah mengambil keputusan, Dorothy mengenakan sepatunya dan melangkah
melintasi karpet kabin. Ia membuka pintu, keluar, lalu menyusuri
lorong-lorong kapal hingga menemukan sebuah sudut yang sepi. Di sana, ia
mengeluarkan kotak sihirnya, meletakkannya di lantai, lalu membukanya.
Dengan kemampuannya, ia mulai memanipulasi isi di dalamnya.
Tak lama kemudian, tak terhitung marionette mayat berukuran
kecil—laba-laba, cicak, tikus, nyamuk, dan berbagai makhluk lain—merayap dan
terbang keluar dari kotak itu. Di bawah kendali Dorothy, mereka menyebar ke
segala arah.
Setelah melepaskan kawanan marionette kecil itu untuk pengintaian, Dorothy
kembali ke kabinnya, menutup pintu, lalu duduk di sofa. Ia mulai menggunakan
marionette-marionette kecil itu untuk memantau seluruh Shimmering
Pearl.
Di bawah kendalinya, marionette kecil menyusup ke dalam sistem ventilasi
kapal, memanfaatkan berbagai indera mereka untuk mengamati keadaan di
seluruh penjuru kapal. Di aula dansa, band masih memainkan musik lembut,
sementara para pria dan wanita menari di lantai yang luas. Di kasino,
berbagai meja judi ramai beroperasi, dengan beberapa pria kehilangan kendali
dan berteriak frustrasi. Para pelayan lalu-lalang sibuk melayani beragam
kebutuhan penumpang. Di sudut-sudut sepi, para bangsawati berpakaian elegan
berbisik dan tertawa bersama pria-pria muda tampan, jauh dari pengawasan
suami mereka.
Beragam pemandangan di atas Shimmering Pearl membanjiri pikiran Dorothy.
Mengabaikan detail-detail remeh itu, ia mengarahkan banyak marionette kecil
menuju anjungan kapal untuk mengamati situasi di sana.
Beberapa saat kemudian, Dorothy memetakan sistem ventilasi kapal dan dengan
cepat menemukan jalur menuju bridge. Ia mengarahkan marionette kecilnya
menyusuri lorong ventilasi hingga mencapai bridge, lalu mengamati para awak
kapal melalui celah-celah ventilasi.
Di dalam bridge, ada tiga atau empat pelaut. Mereka tidak sedang
mengemudikan kapal, melainkan beristirahat sambil berjaga. Kemudi kapal
terkunci pada posisinya, tanpa siapa pun yang memegangnya.
Melalui ventilasi, Dorothy memperhatikan mereka. Para pelaut itu tampak
anehnya pendiam. Percakapan mereka minim, hanya keluhan-keluhan sepele yang
dipertukarkan. Dorothy tetap sabar, menunggu informasi yang berguna.
Akhirnya, setelah lebih dari setengah jam, ia mendengar sesuatu yang
penting. Salah satu pelaut menatap laut gelap di luar dan berbicara.
“Rutenya sudah benar, kan? Aku tidak mau dimarahi Mr. Costa lagi.”
“Aman. Mr. Costa baru saja mengecek. Kita ada di jalur yang benar,” jawab
pelaut lain. Pelaut pertama terlihat terkejut.
“Mr. Costa ke sini? Kapan? Sekarang dia di mana?”
“Sekitar satu jam lalu. Dia datang ke bridge. Sepertinya sekarang sudah
kembali ke kabin kapten.”
“Oh…”
Setelah percakapan singkat itu, suasana di bridge kembali sunyi.
Di kabinnya sendiri, Dorothy mengangguk pelan.
“Costa? Bukankah itu nama kapten Shimmering Pearl? Jadi orang yang
menetapkan rute saat ini… adalah kapten kapal?”
Dari percakapan tadi, Dorothy menyadari letak inti masalahnya. Ia segera
mulai mencari lokasi kabin kapten.
Beruntung, di dinding bridge tergantung peta penampang detail kapal. Dengan
bantuan peta itu, Dorothy dengan cepat menemukan posisi kabin kapten dan
mengarahkan marionette kecilnya melalui sistem ventilasi menuju ke
sana.
Kabin kapten tidak jauh dari bridge, terletak di superstruktur bagian atas
kapal. Tidak butuh waktu lama bagi marionette Dorothy untuk mencapai lorong
ventilasi yang mengarah ke kabin tersebut. Namun saat mendekat, Dorothy
merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Setelah maju ke White Ash, kemampuan Dorothy dalam mengendalikan marionette
berukuran kecil meningkat drastis. Ia kini bisa memanipulasi marionette
sekecil nyamuk. Di antara marionette yang ia kirim melalui ventilasi,
marionette berbentuk nyamuk berada di barisan terdepan.
Saat nyamuk-nyamuk itu semakin dekat ke kabin kapten, Dorothy merasakan
kejanggalan. Sayap mereka terasa semakin berat.
Benar. Dengan persepsinya yang sangat presisi, Dorothy menyadari bahwa
sayap para nyamuk itu mulai tertutup lapisan tipis butiran air.
“Kelembapan di sini lebih tinggi dibandingkan tempat lain…”
Menyadari anomali tersebut, Dorothy segera menghentikan semua marionette
yang bergerak menuju kabin kapten dan mulai mengamati dengan cermat. Melalui
marionette laba-laba yang merayap di dinding koridor di luar ventilasi, ia
mengawasi pintu kabin kapten yang terkunci. Setelah beberapa saat dan tidak
melihat pergerakan apa pun, ia akhirnya menghela napas lega.
“Syukurlah… Sepertinya tidak ada alarm yang terpicu. Aku belum
ketahuan…”
Dorothy pernah beberapa kali terungkap saat misi pengintaian. Entah karena
menginjak benang laba-laba mistis, terdeteksi oleh persepsi spiritual, atau
bersentuhan dengan kabut darah. Sejak itu, ia mengembangkan kebiasaan untuk
sangat berhati-hati saat menggunakan marionette untuk mengintai. Bahkan
anomali sekecil peningkatan kelembapan pun cukup membuatnya waspada
penuh.
Setelah menyadari peningkatan kelembapan di sekitar kabin kapten, Dorothy
tidak langsung maju. Sebaliknya, ia melakukan percobaan. Ia mengirim lebih
banyak marionette nyamuk dari berbagai arah dan jalur berbeda untuk
mendekati kabin. Hasilnya sesuai dugaan. Begitu cukup dekat, sayap mereka
mulai terasa berat.
Memang, udara di atas kapal secara alami lebih lembap dibandingkan di
darat. Namun hasil pengintaian Dorothy menunjukkan bahwa kelembapan di
sekitar kabin kapten jauh lebih tinggi dibanding area lain. Serangga sangat
sensitif terhadap perubahan kelembapan, dan Dorothy, yang mampu
mengendalikan marionette serangga, dapat merasakan perbedaan itu dengan
sangat jelas.
Kelembapan di sekitar kabin kapten lebih tinggi dibanding bagian kapal
lainnya, padahal lokasi kabin itu sendiri tidak termasuk area yang rawan
lembap. Peningkatan kelembapan yang tidak wajar ini jelas mengisyaratkan
adanya pengaruh mistis.
“Heh… ternyata bahkan saat liburan pun masalah tetap datang…”
Menghadapi fenomena mistis lain di tengah perjalanan, Dorothy menghela
napas pelan, sedikit kesal, lalu segera menenangkan diri. Ia mulai
menganalisis situasi dengan kepala dingin.
“Haluan kapal menyimpang, dan kapten kemungkinan terlibat dalam urusan
mistisisme. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi supaya bisa
tenang. Tapi kelembapan aneh ini… aku tidak bisa sembarangan mendekati kabin
kapten.”
Dengan sedikit mengernyit, Dorothy terus berpikir. Semua marionette
miliknya saat ini beroperasi dengan spiritual vision untuk menghindari
deteksi alat seperti Illuminating Beacon. Dari pengamatannya, meskipun
kelembapan di sekitar kabin kapten meningkat secara tidak normal, tidak ada
fenomena spiritual yang menyertainya.
Artinya, uap air itu sepenuhnya biasa dan tidak mengandung kekuatan mistis.
Ini bukan seperti benang laba-laba milik Face Spider atau kabut darah milik
Priest of Fangs. Marionette miliknya tidak akan terdeteksi meskipun
bersentuhan langsung dengannya.
Namun… walaupun uap airnya biasa, konsentrasinya yang berlebihan tetap
mencurigakan. Untuk mengetahui tujuannya, Dorothy memutuskan melakukan
pengujian.
Pertama, Dorothy meninggalkan kabinnya dan mencari sudut terpencil untuk
melepaskan sebuah marionette humanoid yang mengenakan pakaian formal. Ia
mengendalikan marionette itu menyusuri kapal hingga tiba di bar.
Saat marionette itu mendorong pintu bar, pemandangan yang agak bising
langsung terlihat. Para penumpang berkumpul dalam kelompok kecil, minum dan
berjudi. Beberapa yang sudah terlalu mabuk tergeletak di sudut ruangan,
tertidur pulas.
Dorothy mengarahkan marionettenya mendekati seorang penumpang pria
berjanggut yang pingsan karena mabuk di sudut sepi. Setelah memastikan tak
ada yang memperhatikan, marionette itu mengeluarkan sebuah quill dan dengan
cepat menggambar pentagram terbalik yang dipadukan dengan simbol
cawan—Living Marionette Mark—di telapak tangan pria itu.
Dorothy menggunakan kemampuan quill untuk mengubah simbol yang digambar
menjadi “common text”, sehingga di mata orang lain hanya tampak seperti
coretan acak. Bagi siapa pun yang melihatnya, tanda misterius itu terlihat
seperti doodle tak berarti, seolah-olah digambar tanpa sadar oleh si
pemabuk.
Setelah memberi tanda secara diam-diam, Dorothy memerintahkan marionettenya
segera meninggalkan bar. Ia kemudian mengaktifkan Living Marionette Mark
untuk mengendalikan pria yang masih tak sadarkan diri itu.
Tubuh pria mabuk itu terhuyung bangkit, bersendawa kecil, meraih sebotol
alkohol, lalu berjalan sempoyongan keluar dari bar.
Dorothy mengarahkan marionette barunya menuju kabin kapten. Ia membuatnya
berjalan oleng, sesekali meneguk alkohol sambil menggumamkan sumpah serapah,
tampak seperti pemabuk biasa yang sedang tersesat mencari kabinnya
sendiri.
Ia membiarkan marionette itu berkeliaran di sekitar kabin kapten, memasuki
area dengan kelembapan tinggi yang tidak wajar. Marionette itu berjalan
mondar-mandir, tubuhnya perlahan mengumpulkan cukup banyak uap air.
Beberapa saat kemudian, marionette kecil milik Dorothy melihat pintu kabin
kapten terbuka. Seorang awak kapal berseragam keluar dengan wajah berkerut,
lalu bergerak cepat melewati beberapa tikungan sebelum akhirnya dengan tepat
menemukan si pemabuk yang berkeliaran di dekat kabin.
“Pak… Ini area istirahat kru, bukan area penumpang. Apa yang kamu lakukan
di sini?”
Seorang kru berbicara dengan nada serius kepada marionette yang mabuk itu.
Si marionette menggelengkan kepala, menatap kru dengan ekspresi bingung,
kata-katanya pelo dan tidak jelas.
“Hah… Kru… Kru apa… Persetan dengan kru! Aku cuma mau balik ke kamarku…
Kamarku di sekitar sini… Tadi masih ada di sini… Entah kenapa malah melayang
pergi…”
Marionette mabuk itu berteriak ke arah kru. Kru tersebut mengernyit karena
bau alkohol yang menyengat, lalu berkata, “Pak, kamu mabuk. Kamu masih ingat
namamu? Kamu di kabin mana?”
“Mabuk? Mabuk apaan! Aku nggak mabuk! Berani-beraninya kamu bilang aku
mabuk?!”
Marionette itu mulai membuat keributan. Kru segera meraih lengannya dan,
dengan kekuatan yang lebih besar, menahan pria bertubuh kekar yang mabuk
itu. Si marionette meronta, tapi sia-sia.
“Pak, kamu sudah sangat mabuk. Mari kita bicara di tempat lain. Tenang
saja, kami akan memastikan identitasmu dan mengantarmu kembali ke
kabin.”
“Lepaskan aku! Bocah tengik, aku nggak mabuk! Aku bisa kembali
sendiri!”
Kru itu pun menggiring marionette mabuk tersebut menjauh dari kabin
kapten.
Melihat kejadian itu, Dorothy berpikir dalam hati.
“Area uap air non-spiritual ini… Kalau dikumpulkan dalam jumlah cukup
banyak, ternyata memang bisa terdeteksi…”
“Jadi, kekuatan mistis seperti apa yang bahkan bisa merasakan uap air alami
biasa dengan tingkat presisi seperti itu?”
Dorothy merenungkan pertanyaan tersebut, dan tak lama kemudian ia sampai
pada sebuah kesimpulan.
Beberapa Beyonder memiliki kemampuan untuk merasakan fenomena alami
non-spiritual sampai batas tertentu. Mereka disebut Elementalist. Misalnya,
Dorothy yang pernah mensimulasikan kemampuan Thunder Summoner, mampu
merasakan pelepasan listrik alami. Jika ada sambaran petir alami di sekitar,
ia bisa memprediksinya lebih dulu.
Kalau begitu… dengan logika yang sama, mungkinkah seorang
Hydromancer—Beyonder elemen air—dapat merasakan akumulasi uap air biasa yang
berlebihan?
Post a Comment for "Grimoire Dorothy Chapter 390"
Post a Comment